Sunday, November 25, 2018

GIVEAWAY: The Life Changing Magic of Tidying (Marie Kondo)

Akhirnya.. Beli lagi domain. Udah hampir setahun hiatus dan domainnya expired. Untuk merayakan kebangkitan saya dari hiatus, saya mau kasih buku ini. Sebelumnya baca review saya tentang buku non fiksi ini ya. Kapan lagi saya ngadain giveaway non fiksi coba. Hihi.

Jadi ceritanya waktu itu saya baca artikel tentang obesistuff. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang senang belanja barang tiap hari. Beli baju paling banter setahun sekali pas hari raya. Beli sepatu juga kalau yang lama sudah rusak saja. Kalau beli sepatu pasti saya beli sneaker  dengan leher panjang. Tapi saya tidak membeli banyak-banyak. Hanya satu. Saya tidak pakai sepatu lain selain sneaker. Dulu waktu kuliah pernah punya pentopel satu karena harus dipake saat upacara. Jadi saat baca artikel-artikel tentang obesistuff saya dengan PeDenya lega, "Ah tenang saya ga kena penyakit  obesistuff."

Setelah baca buku ini saya akhirnya sadar ternyata obesistuff bukan hanya tentang sering belanja banyak aja. Tapi menimbun barang-barang terlalu lama juga termasuk penyakit yang berbahaya.

Barang-barang yang dimaksud adalah barang-barang yang tidak membangkitkan kegembiraan. Saat kita dikelilingi hanya oleh barang-barang yang membangkitkan kegembiraan, tentu logikanya suasana hati kita juga hanya akan diliputi kebahagiaan.

Buku ini mengajarkan saya tentang ilmu ikhlas.. Ya, ikhlas melepaskan barang-barang yang sudah menjalankan peranannya dengan baik di masa lalu. Dan menerima keadaan saya sekarang.

"Mengikhlaskan justru lebih penting daripada menambah." (halaman 169)

Buku ini mengajarkan saya rasa syukur terhadap anugrah yang Allah berikan kepada saya di masa ini. Tempat saya bernaung, pakaian yang melindungi tubuh, buku-buku yang selalu ingin saya baca, dan barang-barang lain yang menunjang kehidupan sementara saya di dunia ini.

"Agar bisa sepenuh hati mensyukuri hal-hal yang paling penting bagi Anda, pertama-tama Anda harus membuang barang-barang yang sudah tidak bermanfaat." (hal 54)

Buku ini mengajarkan saya untuk mengungkapkan terima kasih pada masa lalu dan melepaskannya. Mengungkapkan terima kasih pada masa kini dan merawatnya. Percaya masa depan saya yang akan datang bisa lebih baik.

"Keengganan kita untuk membuang barang tertentu sejatinya hanya berakar pada dua penyebab: keterikatan pada masa lalu atau kecemasan akan masa depan." (halaman 174)

"Ucapkan selamat tinggal dengan khidmat untuk merelakan kepergian benda itu." (halaman 186)

Bukankah luar biasa. Berbenah yang kedengarannya biasa saja ternyata bisa mengandung makna mendalam. Mentafakuri kekurangan diri. Bahagia dengan kesederhanaan.

Saya teringat dengan kisah rasulullah dan para sahabat. Setelah dipikir-pikir lagi, bukankah mereka hanya memiliki jumlah baju yang sangat sedikit TAPI mereka bisa hidup bahagia. Bukankah di rumah mereka hanya ada sangat sedikit barang-barang untuk keperluan sehari-hari TAPI mereka bisa menjadi orang-orang yang paling memaknai kehidupan. Bukankah mereka sebenarnya kaya raya dan bisa punya banyak dirham TAPI mereka memilih hidup yang kian sederhana.

Tapi kalimat TAPI diatas seharusnya diganti menjadi SEHINGGA.

Setelah dipikir-pikir lagi, bukankah mereka hanya memiliki jumlah baju yang sangat sedikit SEHINGGA mereka bisa hidup bahagia. Bukankah di rumah mereka hanya ada sangat sedikit barang-barang untuk keperluan sehari-hari SEHINGGA mereka bisa menjadi orang-orang yang paling memaknai kehidupan. Bukankah mereka sebenarnya kaya raya dan bisa punya banyak dirham SEHINGGA mereka memilih hidup yang kian sederhana.

Buku ini mengingatkan saya pada mereka yang hidup zuhud untuk memperoleh kebahagiaan. Tidak menimbun.  Menyimpan dan merawat barang-barang yang paling membangkitkan kebahagiaan. Barang-barang yang jumlahnya sedikit.

Saya jadi lebih memaknai dan mensyukuri barang-barang yang ada di rumah. Jadi lebih banyak menggunakan majas personifikasi, jadi sering ngomong sama barang-barang seolah-olah mereka hidup.

"Kehidupan menjadi jauh lebih enteng begitu kita tahu bahwa situasi masih bisa berjalan mulus sekalipun kita kekurangan sesuatu." (halaman 180)

Nah di dalam buku ini dijabarkan dengan detail oleh Konmari sensei bagaimana cara memulai berbenah, waktu yang tepat untuk berbenah, urutan kategori barang yang akan dibereskan, cara memilih benda yang akan disimpan dan dibuang, cara membuang, cara menyimpan, dan banyak hal lagi tentang mental berbenah. Pokoknya lengkap sampai hal-hal terkecil tentang berbenah ada di buku ini.

Saya jadi menikmati saat melipat baju setelah membaca buku ini. Padahal dulu malas sekali melipat baju yang baru diangkat dari jemuran.

"Dengan melipat baju, kita bisa mengirit tempat. Akan tetapi, bukan hanya itu satu-satunya manfaat melipat. Keuntungan utamanya adalah kita harus menangani tiap lembar pakaian. Selagi menelusurkan tangan ke atas kain, kita sekaligus menuangkan energi kita ke sana. Dalam bahasa Jepang, menyembuhkan disebut te-ate, yang arti harfiahnya adalah 'menempelkan tangan'. Istilah itu berakar dari praktik pengobatan pramodern, yakni menempelkan tangan ke bagian tubuh yang cedera karena dianggap dapat mempercepat penyembuhan. Kita tahu bahwa sentuhan lembut dari orangtua, entah itu menggandeng tangan, mengelus rambut, atau memeluk bisa menenangkan anak-anak. Sama seperti itu, pijatan pelan, tetapi mantap dari tangan manusia lebih ampuh untuk mengendurkan otot-otot kaku ketimbang pukulan bertubi-tubi dari mesin pijat. Energi yang mengalir dari tangan manusia ke kulit kita seolah dapat menyembuhkan jiwa dan raga.

Pakaian juga sama. Ketika kita memegangi pakaian dan melipatnya dengan rapi, saya meyakini bahwa kita sekaligus mengalirkan energi yang akan berdampak positif terhadap pakaian. Apabila pakaian dilipat rapi, kainnya menjadi kencang dan tidak kusut sehingga lebih kuat dan terlihat menarik. Pakaian yang semula dilipat rapi memiliki daya tahan dan kemilau yang serta merta kelihatan, mudah sekali dibedakan dari pakaian yang dijejalkan asal saja ke dalam laci. Melipat lebih dari sekedar tindakan untuk meringkaskan pakaian supaya mudah disimpan. Melipat adalah ungkapan kepedulian, ekspresi kasih sayang dan penghargaan kita terhadap pakaian yang telah menyokong hidup kita. Oleh sebab itu, kita mesti melipat dengan sepenuh hati sambil berterima kasih pada pakaian yang telah melindungi raga kita. (halaman 65)

Saya tertarik dengan buku ini karena metode Konmari ini sudah terkenal bisa membuat rumah rapi dan tidak acak-acakan lagi. Yang terpenting metode ini bisa membuat kita tidak perlu berbenah setiap hari. Hanya satu kali. Selanjutnya adalah mempertahankan kerapihan itu sendiri.

"Kita tidak bisa mengubah kebiasaan jika cara pikir kita belum berubah" (halaman 7)

"Berbenah adalah sarana, bukan tujuan." (halaman 14)

Kalau berbenah tiap hari, energi kita habis cuman buat ngurusin rumah aja kan. Tapi tentu saja Ada banyak passion lain yang ingin dilakukan. Kita bisa melakukan banyak hal lain dengan rumah dalam keadaan tetap rapi tanpa beres-beres tiap hari. Bukankah itu menyenangkan.

"Berbenah adalah kegiatan istimewa. Jangan melakukannya setiap hari." (halaman 21)

Seneng banget sama kutipan ini. Tidak perlu berbenah tiap hari tapi rumah selalu rapi. Menakjubkan. Percayalah itu bukan hal yang mustahil. Saya sudah membuktikannya.

Cocok sekali dengan saya yang pemalas. Karena saya ingin rumah rapi tapi tidak mau beres-beres setiap hari. Ada yang seperti saya? Haha.

Jadi untuk para suami, please kalau ga bisa bantuin istrinya beres-beres tolong jangan berkomentar yang menyebalkan seperti "Rumah kayak ga ada orangnya" atau pertanyaan retorika seperti "Memangnya betah ya tinggal di rumah kayak kapal pecah gini?". Please, itu sama sekali tidak membantu. Kalau memang sangat sibuk di dunia nyata ataupun maya sampai gak sempet bantuin istrinya beres-beres setidaknya berikan semangat padanya dan belikan buku ini. Hahaha.

Begitupun dengan ibu yang kesal dengan anaknya yang selalu acak-acakan. Mungkin bisa diajarkan metode ini.

"Hasrat untuk menegur orang lain karena tidak rapi biasanya merupakan pertanda bahwa Anda melalaikan kerapian ruang pribadi Anda sendiri." (halaman 46)

Jadi sebetulnya kalau kita sering mengomeli orang lain karena tidak rapi, sebenarnya kita sendiri yang belum rapi. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini baca saja bukunya ya. Hehe.

Untuk waktu berbenah menggunakan metode ini memang cukup membuat saya tercengang di awal.

"Berdasarkan pengalaman saya dengan klien perseorangan, 'secepat-cepatnya' berarti sekitar setengah tahun. Mungkin kesannya lama, tetapi enam bulan saja dari seumur hidup Anda tidaklah lama. Begitu proses tersebut rampung dan Anda mencicipi sendiri seperti apa rasanya kerapian yang sempurna, Anda akan terbebas selamanya dari asumsi keliru bahwa Anda tidak piawai berbebah." (halaman 27)

Saat sampai disini, reaksi saya:
"Whaaaat?! Enam bulan?! Lama amat."

Tapi setelah saya mempraktekkan.. Barulah saya memahaminya. Rumah kontrakan saya saat ini memang belum rampung rapi sepenuhnya. Harus saya akui, berbenah dengan metode ini membutuhkan pemikiran dan tenaga yang cukup ekstra. Walaupun seolah sangat sederhana, hanya menentukan tempat dimana barang-barang akan disimpan.. Hanya itu..

Tapi kenyataannya tidak semudah itu.. Terutama saat memutuskan membuang. Saya pribadi merasa mudah menentukan mana barang yang membuat saya bahagia dan mana yang tidak.

Tapiiii.. Saya kan sekarang sudah tidak hidup sendiri lagi. Sekarang ada juga barang-barang suami dan anak saya. Dulu sebelum menikah ada ibu, ayah, dan adik saya. Tapi saya bebas melakukan apa saja dengan kamar saya dan barang-barang di dalamnya.

Sekarang tanggung jawab saya kan bukan hanya kamar saya saja (lebih tepat istilahnya kamar kami) tapi seluruh ruangan di tempat tinggal kami. Dari mulai ruang tamu/keluarga, kamar, dapur, serta kamar mandi. Dan saya melakukan kesalahan fatal yaitu saya melakukan berbenah semenjak membaca halaman pertama. Seharusnya saya berbenah setelah menyelesaikan buku ini sehingga tidak melewatkan hal terpenting.

"Jangan perkenankan keluarga anda melihat" (halaman 39)

Dalam bahasan point tersebut Konmari sensei menceritakan salah satu kliennya yang gagal menyingkirkan barang-barang yang sudah tidak diperlukan. Kedatangan ibu klien yang tiba-tiba dan melihat gunungan sampah di dekat pintu.. Akhirnya barang-barang klien diambil oleh ibunya..

"Jangan perkenankan keluarga Anda melihat apapun yang ada di sini. Kalau bisa, keluarkan sendiri kantong-kantong berisi sampah ini. Tidak ada perlunya memberi tahu keluarga mengenai apa-apa saja yang Anda buang atau sumbangkan."

"Orangtua adakalanya sangat waswas melihat barang-barang yang dibuang anaknya. Banyaknya tumpukan barang yang akan dibuang menjadikan para orangtua tertekan, takut kalau-kalau si anak tidak sanggup bertahan hidup dengan barang-barangnya yang masih tersisa." (halaman 40)

Kami tinggal terpisah dengan orangtua. Tapi saya sempat menjadi gila dan perang dingin dengan suami karena memberitahu suami saya akan membuang bagian sepeda Hawnan yang sudah dipreteli. Saya belum sempat membaca halaman ini saat itu.

Sudah lama sepeda bayi Hawnan kami bongkar. Kami lepas penutup atasnya, tempat sandaran kakinya, keranjang belakangnya, dan pengaman perutnya sehingga Hawnan bisa menggunakan sepeda itu seperti anak-anak seusianya. Dia bukan bayi lagi. Ya hemat lah, ga usah beli sepeda lagi.

Tapi bagian-bagian yang kami lepas juga sudah lama teronggok begitu saja di pojok lantai kamar. Berdebu, dan lantai dibawahnya jadi tidak terpel.

Suami saya langsung melarang saya membuangnya dengan alasan bisa dipasangkan lagi untuk adiknya Hawnan kelak. Iya sih hemat. Tapi kan itu masih bertahun-tahun yang akan datang. Dan selama bertahun-tahun itu sparepartnya harus teronggok tidak bermanfaat dan memenuhi ruangan. Saya sudah coba untuk mendaur ulangnya jadi sesuatu yang berguna. Tapi bentuknya yang seperti itu malah mengganggu pemandangan. Selama satu bulan saya merasa tertekan dengan benda-benda itu sampai akhirnya saya menangis-nangis sendiri, kemudian tertawa-tawa sendiri. Menangis lagi tertawa lagi.

Suami saya ketakutan melihat saya yang seperti itu. Katanya dia baru pertama kali melihat saya yang seperti itu. Dia menyarankan saya untuk diruqyah atau ke psikolog. Ya ampun, apa saya sudah jadi gila? Dia mengambil sparepart itu dari atas lantai dan memindahkannya ke atas tutup keranjang yang dalamnya sudah penuh terisi barang. Tapi saya malah menangis lagi, dan tertawa lagi melihat tumpukan barang-barang itu.

Kami bertengkar hanya gara-gara sparepart sepeda bayi coba? Menggelikan. Tapi setelah dua bulan berlalu saya buang juga, dan dia sama sekali tidak menyadari keberadaannya. -_-"


Bagaimanapun saya bersyukur bisa membujuknya untuk mengurangi bajunya. Awalnya dia menolak dan bilang semua bajunya masih dipakai. Tapi saya tau ada beberapa yang sudah tidak dipakai. Yang terpenting lemarinya muat, karena selama ini lemarinya sudah tidak bisa menampung baju-bajunya sampai banyak baju yang disimpan di luar lemari. Walaupun setelah dipisahkan ke tas untuk disumbangkan dia masih berubah pikiran dan mengambil kembali beberapa bajunya dari tas itu, saya bersyukur sudah ada yang berkurang. 

Lalu dia juga sudah berhenti menyimpan anak-anak ayamnya di atas kloset. Oh, benar-benar melegakan setelah berbulan-bulan akhirnya kamar mandi kembali wangi. Hehe. 

Kami banyak berkompromi saat saya melakukan metode ini. Dan saya sudah tidak terlalu stress karena bisa mencoba metode ini dengan cukup lancar. 

"Salah satu keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan." (halaman 171)

Ya, saya jadi percaya diri mengemukakan pendapat saya kepada suami. Biasanya dia keukeuh, kalau keputusan ada di tangannya karena dia kepala keluarga. Tapi sekarang saya lebih percaya diri untuk bisa mengubah keputusannya yang membuat saya terganggu dan tidak nyaman. 

Ya saya tidak melarang dia untuk memelihara ayam. Saya juga tidak suka dilarang-larang memelihara tarantula. Tapi setidaknya ayamnya tidak ditaruh di dalam rumah. Dia menyetujui menyimpan anak ayam dengan induknya di kandang di luar rumah. Kalau tarantula sih sebesar-besarnya ukuranya tidak terlalu memakan tempat. Dan yang terpenting: tidak bau. Hihihi. 

Buku ini juga membuat saya lebih sehat dan santai. 

"Ketika kita mengurangi barang yang kita miliki dan men'detoks' rumah, raga kita seolah turut terdetoksifikasi." (halaman 186)

"Saya tahu mengklaim bahwa berat badan turun atau kulit lebih mulus sesudah berbenah terkesan seperti iklan palsu, tetapi saya tidak bohong. Saya telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa penampilan mereka berubah ketika kamar sudah dirapikan. Badan mereka lebih ramping, kulit mereka lebih cerah, dan mata mereka lebih berbinar-binar." (halaman 187)

Saya juga merasakannya. Mungkin karena berbenah menguras pikiran dan tenaga, lebih banyak kalori yang saya keluarkan. Pinggang saya jadi terasa lebih ramping, leher saya juga terbentuk kembali.

Setelahnya saya jadi merasa punya lebih banyak waktu. Karena melihat rumah yang rapi, saya merasa bisa melakukan hal-hal yang lebih santai. Saya bisa maskeran dan luluran di rumah. Biasanya ga kepikiran karena saat melihat rumah berantakan rasanya banyak yang harus dikerjakan. 

Saya bisa leluasa bermain bersama anak tanpa harus khawatir akan berantakan lagi. Karena setiap mainannya sudah punya tempat tinggal untuk kembali. Dia sudah bisa mengembalikan mainannya ke tempatnya semula. 

Saya jadi merasa bahagia tinggal di dalam rumah. Jadi tidak terlalu sering minta jalan-jalan ke luar. Walaupun mungkin bagi orang lain ukuran rumah kontrakan 3 X 7 meter sempit, tapi bagi saya sekarang terasa sangat luas.

Nah, dulu sebelum nikah saya tuh benar-benar orang yang berantakan. Kamar udah kayak kapal pecah tiap hari. Kasur dipenuhi buku-buku yang berserakan. Dan saya jadi lebih berasa tidur di atas buku daripada di atas kasur. Apalagi kalau pulang les privat jam 9 malem. Jaket, kaos kaki, kerudung, ransel, bahkan helm masih nempel langsung merem di kasur. Paginya otomatis bangun badan kayak ringsek digiles setum.

Pakai manset sebelah-sebelah. Sebelah item, sebelah putih. Kaos kaki juga kadang sebelah ijo sebelah lagi cream. Berdalih pake style harajuku, padahal emang ga tau sebelah lagi ilang dimana. Hahah.

Tapi dulu ga terlalu peduli dengan kondisi kamar yang berantakan. Karena tiap hari bahkan hari minggu saya banyak kegiatan di luar. Dari pagi sampai malam. Rumah hanya tempat singgah untuk tidur.

Setelah nikah dan menghabiskan waktu yang sangat banyak di dalam rumah, barulah terasa efek rumah berantakan dengan tingkat emosi yang tidak terkendali. Apalagi setelah punya anak. Sempat menghibur diri sendiri dengan pernyataan "Wajar rumah berantakan kalau ada anak kecil." Sekarang tidak perlu lagi pernyataan hiburan seperti itu. 

Nah ada lagi yang menarik dari buku ini untuk kamu yang susah move on. Hihi. Iya kamu, da saya mah ga punya mantan. Tapi para abegeh suka nanya ke saya. "Teh, gimana ya caranya biar aku bisa ngelupain si dia?" Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis itu.

Buku ini juga bisa membantu untuk yang gagal move on dari mantan lho. Bwahahaha. Iya seriusan, berbenah membuat kita sadar akan pentingnya masa kini. Jadi sepertinya akan sangat menbantu untuk kamu.  Ini terutama saat kita menyortir "komono" atau kenang-kenangan. 

"Jika Anda menyimpannya karena tidak bisa melupakan mantan pacar, mending barang itu dibuang atau disumbangkan. Kalau Anda bersikukuh menyimpannya, bisa-bisa Anda melewatkan kesempatan untuk menjalin hubungan baru. Yang harus kita hargai baik-baik bukanlah kenangan, melainkan diri kita yang sekarang. Pelajaran inilah yang mesti kita petik saat menyortir kenang-kenangan. Tempat yang kita tinggali saat ini adalah untuk diri kita yang sekarang, bukan diri kita yang ada pada masa lalu." (halaman 111)

Bagi saya pribadi kenangan akan suatu peristiwa yang membuat bahagia ataupun sedih akan tetap diingat walaupun tidak ada barang-barang kenangan yang mengingatkan peristiwa itu. Jadi barang-barang kenangan menurut saya tidak terlalu penting. Selama otak saya masih bekerja dengan baik saya akan mengingatnya (kalau diminta untuk diingat). 

Tapi memang kalau saya melihat suatu benda atau tempat yang mengingatkan pada suatu peristiwa ataupun orang, kenangan itu akan berkelebat begitu saja. Jadi kalau mau melupakan sesuatu yang sedih kenapa harus menyimpan barang-barang yang mengingatkan? Tanpa barang-barang tersebut pun akan tetap teringat kan, tapi setidaknya tidak terlalu sering seperti kalau kita menyimpannya. Lebih baik mengingat hal-hal yang penting saja. Kenangan itu hanya untuk dijadikan pelajaran, bukan untuk mengalihkan perhatian kita dari masa kini dan masa depan. 

Nah saya pribadi lebih berat saat memasuki tahapan berbenah buku. Rasanya sakit banget saat membayangkan harus menyingkirkan buku-buku di rak. Sebetulnya dari dulu saya sangat jarang beli buku dan memilih untuk pinjam di perpustakaan. Modul kuliah juga saya lebih sering pinjem ke temen. Hehe. 

Tapi setelah menikah dan ikut suami ke luar kota. Saya jadi sering beli buku. Kalau pulang kampung pasti nyempetin ke toko buku. Karena di sini jauh ke mana-mana jadi lebih sering beli online. 

Bagaimanapun juga harus saya akui tidak semua buku yang disimpan saya baca ulang. Hanya beberapa saja yang memang saya buka kembali. Betapa malang nasib buku-buku yang tidak dibaca lagi. 

Jadi walaupun saya suka dengan buku ini dan biasanya hanya novel thriller yang saya jadikan sebagai giveaway.. Saya merasa buku ini akan lebih bahagia kalau ada yang membacanya lagi dan bisa membantu orang lain untuk lebih rapi. 

Yang mau buku ini simak syarat-syaratnya ya. 
1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia
2. Follow akun twitter @sinta_legian
3. Share postingan ini dengan hashtag GA #Konmarimethode dan mention ke akun twitter saya
4. Follow blog ini via Google+
5. Jawab pertanyaan di bahwah ini pada komentar dengan menyertakan nama, akun twitter, domisili link share dan jawabanmu

Coba pilih salah satu ruangan di rumahmu, lalu "Berpikirlah secara konkret agar Anda bisa membayangkan secara gamblang bagaimana rasanya menghuni tempat yang tidak berantakan." (halaman 28)

Jadi saya minta untuk memvisualisasikannya. Contohnya saya akan kutip cerita Konmari sensei di halaman 28.

"Seorang klien berusia 20-an tahun menjabarkan bahwa dia mendambakan 'gaya hidup yang lebih feminin'. Dia menghuni kamar acak-acakan seluas tujuh tatami (tujuh tatami kira-kira sama dengan 3 x 4 meter)  yang dilengkapi lemari seruangan dan tiga set rak dengan ukuran berbeda. Tempat tinggal sebesar itu semestinya cukup untuk menyimpan barang-barang, tetapi ke mana pun saya menoleh, saya melihat suasana berantakan di sana sini. 

Lemarinya terlalu penuh sehingga pintunya tidak bisa ditutup, sedangkan pakaian malah meruah dari laci-laci bagaikan isian hamburger. Rel gorden di atas jendela yang menjorok ke luar digelayuti banyak sekali pakaian sampai-sampai tirai tidak lagi dibutuhkan. 

Keranjang dan kantong berisi majalah dan kertas berserakan di lantai dan tempat tidur. Sewaktu klien saya pulang kerja, dia memindahkan barang-barang dari tempat tidurnya ke lantai dan ketika bangun, dia mengembalikan barang-barang ke atas kasur supaya bisa lewat untuk berangkat kerja. Gaya hidupnya saat itu sama sekali tidak bisa disebut "feminin".

"Apa yang Anda maksud dengan 'gaya hidup feminin'?" Tanya saya. Setelah lama berpikir, sang klien lantas menjawab. 

"Pokoknya, sewaktu saya pulang kerja, tidak ada yang berantakan di lantai...dan apartemen saya serapi kamar hotel, tidak terhalangi tumpukan barang di sana sini. Saya menginginkan pelapis tempat tidur merah muda dan lampu putih bergaya antik. Sebelum tidur, saya ingin mandi berendam, menikmati keharuman minyak aromaterapi, dan mendengarkan musik instrumentalia piano atau biola klasik sambil berlatih yoga dan minum teh herbal. Saya lantas bisa tertidur dengan perasaan damai dan lega."

Itu contohnya kamar ya. Jadi boleh pilih ruangan yang lain juga. Misalnya dapur, ruang keluarga, kamar mandi, dll. Yang di bold aja intinya ya. 

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 25 November - 2 Desember 2017 hingga pukul 24:00 WIB. Pengumuman pemenang akan saya beritahukan di blog ini dan akun twitter. Good luck. 

Tuesday, August 15, 2017

Say No To Married (Nurma Ratna Sari)

I'm baaaaaaaack.
Ok, sudah lama saya hiatus. Karena berbagai alasan yang saya buat-buat. Ya begitulah. Harus adaptasi lagi setelah melewati liburan panjang. Untuk memulai kembali hal yang telah lama tidak dilakukan ternyata cukup sulit ya. Jadi alasannya ga berbelit-belit deh. Lagi males nulis. Udah gitu aja.

Kali ini saya memaksakan untuk mulai menulis lagi. Beberapa buku yang sudah ataupun belum saya baca masih tertinggal di Bandung. Jadi saya akan mereview buku lama dulu ya. Buku yang saya dapatkan di Bulan Agustus tahun 2013.

Ini adalah hadiah dari salah satu teman. Anehnya adalah dia memberikan hadiah ini bukan pada saat saya ulang tahun. Tapi saat dia ulang tahun. Haha, aneh ya, yang ulang tahun malah ngasih hadiah.

Jadi waktu itu saya bawa cake kecil pakai lilin gitu ke rumahnya. Surprise ceritanya. Tapi saya ga bawa kado. Heran lah malah saya yang di kasih kado.

Pas di rumah, saya buka bungkusannya. Tambah bingunglah saya dengan buku yang dia berikan. Dia bilang agar saya sedikit memikirkan tentang pernikahan, karena saya terlalu cuek kali ya. 

Teman-teman di kampus kayaknya udah pada tau kalau saya menganggap hubungan laki-laki dan perempuan adalah hal yang tidak penting. Baik itu pacaran atau pernikahan atau apapun itu.

Banyak hal yang "lebih penting" ada dalam otak saya kayak kesibukan-kesibukan yang tiada henti baik itu pekerjaan, organisasi, skripsi, SKRIPSIIII!!! SKRIPSIIIIIII!!!! Ya sebenarnya bukan hanya itu sih yang ada di otak saya saat zaman-zaman itu.

Banyak hal-hal remeh temeh seperti pengen yoyo baru, pengen cube yang beda-beda dimensi, pengen tarantula, pengen ikut kursus ini itu, pengen bikin craft yang lucu-lucu. Tapi ga ada tuh di otak saya pengen nikah. 

Pernah disuruh nulis sama murabbi rencana umur menikah saat pembahasan tentang munakahat. Saya inget waktu itu nulis umur 25 (rencananya umur 24 mau mendarat dulu di planet Mars). Tapi yah, pokoknya dulu menurut saya pernikahan adalah tempat ditutupnya pintu gerbang kebebasan saya meraih keinginan-keinginan yang sekian banyaknya. Dulu saya menganggap: sendiri juga bahagia. Bisa melakukan banyak hal.

Yang bikin saya tambah heran waktu pemberian buku ini hanya sekitar seminggu sejak saya dikasih proposal nikah sama orang yang sekarang jadi suami saya. Did she already know about that?

Yaaaa, kalau pemikiran kamu sama kayak saya atau pemikiran lainnya yang membuat kamu mengundur-undur rencana menikah mungkin tertarik buat baca buku ini. Buat yang ingin menikah ataupun yang sudah menikah juga bagus buat dibaca. 

Judul: Say No to Married
Penulis: Nurma Ratna Sari
Penerbit: Pustaka Rama
Tahun terbit: 2011
Jumlah halaman: 218
Dimensi: 12 cm X 18,8 cm
Harga: Rp 30.000

Judulnya kontradiksi dengan isi bukunya lho. Jadi jangan kaget kalau kamu baca isinya ternyata malah ngomporin kamu buat nikah.

Penulis memberikan latar belakang mengenai perubahan jaman yang ikut merubah pemikiran tentang pernikahan terutama dari sudut pandang wanita karena penulisnya wanita ya. Tapi laki-laki juga bisa kesindir lho baca buku ini.

Seiring perubahan tersebut usia pernikahan bagi wanita bergeser. Walaupun sekarang nikah muda lagi tren, tapi saya sependapat dengan penulis bahwa masih banyak wanita yang berpikir untuk tetap melajang dan tetap tenang sampai usia kepala tiga. Bahkan mungkin berniat untuk tetap sendiri sampai akhir hayat. Ya kalau sudah nyaman dengan kehidupan yang dijalani walaupun sendiri, why not?

Nih ya saya tulisin point-point alasan-alasan melajang dalam buku ini.
1. Kerja, kerja, dan kerja
2. Belum menemukan orang yang tepat
3. Terlalu banyak memilih
4. Belum siapnya faktor ekonomi
5. Idealisme tinggi
6. Terikat dengan studi
7. Trauma
8. Menderita penyakit tertentu.

Penjelasannya baca aja langsung di bukunya ya. Hihi.

"In the opinion of the world,  marriage ends all, as it does in a comedy. The truth is precisely the opposite: it begins all." ~Anne Sophie Swetchine (halaman 51)

Nah, kondisi sendiri setidaknya dapat memberi waktu bagi orang-orang lajang untuk berintrospeksi diri, seperti dalam halaman 54-57 saya kasih tau pointnya aja ya:

1. Saya terlalu agresif
2. Saya terlalu pemalu
3.Saya terlalu fokus pada kekurangan
4. Saya terlalu pemilih
5. Saya selalu menyalahkan keadaan yang tidak mendukung
6. Saya tidak benar-benar ingin berkomitmen
7. Saya selalu terbayang pikiran masa lalu

Alasan melajang dan introspeksinya nyambung ya. Dulu waktu saya lagi baca buku ini alasan saya lebih ke idealisme yang tinggi. Ya jadinya nyaman aja walau ga punya pasangan dan ga ngerasa sendiri ko. Saya merasa banyak yang memperhatikan saya. Ibu, ayah, adik, keluarga, guru-guru, teman-teman. Jadi ya saya ga ngerasa butuh tambahan perhatian lagi. Makanya saya berterima kasih banget lah punya mereka dalam hidup saya. Karena mereka saya bisa enjoy hidup dalam "kesendirian" saat itu. 

Kegiatan yang selalu ada setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik juga membutuhkan perhatian saya. Jadi ya saya ga bisa ngasih perhatian kepada seseorang yang minta perhatian saya di luar kegiatan-kegiatan saya.

Kesendirian melahirkan produktivitas bagi saya. Dan kebebasan untuk fokus karena saya tidak perlu membagi pikiran dengan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
* Apakah si dia sudah makan?
* Si dia sedang apa?
* Kenapa si dia belum menghubungi saya?
* Hari ini di mana bisa ketemuan?
* Dan masih banyak lagi yang lainnya
(halaman 60)

Well, I'm freeeeee
I can do anything I want
I can go wherever I want
Ga juga sih. Dulu tetep aja saya harus melakukan usaha untuk beresin skripsi dan harus pergi bimbingan ke kampus. Haha. -_-"

Ya tapi kan selain itu bisa melakukan dan belajar hal-hal yang saya suka.
Di buku ini dibahas juga tentang orang-orang lajang dan pengendalian seks. Menyeramkan lah bacanya. Apalagi tentang HTI/HTS/TTM. Ada wawancara juga dan parahnya laki-laki lebih suka Hubungan Tanpa Ikatan/Status ini karena bisa melampiaskan setelah itu bisa meninggalkan. Komitmen adalah hal yang ribet bagi mereka orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dari sini pembahasan bukunya mulai akan melenceng dari judul. Harusnya judulnya Say Yes to Married.

Di Bab 3 pembaca disuguhi pertanyaan:
Apa arti pernikahan menurut Anda?
Pernikahan bagi saya:
...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
(halaman 76)

Sampai ada lima baris lho titik-titiknya. Kayaknya isinya harus panjang tuh.
"Perkawinan adalah sebuah perjuangan yang tidak selalu menyenangkan, namun justru dalam perjuangan itu nantinya ditemukan kebahagiaan." (Anonim)
(halaman 75)

Itu kata Anonim ya ga tau siapa, namanya juga Anonim, pokonya bukan jawaban saya. Kalau menurut kamu apa?

Manfaat pernikahan:
* Menghindari seks bebas
* Menikah itu menyempurnakan ibadah
* Untuk menambah dan memperpanjang keturunan atau silsilah
* Mencari teman hidup
* Untuk menunjukkan kasih sayang dan memperhatikan seseorang
* Menghindari omongan miring orang lain
* Saling melengkapi
* Menikah adalah jalan pembuka pintu rezeki
(halaman 83-94)

Ya pokoknya isi buku ini memutar balikan setiap alasan yang kita punya untuk menunda pernikahan. Semua alasan yang saya buat-buat juga di counter sama buku ini.

Sebenarnya setelah nikah kita masih bisa melakukan banyak hal yang kita suka ko. Saya juga ngerasain sih, sebelum nikah memang lebih bebas ke sana ke mari. Tapi setelah nikah dan punya anak energi kita terkuras untuk pekerjaan rumah tangga dan ngurus anak, jadi walaupun sebenarnya ada niat dan waktu untuk ke sana ke mari paling hanya sesekali untuk refreshing saja. Kalau tiap hari ke sana ke mari kerasa lah pasti capenya. Jadi ya otomatis kalau ada waktu luang sekarang lebih sering milih leyeh-leyeh aja di rumah sambil baca buku. Traveling atau kuliner sebulan sekali cukup lah ya kalau buat saya. (padahal may pengennya seminggu sekali, hiaaaa wkwkwk..) Ga tau kalau buat emak-emak yang lain. Tiap orang beda-beda kan.

Terus kalau kita terus beralasan belum siap, kapan siapnya? Ya ini juga yang dulu dikatakan teman saya saat konsultasi kesiapan saya untuk berkomitmen. Sebanyak apapun teori pernikahan yang kita dapatkan dan kita tahu, tetap saja harus praktek. Belajar itu kan sepanjang hayat, dan kerasa sekarang. Dalam pernikahan kita harus terus belajar setiap hari. Banyak hal yang harus dipelajari. Dan seringnya teori itu sepertinya mudah, tapi praktiknya sangaaaaat berat. Terutama mengendalikan ego masing-masing.

Pernah nanya ke suami, kenapa bisa memutuskan untuk siap menikah di usianya yang ke 24. Dia cuman jawab dengan santai, "Mau sekarang atau nanti sama saja. Mending sekarang aja. Biar ntar kalau punya cucu keliatan seperti bapaknya bukan kakeknya." Kurang lebih gitu lah.

Jaman dulu manusia usia belasan sudah pada dinikahin tuh. Sekarang usia segitu disibukkan dengan bangku sekolah. Usia dua puluhan disibukkan dengan kuliah. Terus sibuk kerja. Terus sibuk ini itu. Lupa deh sama usia. Dan tetap berpikir I'm fine alone. Pas kumpulan keluarga bete karena diberondong pertanyaan "Kapan nikah."

Pertanyaan "Kapan?" memang seringnya menyebalkan. Kalau saya sih memang ga ngalamin kebetean dari pertanyaan "Kapan nikah?" Tapi saya dulu serasa pengen terjun ke jurang karena sering ditanyain "Kapan lulus?" Hahahahah. Beneran den pengen ngejitak orang yang nanya kapan lulus ke saya. Tapi berkat keterlambatan kelulusan saya, jadi terhindar dari pertanyaan kapan nikah. Ya iya lah. Kalaupun ada yang nanya, saya tinggal jawab, "Skripsi juga belum." Kenyataannya ga ada yang nanya.

Makanya pas saya nikah sebelum skripsi saya kelar pada shocked. Terutama orang-orang yang kenal deket dengan saya dan tau banget saya kayak gimana. "Sin, kamu masih waras kan?" Paling saya termenung dan memikirkan perjalanan saya ke Planet Mars yang pasti akan tertunda. Skripsi ga dipikirin. -_-"

Ya elah, suami waras mana yang bakalan ngizinin istrinya ke luar atmosfer bumi? Tapi hikmahnya setelah nikah saya bisa lulus kuliah.

Kalau terlalu pemilih sebenarnya nggak juga ya. Pada intinya semua manusia itu sama. Semua manusia menyebalkan. Teman-teman saya suka balik nanya kalau saya mengeluarkan pernyataan itu. "Sin, emang kamu bukan manusia?" Lalu saya akan tatap orang yang bertanya itu dengan tajam. "Sayangnya iya, saya manusia. Kalau mengikuti premisnya berarti saya juga menyebalkan." Efek terlalu banyak baca thriller jadi gini.

Tapi mungkin karena sering baca thriller saya jadi ngerasa bahagia-bahagia aja kali ya. Ya kan kisah di thriller itu penuh tekanan, alur yang menegangkan, kadang juga sad ending. Ada yang pernah mengatakan, jangan terlalu banyak nonton drama cinta korea, nanti ngebayanginnya pernikahan tuh yang romantis-romantisnya aja. Padahal mah... Mungkin bisa juga diubah sedikit, jangan terlalu banyak baca romance, nanti terlalu mengharapkan kisah cinta yang indah-indah. Hihi. Becanda, buat pecinta genre romance teruskanlah, tiap orang punya alasan tersendiri untuk hobi yang disenanginya.

Well, tapi saya juga pernah baca romance. Kisah cinta Muhammad dan Khodijah yang bikin jadi baper. Ga baik juga sih jadi ngebanding-bandingin suami sama Muhammad. Ya saya juga ngaca lah, saya kan bukan Khodijah. Tapi asli, baca kisah cinta orang lain tuh bisa jadi bikin bertanya-tanya. Ko dia sifatnya ga gini sih. Ko dia ga gitu sih. Harus banyak ngerem pertanyaan seperti itu. Jadi saya lebih suka baca thriller, ya membuat saya lebih banyak bersyukur. Kisah saya lebih indah daripada cerita thriller. Kisah saya tidak serumit di thriller. Kisah sederhana yang tokoh utamanya saya sendiri tidak semenyeramkan dan  tidak setragis di thriller.

Kembali pada buku ini, ada hal menarik tentang hubungan pernikahan (yang bahagia) dan kesehatan. Beberapa manfaatnya:
1. Terhindar risiko hipertensi
2. Terhindar penyakit diabetes
3. Tidak merokok dan minum minuman beralkohol
4. Terhindar penyakit jantung
5. Terhindar penyakit stroke
6. Kesehatan mental terpelihara
7. Usia yang panjang

Tapi itu bagi pernikahan yang bahagia ya. Jadi logis juga sebenarnya, kalau kita merasa bahagia dengan pernikahan otomatis kita akan menjaga kesehatan diri kita agar bisa menjaga pasangan dan anak kita.

Walaupun dimensi buku ini terbilang kecil dan tidak terlalu tebal, tapi menurut saya cukup lengkap membahas seluk beluk pernikahan. Sampai dibahas mengenai permasalahan-permasalahan pernikahan seperti kurang kepercayaan, masalah seks, kurang komunikasi, mengatur keuangan, pembagian peran dan tugas dalam rumah tangga, mertua dan ipar, tidak merawat diri, tak ingin memiliki anak, ketidakmampuan untuk memiliki keturunan, adanya affair (orang ketiga).

Jadi buku ini menurut saya sangat seimbang. Membuat pembacanya berpikir, penulis sebenarnya mau ngomporin buat nikah atau nakut-nakutin yang mau nikah sih? Tapi sangat rasional. Bagaimanapun pernikahan itu penting untuk dilakukan, tapi bukan main-main, banyak yang harus dipertimbangkan.

Menikah itu di dalamnya tidak hanya berisi kebahagiaan, akan banyak emosi bercampur aduk di setiap perjalanannya. Tapi hal itu bukanlah sesuatu yang patut dijadikan alasan untuk menunda pernikahan atau memutuskan tidak menikah kan.

"Memilih menikah adalah mengabdikan diri ke lubang masalah, memilih tidak menikah adalah pengecut karena tidak mau berhadapan dengan masalah." (Ayu Utami, 2003)
(halaman 123)

Ya saya memang lebih suka menghindari masalah. Bukankah ada pepatah yang mengatakan orang pandai berusaha menyelesaikan masalah, orang bijak berusaha tidak terperangkap dalam masalah. Saya ga suka cari masalah. Pengennya hidup adem ayem sendirian, baca buku sambil menyeruput teh hangat di kursi yang nyaman menghadap kearah pemandangan alam yang indah di pedesaan. Ya, bayangan masa tua yang sederhana.

Jadi tentu saja saya tau yang namanya menjalin hubungan dengan orang lain adalah suatu tindakan terjun ke dalam lubang masalah. Apalagi hubungan yang melibatkan soal "hati". Tidak perlu mengalami untuk merasakannya. Saya adalah pendengar dari banyak orang-orang yang curhat tentang hubungan mereka. Ada yang sampai nangis sesenggukan nyeritain saat dia putus, ada yang begini begitu.

Dari dulu jaman sekolah dijadikan tempat curhat dan saya sangat mengerti mereka curhat untuk didengarkan bukan untuk dikomentari atau diberi masukan. Saya pernah ngomentarin salah satu teman yang curhat tentang putus sama pacarnya, "Bagus dong, kamu sekarang bisa lebih fokus belajar." Eh dia malah balas ngomentarin saya. Katanya saya ga dewasa. Nah lho. Dari dulu menurut saya pacaran adalah suatu hal yang kekanak-kanakan. Kalau udah ngerasa dewasa dan siap, ya nikah aja. Jadi kalau ada yang curhat saya dengerin aja deh, ga banyak komen. Tapi pada kebanyakan hal saya memang merasa kurang dewasa menyikapinya, hehe.
Bersosialisasi dengan manusia memang merepotkan. Peace. ✌

Kutipan yang paling saya suka ada di halaman 145 tentang sebuah nasihat dari seorang filsuf terkenal, Socrates.
"Suatu hari, Socrates menasihati muridnya yang sedang gundah sekaligus takut bila kelak ia menikah akan gagal dan sengsara. Socrates berkata pada muridnya,
'Dalam kondisi apapun, engkau tetap harus menikah. Jika engkau mendapatkan istri yang baik, engkau akan berbahagia. Namun, jika engkau menikah dan mendapatkan istri yang menjengkelkan, engkau akan menjadi orang yang bijaksana. Singkatnya, keduanya menguntungkanmu.'"

Bagaimanapun juga ga sembarangan milih calon ya. Tanya-tanya ke temennya bisa. Kalau ga mau repot nanya,  analisis sendiri tulisan tangannya dengan grafologi . Kita bisa tau kekurangan dan kelebihan, kekuatan dan kelemahan, kecenderungan berbohong, pola pikir, sampai tingkat libidonya. Tiap orang pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tinggal apakah kita bisa menerima dan saling memperbaiki kekurangan masing-masing atau tidak.

Ibadahnya juga dilihat. Saya sih dulu ga terlalu banyak kriteria (mungkin karena ga terlalu mikirin nikah kali ya). Tapi dulu saat baca proposal suami dan memastikan shalat wajibnya ga bolong-bolong itu sudah cukup. Yang penting buat saya sih yang wajib-wajibnya dilaksanakan. 

Pernah juga ditanya sama suami setelah tiga tahun menikah, "Dulu saya nulis pendapatan di proposal berapa sih?" Terus saya jawab, "Rp .........". Terus dia tiba-tiba heran, "Kok kamu dulu mau sih sama saya dengan pendapatan segitu?" Saya cuman kerang kerung kenapa dia nanya gitu, ga dijawab karena emang ga usah dijawab.

Cuman ngejawab dalam hati, "Yang ngasih rizki buat saya itu Allah, mau menikah dengan siapapun saya akan tetap hidup." Tapi cuman dalam hati ya jawabnya, kalau diungkapkan secara verbal pasti jadi terkesan sarkasme.

Buat saya rizki itu akan selalu datang kalau berusaha untuk dicari. Jadi berapapun penghasilannya, ga masalah. Tapi terbukti kan sekarang penghasilannya bertambah berkali-kali lipat walaupun saya ga ikut nyari uang. Saya percaya kalau setiap makhluk di bumi ini bahkan hewan melata sekalipun sudah dijamin rizkinya oleh Allah. Jadi saya ga khawatir. Uang bisa dicari kalau berusaha.

Yang paling penting adalah waktu. Ya bagi saya waktu kebersamaan adalah rizki yang paling besar. Mungkin itu salah satu faktor kenapa saya menerimanya. Karena profesinya memungkinkan kami berinteraksi secara langsung setiap hari. Tidak pulang terlalu larut, tidak sering-sering dinas ke luar. Ya jadi bisa sering komunikasi langsung. Walaupun sebenarnya kalau tiap hari ketemu bisa tambah sering konflik atau bisa bosan, tapi esensinya pernikahan adalah bersama-sama kan? Suka duka. Kalau ga sering ketemu memang jadi meminimalisir pertengkaran, cekcok, perdebatan, dll. Tapi kalau begitu, untuk apa nikah?

Justru dari kebersamaan itulah kita jadi belajar banyak hal. Saya juga pernah ldr 2 bulan saat masa nifas. Dari situ saya juga belajar, iya sih jadi lebih akur. Ya iya lah, kalau jarang ketemu apa yang mau diperdebatkan? Udah jadi seperti hidup masing-masing. Udah jadi ngerasa kayak single lagi. Hihi. Enak juga sih, tapi lho esensi pernikahannya di mana? Udah aja ga usah nikah kalau mau hidup masing-masing. Lebih simple.

"Sebuah perkawinan yang sukses membutuhkan jatuh cinta berkali-kali dan selalu dengan orang yang sama." (Germaine Greer)
(halaman 199)

Ini merupakan tantangan yang cukup berat lho. Terdengar mudah, tapi yakin bisa mencintai seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan batasnya. Karena bukan kawin kontrak, berarti kita harus siap untuk berkomitmen mencintai pasangan kita sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Tapi menurut saya yang namanya perasaan itu kan dari hati. Hati itu mudah sekali terbolak-balik. Jadi cinta itu sangat fluktuatif. Hari ini bisa jadi kita mencintai pasangan kita. Besok bisa berubah jadi kebencian. Besoknya berubah lagi. Jadi tentu saja perasaan cinta itu tidak konsisten. Bagi saya ya. Ga tau kalau yang lain. Yang saya rasakan sih gitu. Itu kan bagian dari emosi.

Suami juga pernah nanya. "Sin, jawab ya. Selama 3 tahun menikah dengan saya apa yang kamu rasakan? A. Sangat senang B. Senang C. Sedih D. Sangat sedih"

Saya jawab apa coba? Yaps betul sekali. Saya ga jawab apa-apa. Karena tidak ada opsi "Semua benar." Saya pernah merasa sangat senang, senang, sedih, sangat sedih. Suasana hati saya kan berubah-ubah. Ga mungkin kan saya merasa senang selalu. Ga mungkin juga sedih melulu. Yang penting ada usaha untuk membahagiakan diri sendiri dan pasangan. Jadi bahagianya lebih banyak daripada sedihnya.

Daripada cinta, komitmen pada masing-masing lebih penting. Jadi kalau sudah berpegang pada komitmen, meskipun kita sedang berada pada kondisi "tidak mencintai pasangan" kita akan berusaha untuk jatuh cinta lagi pada orang yang sama. Banyak-banyak bersyukur dan mengingat kebaikan pasangan, insya Allah kita bisa jatuh cinta lagi. Dan itu bisa terjadi berkali-kali. Yang penting adalah "pada orang yang sama". Pada suami atau istri kita tentunya.

Jadi intinya, jangan takut untuk menikah bagi yang jomblo, lajang, ataupun single parent. Yang namanya hidup pasti ada suka dukanya. Sendiri ada suka dukanya. Menikah juga ada suka dukanya. Nikmati saja dimana kita berada saat ini. Yang sendiri menikmati kesibukan produktifnya sambil menjemput jodohnya. Pasti dateng ko insya Allah. Yang sudah menikah menikmati peran dan tanggung jawabnya. Yang lagi LDRan semoga segera bersama kembali.

Bersyukur bisa baca lagi buku ini. Jadi mengingatkan saya untuk belajar lagi, terutama masalah komunikasi. Saya agak sulit mengungkapkan emosi secara verbal. Sudah disiasati dengan buku komunikasi sih, jadi sebagai pintu darurat saat saya lagi malas komunikasi sama suami. Tinggal nulis, suami baca. Tapi belum berjalan dengan baik. Paling bukunya cuman ditulisin menu masakan yang suami mau dalam seminggu perharinya apa saja. Jadi saya ga bingung mau belanja apa ke warung. Hehe.

Buku ini bagus dibaca oleh mereka yang belum ataupun yang sudah menikah. Yang belum menikah diajak untuk berpikir kalau menikah itu penting. Tapi harus mempersiapkan mental dengan berbagai pertimbangannya. 

Yang sudah menikah diajak untuk lebih bersyukur dengan pasangannya. Keburukan pasangan pasti ada. Setiap orang pasti punya kekurangan kan. Tapi kalau kita fokus pada kelebihannya pasti bisa merasa bahagia.


Wednesday, June 14, 2017

Kamus Praktis KANJI - INDONESIA (T. Chandra)


Kemarin bisa jalan berdua saja sama suami. Hawnan dibawa neneknya ke sekolah, karena di sekolah neneknya sebenarnya sudah selesai tinggal nunggu waktu membagikan raport, jadi bisa ngajak cucunya main di sekolah. Suami ngajak ke kajian, pulangnya kita ke Gramedia. Mumpung di Bandung. Hihi.

Saya seneng banget kalau ke tempat-tempat yang terdapat banyak buku. Sempet ditegur juga karena katanya saya jalan kecentilan. Tanpa sadar kalau lagi seneng jalan saya jadi melompat-lompat.

Dari rumah memang sengaja bawa uang terbatas, karena saya khawatir akan impulsif kalau sudah berurusan dengan buku. Tapi setelah dipikir-pikir kalau bareng suami saya tidak mungkin impulsif. 😂

Jarang banget bisa keluar berdua kayak gini. Jadi harus dioptimalkan sebaik mungkin. Walaupun agak malu-malu kami gandengan aja kayak yang lagi pacaran. Kalau yang pacaran aja ga malu, harusnya kami yang udah nikah bisa lebih PD kan.

Suami langsung nanya mau nyari buku apa. Sebenernya sih saya niatnya cuman keliling-keliling aja numpang baca gratis, hehe. Tapi biar keliatan agak serius jadi saya bilang aja buku Dan Brown udah ada yang terbaru, ORIGIN (walaupun saya tahu pasti belum ada terjemahannya di Gramedia karena emang baru banget.)  :P

Tuesday, May 30, 2017

Berwisata ke Alam Ruh (Imâm Al-Ghazâlî)


Jadi waktu beli kado buat temen dan Dalam Dekapan Ukhuwah di salah satu stand di Landmark, teteh yang ngejagain standnya ngasih saya tiga buku secara cuma-cuma alias gratis. Saya waktu bayar bengang-bengong karena ga nyangka. "Teh ini ada bonus buku. " katanya tersenyum sambil memasukkan tiga buku ke dalam kantung plastik dan menyerahkannya pada saya. "Serius teh? Gratis? " Tanya saya masih tak percaya. "Iya serius. " jawabnya sambil tersenyun lebar. "Ma.. Ma.. Makasih teh.. " tiba-tiba saya jadi gagap saking senengnya. Saat meninggalkan stand itu saya berpikir "Seharusnya saya bilang jazakillah khairan katsiran.." Akhirnya saya berdo'a dalam hati semoga Allah membalas kebaikannya pada saya berlipat ganda. Baik banget sih dirimu teh, udah ngasih diskon, ngasih gratisan pula. Love you deh.

Ini salah satu bukunya. Sebelumnya mohon maaf bulan ini saya tidak mengadakan giveaway. Ada sih buku thriller. Tapi belum dibaca. Hehe. Nanti kalau sudah dibaca dan direview pasti saya kasih kabar deh.

Untuk akhir bulan ini yang merupakan awal-awal bulan Ramadhan saya ingin memperbanyak membaca buku-buku keislaman. Sekarang saya ada di Bandung. Beberapa buku yang masih disegel saya simpan di Bandung. Akhirnya saya membaca buku ini.

Anatomi buku ini:
Judul: Berwisata ke Alam Ruh

Judul asli: Kasyf 'Ulûm al-Âkhirah
Penulis: Imâm Al-Ghazâlî
Penerjemah: Abu Hamida MZ
Penerbit: Marja'
Tahun terbit: 2004
Dimensi:
Harga:

Ini pending ya..
Bukunya ketinggalan..