Tuesday, August 15, 2017

Say No To Married (Nurma Ratna Sari)

I'm baaaaaaaack.
Ok, sudah lama saya hiatus. Karena berbagai alasan yang saya buat-buat. Ya begitulah. Harus adaptasi lagi setelah melewati liburan panjang. Untuk memulai kembali hal yang telah lama tidak dilakukan ternyata cukup sulit ya. Jadi alasannya ga berbelit-belit deh. Lagi males nulis. Udah gitu aja.

Kali ini saya memaksakan untuk mulai menulis lagi. Beberapa buku yang sudah ataupun belum saya baca masih tertinggal di Bandung. Jadi saya akan mereview buku lama dulu ya. Buku yang saya dapatkan di Bulan Agustus tahun 2013.

Ini adalah hadiah dari salah satu teman. Anehnya adalah dia memberikan hadiah ini bukan pada saat saya ulang tahun. Tapi saat dia ulang tahun. Haha, aneh ya, yang ulang tahun malah ngasih hadiah.

Jadi waktu itu saya bawa cake kecil pakai lilin gitu ke rumahnya. Surprise ceritanya. Tapi saya ga bawa kado. Heran lah malah saya yang di kasih kado.

Pas di rumah, saya buka bungkusannya. Tambah bingunglah saya dengan buku yang dia berikan. Dia bilang agar saya sedikit memikirkan tentang pernikahan, karena saya terlalu cuek kali ya. 

Teman-teman di kampus kayaknya udah pada tau kalau saya menganggap hubungan laki-laki dan perempuan adalah hal yang tidak penting. Baik itu pacaran atau pernikahan atau apapun itu.

Banyak hal yang "lebih penting" ada dalam otak saya kayak kesibukan-kesibukan yang tiada henti baik itu pekerjaan, organisasi, skripsi, SKRIPSIIII!!! SKRIPSIIIIIII!!!! Ya sebenarnya bukan hanya itu sih yang ada di otak saya saat zaman-zaman itu.

Banyak hal-hal remeh temeh seperti pengen yoyo baru, pengen cube yang beda-beda dimensi, pengen tarantula, pengen ikut kursus ini itu, pengen bikin craft yang lucu-lucu. Tapi ga ada tuh di otak saya pengen nikah. 

Pernah disuruh nulis sama murabbi rencana umur menikah saat pembahasan tentang munakahat. Saya inget waktu itu nulis umur 25 (rencananya umur 24 mau mendarat dulu di planet Mars). Tapi yah, pokoknya dulu menurut saya pernikahan adalah tempat ditutupnya pintu gerbang kebebasan saya meraih keinginan-keinginan yang sekian banyaknya. Dulu saya menganggap: sendiri juga bahagia. Bisa melakukan banyak hal.

Yang bikin saya tambah heran waktu pemberian buku ini hanya sekitar seminggu sejak saya dikasih proposal nikah sama orang yang sekarang jadi suami saya. Did she already know about that?

Yaaaa, kalau pemikiran kamu sama kayak saya atau pemikiran lainnya yang membuat kamu mengundur-undur rencana menikah mungkin tertarik buat baca buku ini. Buat yang ingin menikah ataupun yang sudah menikah juga bagus buat dibaca. 

Judul: Say No to Married
Penulis: Nurma Ratna Sari
Penerbit: Pustaka Rama
Tahun terbit: 2011
Jumlah halaman: 218
Dimensi: 12 cm X 18,8 cm
Harga: Rp 30.000

Judulnya kontradiksi dengan isi bukunya lho. Jadi jangan kaget kalau kamu baca isinya ternyata malah ngomporin kamu buat nikah.

Penulis memberikan latar belakang mengenai perubahan jaman yang ikut merubah pemikiran tentang pernikahan terutama dari sudut pandang wanita karena penulisnya wanita ya. Tapi laki-laki juga bisa kesindir lho baca buku ini.

Seiring perubahan tersebut usia pernikahan bagi wanita bergeser. Walaupun sekarang nikah muda lagi tren, tapi saya sependapat dengan penulis bahwa masih banyak wanita yang berpikir untuk tetap melajang dan tetap tenang sampai usia kepala tiga. Bahkan mungkin berniat untuk tetap sendiri sampai akhir hayat. Ya kalau sudah nyaman dengan kehidupan yang dijalani walaupun sendiri, why not?

Nih ya saya tulisin point-point alasan-alasan melajang dalam buku ini.
1. Kerja, kerja, dan kerja
2. Belum menemukan orang yang tepat
3. Terlalu banyak memilih
4. Belum siapnya faktor ekonomi
5. Idealisme tinggi
6. Terikat dengan studi
7. Trauma
8. Menderita penyakit tertentu.

Penjelasannya baca aja langsung di bukunya ya. Hihi.

"In the opinion of the world,  marriage ends all, as it does in a comedy. The truth is precisely the opposite: it begins all." ~Anne Sophie Swetchine (halaman 51)

Nah, kondisi sendiri setidaknya dapat memberi waktu bagi orang-orang lajang untuk berintrospeksi diri, seperti dalam halaman 54-57 saya kasih tau pointnya aja ya:

1. Saya terlalu agresif
2. Saya terlalu pemalu
3.Saya terlalu fokus pada kekurangan
4. Saya terlalu pemilih
5. Saya selalu menyalahkan keadaan yang tidak mendukung
6. Saya tidak benar-benar ingin berkomitmen
7. Saya selalu terbayang pikiran masa lalu

Alasan melajang dan introspeksinya nyambung ya. Dulu waktu saya lagi baca buku ini alasan saya lebih ke idealisme yang tinggi. Ya jadinya nyaman aja walau ga punya pasangan dan ga ngerasa sendiri ko. Saya merasa banyak yang memperhatikan saya. Ibu, ayah, adik, keluarga, guru-guru, teman-teman. Jadi ya saya ga ngerasa butuh tambahan perhatian lagi. Makanya saya berterima kasih banget lah punya mereka dalam hidup saya. Karena mereka saya bisa enjoy hidup dalam "kesendirian" saat itu. 

Kegiatan yang selalu ada setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik juga membutuhkan perhatian saya. Jadi ya saya ga bisa ngasih perhatian kepada seseorang yang minta perhatian saya di luar kegiatan-kegiatan saya.

Kesendirian melahirkan produktivitas bagi saya. Dan kebebasan untuk fokus karena saya tidak perlu membagi pikiran dengan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
* Apakah si dia sudah makan?
* Si dia sedang apa?
* Kenapa si dia belum menghubungi saya?
* Hari ini di mana bisa ketemuan?
* Dan masih banyak lagi yang lainnya
(halaman 60)

Well, I'm freeeeee
I can do anything I want
I can go wherever I want
Ga juga sih. Dulu tetep aja saya harus melakukan usaha untuk beresin skripsi dan harus pergi bimbingan ke kampus. Haha. -_-"

Ya tapi kan selain itu bisa melakukan dan belajar hal-hal yang saya suka.
Di buku ini dibahas juga tentang orang-orang lajang dan pengendalian seks. Menyeramkan lah bacanya. Apalagi tentang HTI/HTS/TTM. Ada wawancara juga dan parahnya laki-laki lebih suka Hubungan Tanpa Ikatan/Status ini karena bisa melampiaskan setelah itu bisa meninggalkan. Komitmen adalah hal yang ribet bagi mereka orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dari sini pembahasan bukunya mulai akan melenceng dari judul. Harusnya judulnya Say Yes to Married.

Di Bab 3 pembaca disuguhi pertanyaan:
Apa arti pernikahan menurut Anda?
Pernikahan bagi saya:
...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
(halaman 76)

Sampai ada lima baris lho titik-titiknya. Kayaknya isinya harus panjang tuh.
"Perkawinan adalah sebuah perjuangan yang tidak selalu menyenangkan, namun justru dalam perjuangan itu nantinya ditemukan kebahagiaan." (Anonim)
(halaman 75)

Itu kata Anonim ya ga tau siapa, namanya juga Anonim, pokonya bukan jawaban saya. Kalau menurut kamu apa?

Manfaat pernikahan:
* Menghindari seks bebas
* Menikah itu menyempurnakan ibadah
* Untuk menambah dan memperpanjang keturunan atau silsilah
* Mencari teman hidup
* Untuk menunjukkan kasih sayang dan memperhatikan seseorang
* Menghindari omongan miring orang lain
* Saling melengkapi
* Menikah adalah jalan pembuka pintu rezeki
(halaman 83-94)

Ya pokoknya isi buku ini memutar balikan setiap alasan yang kita punya untuk menunda pernikahan. Semua alasan yang saya buat-buat juga di counter sama buku ini.

Sebenarnya setelah nikah kita masih bisa melakukan banyak hal yang kita suka ko. Saya juga ngerasain sih, sebelum nikah memang lebih bebas ke sana ke mari. Tapi setelah nikah dan punya anak energi kita terkuras untuk pekerjaan rumah tangga dan ngurus anak, jadi walaupun sebenarnya ada niat dan waktu untuk ke sana ke mari paling hanya sesekali untuk refreshing saja. Kalau tiap hari ke sana ke mari kerasa lah pasti capenya. Jadi ya otomatis kalau ada waktu luang sekarang lebih sering milih leyeh-leyeh aja di rumah sambil baca buku. Traveling atau kuliner sebulan sekali cukup lah ya kalau buat saya. (padahal may pengennya seminggu sekali, hiaaaa wkwkwk..) Ga tau kalau buat emak-emak yang lain. Tiap orang beda-beda kan.

Terus kalau kita terus beralasan belum siap, kapan siapnya? Ya ini juga yang dulu dikatakan teman saya saat konsultasi kesiapan saya untuk berkomitmen. Sebanyak apapun teori pernikahan yang kita dapatkan dan kita tahu, tetap saja harus praktek. Belajar itu kan sepanjang hayat, dan kerasa sekarang. Dalam pernikahan kita harus terus belajar setiap hari. Banyak hal yang harus dipelajari. Dan seringnya teori itu sepertinya mudah, tapi praktiknya sangaaaaat berat. Terutama mengendalikan ego masing-masing.

Pernah nanya ke suami, kenapa bisa memutuskan untuk siap menikah di usianya yang ke 24. Dia cuman jawab dengan santai, "Mau sekarang atau nanti sama saja. Mending sekarang aja. Biar ntar kalau punya cucu keliatan seperti bapaknya bukan kakeknya." Kurang lebih gitu lah.

Jaman dulu manusia usia belasan sudah pada dinikahin tuh. Sekarang usia segitu disibukkan dengan bangku sekolah. Usia dua puluhan disibukkan dengan kuliah. Terus sibuk kerja. Terus sibuk ini itu. Lupa deh sama usia. Dan tetap berpikir I'm fine alone. Pas kumpulan keluarga bete karena diberondong pertanyaan "Kapan nikah."

Pertanyaan "Kapan?" memang seringnya menyebalkan. Kalau saya sih memang ga ngalamin kebetean dari pertanyaan "Kapan nikah?" Tapi saya dulu serasa pengen terjun ke jurang karena sering ditanyain "Kapan lulus?" Hahahahah. Beneran den pengen ngejitak orang yang nanya kapan lulus ke saya. Tapi berkat keterlambatan kelulusan saya, jadi terhindar dari pertanyaan kapan nikah. Ya iya lah. Kalaupun ada yang nanya, saya tinggal jawab, "Skripsi juga belum." Kenyataannya ga ada yang nanya.

Makanya pas saya nikah sebelum skripsi saya kelar pada shocked. Terutama orang-orang yang kenal deket dengan saya dan tau banget saya kayak gimana. "Sin, kamu masih waras kan?" Paling saya termenung dan memikirkan perjalanan saya ke Planet Mars yang pasti akan tertunda. Skripsi ga dipikirin. -_-"

Ya elah, suami waras mana yang bakalan ngizinin istrinya ke luar atmosfer bumi? Tapi hikmahnya setelah nikah saya bisa lulus kuliah.

Kalau terlalu pemilih sebenarnya nggak juga ya. Pada intinya semua manusia itu sama. Semua manusia menyebalkan. Teman-teman saya suka balik nanya kalau saya mengeluarkan pernyataan itu. "Sin, emang kamu bukan manusia?" Lalu saya akan tatap orang yang bertanya itu dengan tajam. "Sayangnya iya, saya manusia. Kalau mengikuti premisnya berarti saya juga menyebalkan." Efek terlalu banyak baca thriller jadi gini.

Tapi mungkin karena sering baca thriller saya jadi ngerasa bahagia-bahagia aja kali ya. Ya kan kisah di thriller itu penuh tekanan, alur yang menegangkan, kadang juga sad ending. Ada yang pernah mengatakan, jangan terlalu banyak nonton drama cinta korea, nanti ngebayanginnya pernikahan tuh yang romantis-romantisnya aja. Padahal mah... Mungkin bisa juga diubah sedikit, jangan terlalu banyak baca romance, nanti terlalu mengharapkan kisah cinta yang indah-indah. Hihi. Becanda, buat pecinta genre romance teruskanlah, tiap orang punya alasan tersendiri untuk hobi yang disenanginya.

Well, tapi saya juga pernah baca romance. Kisah cinta Muhammad dan Khodijah yang bikin jadi baper. Ga baik juga sih jadi ngebanding-bandingin suami sama Muhammad. Ya saya juga ngaca lah, saya kan bukan Khodijah. Tapi asli, baca kisah cinta orang lain tuh bisa jadi bikin bertanya-tanya. Ko dia sifatnya ga gini sih. Ko dia ga gitu sih. Harus banyak ngerem pertanyaan seperti itu. Jadi saya lebih suka baca thriller, ya membuat saya lebih banyak bersyukur. Kisah saya lebih indah daripada cerita thriller. Kisah saya tidak serumit di thriller. Kisah sederhana yang tokoh utamanya saya sendiri tidak semenyeramkan dan  tidak setragis di thriller.

Kembali pada buku ini, ada hal menarik tentang hubungan pernikahan (yang bahagia) dan kesehatan. Beberapa manfaatnya:
1. Terhindar risiko hipertensi
2. Terhindar penyakit diabetes
3. Tidak merokok dan minum minuman beralkohol
4. Terhindar penyakit jantung
5. Terhindar penyakit stroke
6. Kesehatan mental terpelihara
7. Usia yang panjang

Tapi itu bagi pernikahan yang bahagia ya. Jadi logis juga sebenarnya, kalau kita merasa bahagia dengan pernikahan otomatis kita akan menjaga kesehatan diri kita agar bisa menjaga pasangan dan anak kita.

Walaupun dimensi buku ini terbilang kecil dan tidak terlalu tebal, tapi menurut saya cukup lengkap membahas seluk beluk pernikahan. Sampai dibahas mengenai permasalahan-permasalahan pernikahan seperti kurang kepercayaan, masalah seks, kurang komunikasi, mengatur keuangan, pembagian peran dan tugas dalam rumah tangga, mertua dan ipar, tidak merawat diri, tak ingin memiliki anak, ketidakmampuan untuk memiliki keturunan, adanya affair (orang ketiga).

Jadi buku ini menurut saya sangat seimbang. Membuat pembacanya berpikir, penulis sebenarnya mau ngomporin buat nikah atau nakut-nakutin yang mau nikah sih? Tapi sangat rasional. Bagaimanapun pernikahan itu penting untuk dilakukan, tapi bukan main-main, banyak yang harus dipertimbangkan.

Menikah itu di dalamnya tidak hanya berisi kebahagiaan, akan banyak emosi bercampur aduk di setiap perjalanannya. Tapi hal itu bukanlah sesuatu yang patut dijadikan alasan untuk menunda pernikahan atau memutuskan tidak menikah kan.

"Memilih menikah adalah mengabdikan diri ke lubang masalah, memilih tidak menikah adalah pengecut karena tidak mau berhadapan dengan masalah." (Ayu Utami, 2003)
(halaman 123)

Ya saya memang lebih suka menghindari masalah. Bukankah ada pepatah yang mengatakan orang pandai berusaha menyelesaikan masalah, orang bijak berusaha tidak terperangkap dalam masalah. Saya ga suka cari masalah. Pengennya hidup adem ayem sendirian, baca buku sambil menyeruput teh hangat di kursi yang nyaman menghadap kearah pemandangan alam yang indah di pedesaan. Ya, bayangan masa tua yang sederhana.

Jadi tentu saja saya tau yang namanya menjalin hubungan dengan orang lain adalah suatu tindakan terjun ke dalam lubang masalah. Apalagi hubungan yang melibatkan soal "hati". Tidak perlu mengalami untuk merasakannya. Saya adalah pendengar dari banyak orang-orang yang curhat tentang hubungan mereka. Ada yang sampai nangis sesenggukan nyeritain saat dia putus, ada yang begini begitu.

Dari dulu jaman sekolah dijadikan tempat curhat dan saya sangat mengerti mereka curhat untuk didengarkan bukan untuk dikomentari atau diberi masukan. Saya pernah ngomentarin salah satu teman yang curhat tentang putus sama pacarnya, "Bagus dong, kamu sekarang bisa lebih fokus belajar." Eh dia malah balas ngomentarin saya. Katanya saya ga dewasa. Nah lho. Dari dulu menurut saya pacaran adalah suatu hal yang kekanak-kanakan. Kalau udah ngerasa dewasa dan siap, ya nikah aja. Jadi kalau ada yang curhat saya dengerin aja deh, ga banyak komen. Tapi pada kebanyakan hal saya memang merasa kurang dewasa menyikapinya, hehe.
Bersosialisasi dengan manusia memang merepotkan. Peace. ✌

Kutipan yang paling saya suka ada di halaman 145 tentang sebuah nasihat dari seorang filsuf terkenal, Socrates.
"Suatu hari, Socrates menasihati muridnya yang sedang gundah sekaligus takut bila kelak ia menikah akan gagal dan sengsara. Socrates berkata pada muridnya,
'Dalam kondisi apapun, engkau tetap harus menikah. Jika engkau mendapatkan istri yang baik, engkau akan berbahagia. Namun, jika engkau menikah dan mendapatkan istri yang menjengkelkan, engkau akan menjadi orang yang bijaksana. Singkatnya, keduanya menguntungkanmu.'"

Bagaimanapun juga ga sembarangan milih calon ya. Tanya-tanya ke temennya bisa. Kalau ga mau repot nanya,  analisis sendiri tulisan tangannya dengan grafologi . Kita bisa tau kekurangan dan kelebihan, kekuatan dan kelemahan, kecenderungan berbohong, pola pikir, sampai tingkat libidonya. Tiap orang pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tinggal apakah kita bisa menerima dan saling memperbaiki kekurangan masing-masing atau tidak.

Ibadahnya juga dilihat. Saya sih dulu ga terlalu banyak kriteria (mungkin karena ga terlalu mikirin nikah kali ya). Tapi dulu saat baca proposal suami dan memastikan shalat wajibnya ga bolong-bolong itu sudah cukup. Yang penting buat saya sih yang wajib-wajibnya dilaksanakan. 

Pernah juga ditanya sama suami setelah tiga tahun menikah, "Dulu saya nulis pendapatan di proposal berapa sih?" Terus saya jawab, "Rp .........". Terus dia tiba-tiba heran, "Kok kamu dulu mau sih sama saya dengan pendapatan segitu?" Saya cuman kerang kerung kenapa dia nanya gitu, ga dijawab karena emang ga usah dijawab.

Cuman ngejawab dalam hati, "Yang ngasih rizki buat saya itu Allah, mau menikah dengan siapapun saya akan tetap hidup." Tapi cuman dalam hati ya jawabnya, kalau diungkapkan secara verbal pasti jadi terkesan sarkasme.

Buat saya rizki itu akan selalu datang kalau berusaha untuk dicari. Jadi berapapun penghasilannya, ga masalah. Tapi terbukti kan sekarang penghasilannya bertambah berkali-kali lipat walaupun saya ga ikut nyari uang. Saya percaya kalau setiap makhluk di bumi ini bahkan hewan melata sekalipun sudah dijamin rizkinya oleh Allah. Jadi saya ga khawatir. Uang bisa dicari kalau berusaha.

Yang paling penting adalah waktu. Ya bagi saya waktu kebersamaan adalah rizki yang paling besar. Mungkin itu salah satu faktor kenapa saya menerimanya. Karena profesinya memungkinkan kami berinteraksi secara langsung setiap hari. Tidak pulang terlalu larut, tidak sering-sering dinas ke luar. Ya jadi bisa sering komunikasi langsung. Walaupun sebenarnya kalau tiap hari ketemu bisa tambah sering konflik atau bisa bosan, tapi esensinya pernikahan adalah bersama-sama kan? Suka duka. Kalau ga sering ketemu memang jadi meminimalisir pertengkaran, cekcok, perdebatan, dll. Tapi kalau begitu, untuk apa nikah?

Justru dari kebersamaan itulah kita jadi belajar banyak hal. Saya juga pernah ldr 2 bulan saat masa nifas. Dari situ saya juga belajar, iya sih jadi lebih akur. Ya iya lah, kalau jarang ketemu apa yang mau diperdebatkan? Udah jadi seperti hidup masing-masing. Udah jadi ngerasa kayak single lagi. Hihi. Enak juga sih, tapi lho esensi pernikahannya di mana? Udah aja ga usah nikah kalau mau hidup masing-masing. Lebih simple.

"Sebuah perkawinan yang sukses membutuhkan jatuh cinta berkali-kali dan selalu dengan orang yang sama." (Germaine Greer)
(halaman 199)

Ini merupakan tantangan yang cukup berat lho. Terdengar mudah, tapi yakin bisa mencintai seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan batasnya. Karena bukan kawin kontrak, berarti kita harus siap untuk berkomitmen mencintai pasangan kita sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Tapi menurut saya yang namanya perasaan itu kan dari hati. Hati itu mudah sekali terbolak-balik. Jadi cinta itu sangat fluktuatif. Hari ini bisa jadi kita mencintai pasangan kita. Besok bisa berubah jadi kebencian. Besoknya berubah lagi. Jadi tentu saja perasaan cinta itu tidak konsisten. Bagi saya ya. Ga tau kalau yang lain. Yang saya rasakan sih gitu. Itu kan bagian dari emosi.

Suami juga pernah nanya. "Sin, jawab ya. Selama 3 tahun menikah dengan saya apa yang kamu rasakan? A. Sangat senang B. Senang C. Sedih D. Sangat sedih"

Saya jawab apa coba? Yaps betul sekali. Saya ga jawab apa-apa. Karena tidak ada opsi "Semua benar." Saya pernah merasa sangat senang, senang, sedih, sangat sedih. Suasana hati saya kan berubah-ubah. Ga mungkin kan saya merasa senang selalu. Ga mungkin juga sedih melulu. Yang penting ada usaha untuk membahagiakan diri sendiri dan pasangan. Jadi bahagianya lebih banyak daripada sedihnya.

Daripada cinta, komitmen pada masing-masing lebih penting. Jadi kalau sudah berpegang pada komitmen, meskipun kita sedang berada pada kondisi "tidak mencintai pasangan" kita akan berusaha untuk jatuh cinta lagi pada orang yang sama. Banyak-banyak bersyukur dan mengingat kebaikan pasangan, insya Allah kita bisa jatuh cinta lagi. Dan itu bisa terjadi berkali-kali. Yang penting adalah "pada orang yang sama". Pada suami atau istri kita tentunya.

Jadi intinya, jangan takut untuk menikah bagi yang jomblo, lajang, ataupun single parent. Yang namanya hidup pasti ada suka dukanya. Sendiri ada suka dukanya. Menikah juga ada suka dukanya. Nikmati saja dimana kita berada saat ini. Yang sendiri menikmati kesibukan produktifnya sambil menjemput jodohnya. Pasti dateng ko insya Allah. Yang sudah menikah menikmati peran dan tanggung jawabnya. Yang lagi LDRan semoga segera bersama kembali.

Bersyukur bisa baca lagi buku ini. Jadi mengingatkan saya untuk belajar lagi, terutama masalah komunikasi. Saya agak sulit mengungkapkan emosi secara verbal. Sudah disiasati dengan buku komunikasi sih, jadi sebagai pintu darurat saat saya lagi malas komunikasi sama suami. Tinggal nulis, suami baca. Tapi belum berjalan dengan baik. Paling bukunya cuman ditulisin menu masakan yang suami mau dalam seminggu perharinya apa saja. Jadi saya ga bingung mau belanja apa ke warung. Hehe.

Buku ini bagus dibaca oleh mereka yang belum ataupun yang sudah menikah. Yang belum menikah diajak untuk berpikir kalau menikah itu penting. Tapi harus mempersiapkan mental dengan berbagai pertimbangannya. 

Yang sudah menikah diajak untuk lebih bersyukur dengan pasangannya. Keburukan pasangan pasti ada. Setiap orang pasti punya kekurangan kan. Tapi kalau kita fokus pada kelebihannya pasti bisa merasa bahagia.


Wednesday, June 14, 2017

Kamus Praktis KANJI - INDONESIA (T. Chandra)


Kemarin bisa jalan berdua saja sama suami. Hawnan dibawa neneknya ke sekolah, karena di sekolah neneknya sebenarnya sudah selesai tinggal nunggu waktu membagikan raport, jadi bisa ngajak cucunya main di sekolah. Suami ngajak ke kajian, pulangnya kita ke Gramedia. Mumpung di Bandung. Hihi.

Saya seneng banget kalau ke tempat-tempat yang terdapat banyak buku. Sempet ditegur juga karena katanya saya jalan kecentilan. Tanpa sadar kalau lagi seneng jalan saya jadi melompat-lompat.

Dari rumah memang sengaja bawa uang terbatas, karena saya khawatir akan impulsif kalau sudah berurusan dengan buku. Tapi setelah dipikir-pikir kalau bareng suami saya tidak mungkin impulsif. 😂

Jarang banget bisa keluar berdua kayak gini. Jadi harus dioptimalkan sebaik mungkin. Walaupun agak malu-malu kami gandengan aja kayak yang lagi pacaran. Kalau yang pacaran aja ga malu, harusnya kami yang udah nikah bisa lebih PD kan.

Suami langsung nanya mau nyari buku apa. Sebenernya sih saya niatnya cuman keliling-keliling aja numpang baca gratis, hehe. Tapi biar keliatan agak serius jadi saya bilang aja buku Dan Brown udah ada yang terbaru, ORIGIN (walaupun saya tahu pasti belum ada terjemahannya di Gramedia karena emang baru banget.)  :P

Tuesday, May 30, 2017

Berwisata ke Alam Ruh (ImĂąm Al-GhazĂąlĂź)


Jadi waktu beli kado buat temen dan Dalam Dekapan Ukhuwah di salah satu stand di Landmark, teteh yang ngejagain standnya ngasih saya tiga buku secara cuma-cuma alias gratis. Saya waktu bayar bengang-bengong karena ga nyangka. "Teh ini ada bonus buku. " katanya tersenyum sambil memasukkan tiga buku ke dalam kantung plastik dan menyerahkannya pada saya. "Serius teh? Gratis? " Tanya saya masih tak percaya. "Iya serius. " jawabnya sambil tersenyun lebar. "Ma.. Ma.. Makasih teh.. " tiba-tiba saya jadi gagap saking senengnya. Saat meninggalkan stand itu saya berpikir "Seharusnya saya bilang jazakillah khairan katsiran.." Akhirnya saya berdo'a dalam hati semoga Allah membalas kebaikannya pada saya berlipat ganda. Baik banget sih dirimu teh, udah ngasih diskon, ngasih gratisan pula. Love you deh.

Ini salah satu bukunya. Sebelumnya mohon maaf bulan ini saya tidak mengadakan giveaway. Ada sih buku thriller. Tapi belum dibaca. Hehe. Nanti kalau sudah dibaca dan direview pasti saya kasih kabar deh.

Untuk akhir bulan ini yang merupakan awal-awal bulan Ramadhan saya ingin memperbanyak membaca buku-buku keislaman. Sekarang saya ada di Bandung. Beberapa buku yang masih disegel saya simpan di Bandung. Akhirnya saya membaca buku ini.

Anatomi buku ini:
Judul: Berwisata ke Alam Ruh

Judul asli: Kasyf 'UlĂ»m al-Âkhirah
Penulis: ImĂąm Al-GhazĂąlĂź
Penerjemah: Abu Hamida MZ
Penerbit: Marja'
Tahun terbit: 2004
Dimensi:
Harga:

Ini pending ya..
Bukunya ketinggalan.. 

Saturday, May 20, 2017

Le Petit Prince (Antoine De Saint-Exupéry)

Buku ini pertama kali saya baca saat kelas XI SMA. Waktu itu ada project dari guru Bahasa Indonesia kami untuk membuat drama yang akan dipentaskan dan ditonton oleh semua siswa kelas XI. Jadi tiap kelas IPA, IPS, dan Bahasa akan menampilkan drama. Tiap kelas terdiri dari beberapa kelompok. Kelas Bahasa dibagi menjadi 2 kelompok. Kelas IPA dan IPS masing-masing dibagi menjadi 4 kelompok. Jadi jumlah seluruh kelompok ada 22 kelompok. Berarti ada 22 naskah drama yang ditampilkan.

Salah satu teman di kelompok kami menyarankan untuk menyadur naskah drama dari novel ini. Kami semua sepakat. Waktu itu saya mendapatkan dua peran. Jadi Narator dan Rubah. Jadi peran saya ganda karena jumlah SDM di kelas saya tidak sebanyak kelas IPA dan IPS.

Anatomi buku ini:
Judul asli: Le Petit Prince
Judul terjemahan: Pangeran Cilik
Penulis: Antoine De Saint-Exupéry
Penerjemah: Henri Chambert-Loir
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011
Jumlah halaman: 120

Dimensi: 13,5 cm X 20 cm
Harga: Rp. 35.000

Buku ini seolah-olah untuk anak-anak. Tapi sepertinya anak-anak tidak akan mengerti makna mendalam dari buku ini sampai mereka membaca ulang ketika telah dewasa. Menurut saya buku ini lebih cocok dibaca oleh orang dewasa karena isinya merupakan sindiran untuk orang dewasa.

Dimulai dengan kisah seorang pilot yang pesawatnya jatuh di tengah gurun pasir. Tiba-tiba datang seorang anak yang memintanya menggambarkan domba. Sang pilot yang merupakan tokoh aku sangat heran dengan kedatangan seorang anak di tengah gurun pasir yang sangaaat jauh dari pemukiman tapi tidak terlihat tersesat.

Pangeran Kecil terus memintanya menggambarkan seekor domba. Akhirnya sang pilot mengeluarkan secarik kertas dan menggambarkan ini:

Dia tambah takjub karena anak itu bisa menebak gambarnya. Hayoo tebak, itu gambar apa? Lalu dia menggambarkan domba untuk Pangeran Kecil. Tapi gambarnya diprotes terus. Sampai gambar domba keeempat yang dia tutupi dengan kotak kayu. Pangeran kecil sangat senang, padahal gambar itu adalah keputusasaan pilot karena ketiga gambarnya tidak sesuai dengan domba yang diinginkan Pangeran Kecil.

Dari gambar domba itulah tersingkap identitas sang pangeran kecil. Dia berasal dari sebuah planet yang kecil. Planet yang tidak lebih besar dari sebuah rumah. Sang pilot menduga planet asal Pangeran Kecil adalah Asteroid B 612.

"Aku menceritakan semua detail mengenai Asteroid B 612 ini sampai menyebut nomornya, gara-gara orang dewasa. Orang dewasa menyukai angka-angka. Jika kalian bercerita tentang teman baru, mereka tidak pernah menanyakan hal-hal yang penting. Mereka tidak pernah tanya, "Bagaimana nada suaranya? Permainan apa yang paling disukainya? Apakah ia mengoleksi kupu-kupu? " Mereka bertanya, "Berapa umurnya? Berapa saudaranya? Berapa berat badannya? Berapa gaji ayahnya?" Hanya demikianlah mereka mengira dapat mengenalnya.

Jika kalian berkata kepada orang dewasa, "Aku melihat rumah yang bagus, dibuat dari batu bata merah muda dengan bunga kerenyam di jendela dan burung merpati di atapnya... ", mereka tidak dapat membayangkan rumah itu. Kita harus berkata begini, "Aku melihat rumah seharga 180 ribu franc. " Baru mereka akan berseru, "Aduh, betapa bagusnya!"

Maka jika kalian berkata kepada mereka, "Buktinya Pangeran Cilik itu ada, ialah ia sangat rupawan, ia tertawa, dan ia menginginkan seekor domba. Bila seseorang menghendaki seekor domba, itu buktinya ia ada", mereka akan mengangkat bahu dan mengatakan kalian hanya anak-anak.
Tapi jika kalian berkata, "Planet asalnya adalah Asteroid B 612", baru mereka akan merasa yakin dan tidak akan melelahkan kalian dengan pertanyaan lain. Begitulah mereka! Kalian tidak usah menyesali mereka. Anak-anak mesti berbesar hati terhadap orang dewasa.
(halaman 21)

Jadi Pangeran Kecil menginginkan seekor domba untuk memakan benih-benih pohon baobab di planetnya. Karena planetnya kecil, jadi benih-benih baobab harus rutin dibersihkan setiap hari. Kalau sampai tumbuh besar, kebayang kan akarnya bisa menghancurkan planet itu.

Tapi di planet Pangeran Kecil ada setangkai mawar cantik yang sangat dia cintai. Meskipun mawar itu sering mengomeli Pangeran Kecil dan sangat angkuh juga manja, dia tetap mempedulikannya. Mawar itu punya empat duri yang melindunginya, tapi mungkin domba tetap bisa memakannya.

Sebelum berkunjung ke planet bumi, dia mengunjungi Asteroid 325, 326, 327, 328, 329, dan 330. Asteroid pertama didiami seorang raja, planet kedua didiami seorang yang sombong, planet ketiga oleh seorang pemabuk, planet keempat didiami seorang pengusaha, planet kelima oleh seorang penyulut lentera, dan di planet keenam ada ahli ilmu bumi.

Kunjungan-kunjungan Pangeran Kecil ke planet-planet itu isinya sindiran-sindiran untuk orang dewasa. Percakapan-percakapan Pangeran Kecil dengan para penghuninya sangat menggelikan, sangat menyindir, dan sangat memberikan perenungan untuk orang dewasa. Di setiap planet itu Pangeran Kecil berkata "Orang dewasa benar-benar aneh. "

Saat sampai di Planet Bumi, dia bertemu ular di gurun. Pangeran Kecil sangat terkejut saat bertemu banyak bunga mawar di kebun. Selama ini dia pikir bunga mawarnya hanya satu-satunya sejenis di alam semesta. Bunga mawarnya yang berkata begitu. Ternyata dia menemukan lima ribu bunga mawar dalam satu kebun di planet bumi. Pangeran Kecil menjadi sedih.

Yang paling menarik adalah saat Pangeran Kecil bertemu dengan rubah. Saya suka peran rubah ini. Dulu dikocok sih, dan kebetulan saya mendapatkan peran sebagai rubah. Saya sangat senang bisa menjadi rubah. Dia sangat bijak dan memahami makna kehidupan. Jadi saya mau mengutip BAB XXI, bagian yang menurut saya paling menarik.

Pada saat itulah muncul seekor rubah.
"Selamat pagi, " kata rubah.
"Selamat pagi, " jawab Pangeran Cilik dengan sopan, sambil berpaling tetapi tidak melihat apa-apa.
"Aku di sini, di bawah pohon apel, " kata suara itu.
"Siapa kau? " tanya Pangeran Cilik. "Kau cantik betul... "
"Aku rubah, " kata rubah.
"Mari bermain denganku, " ajak Pangeran Cilik. "Aku begitu sedih..."
"Aku tidak dapat bermain denganmu, " kata rubah. "Aku belum jinak. "
"Ah, maaf, " kata Pangeran Cilik.
Tetapi setelah berpikir-pikir ia melanjutkan,
"Apa artinya jinak? "
"Kamu bukan orang sini, " kata rubah. "Apa yang kamu cari? "
"Aku mencari manusia, " kata Pangeran Cilik. "Apa artinya jinak?"
"Manusia," kata rubah, "mereka mempunyai senapan dan mereka berburu. Sangat menyusahkan! Mereka juga memelihara ayam. Itu saja yang menarik pada mereka. Kamu mencari ayam?"
"Tidak," kata Pangeran Cilik. "Aku mencari teman. Apa artinya jinak?"
"Sesuatu yang sudah terlalu lama diabaikan," kata rubah. "Artinya menciptakan pertalian..."
"Menciptakan pertalian?"
"Tentu," kata rubah. "Buatku, kamu masih seorang bocah saja, yang sama dengan seratus ribu bocah lain. Dan aku tidak membutuhkan kamu. Kamu juga tidak membutuhkan aku. Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi, kalau kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia..."
"Aku mulai paham," kata Pangeran Cilik. "Ada sekuntum bunga... Aku kira ia telah menjinakkanku."
"Mungkin saja," kata rubah. "Kita melihat macam-macam hal di Bumi."
"Oh, bukan di Bumi," kata Pangeran Cilik.
Rubah kelihatan sangat tertarik.
"Di planet lain?"
"Ya."
"Ada pemburu di planet itu?"
"Tidak."
"Nah, ini menarik. Ada ayam?"
"Tidak."
"Tidak ada yang sempurna," keluh rubah.

Tetapi rubah menyambung pikirannya:
"Hidupku menjenuhkan. Aku memburu ayam, manusia memburu aku. Semua ayam serupa, dan semua orang serupa. Aku jadi sedikit bosan. Tetapi kalau kamu menjinakkan aku, hidupku akan seolah-olah berseri. Aku akan mengenali bunyi suatu langkah yang berbeda dari semua langkah lain. Yang lain membuatku bersembunyi di dalam tanah. Langkahmu akan memanggil aku ke luar, seperti suatu musik. Dan lihatlah! Kamu lihat ladang gandum di sana? Aku tidak makan roti. Buat aku, gandum tidak ada gunanya. Ladang gandum tidak mengingatkan apa-apa. Nah, itu menyedihkan! Tetapi rambutmu berwarna keemasan. Maka akan indah sekali setelah kamu menjinakkan aku. Gandum yang keemasan akan mengingatkan aku padamu. Dan aku akan menyenangi suara angin di atas gandum..."
Rubah terdiam dan lama menatap Pangeran Cilik:
"Tolong jinakkan aku," katanya.
"Boleh saja," jawab Pangeran Cilik, "tetapi waktuku sedikit. Ada teman-teman yang harus kucari dan banyak hal yang harus kutemukan."
"Kita hanya mengenal apa yang kita jinakkan," kata rubah. "Manusia tidak sempat mengenal apa-apa lagi. Mereka membeli barang-barang yang sudah jadi dari pedagang. Tetapi karena tidak ada pedagang teman, manusia tidak mempunyai teman lagi. Kalau kamu ingin mempunyai teman, jinakkanlah aku."
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Pangeran Cilik.
"Harus sabar sekali," jawab rubah. "Kamu mula-mula duduk beberapa jauh dari aku, seperti itu, di rumput. Aku akan melirik kepadamu dan kamu tidak mengatakan apa-apa. Bahasa adalah sumber kesalahpahaman. Tetapi, setiap hari, kamu boleh duduk lebih dekat sedikit."

Pangeran Cilik datang kembali pada esoknya.
"Sebaiknya kamu datang pada waktu yang sama," kata rubah. "Kalau misalnya kamu datang pukul empat sore, maka pukul tiga aku sudah mulai senang. Semakin waktu berlalu, semakin aku bahagia. Pukul empat aku akan gugup dan gelisah, aku akan menemukan nilai kebahagiaan. Tetapi jika kamu datang kapan saja, aku tidak akan tahu jam berapa harus merias hati... Perlu ada ritual."
"Apa itu ritual?" tanya Pangeran Cilik.
"Itu pun sesuatu yang sudah terlalu lama diabaikan." kata rubah. "Ritual itulah yang membuat suatu hari berbeda dengan hari lainnya, suatu jam berbeda dengan jam lainnya. Pemburuku misalnya, mereka mempunyai satu ritual. Hari Kamis, mereka berdansa dengan gadis-gadis desa. Maka itu, hari Kamis adalah hari yang indah. Aku berjalan-jalan sampai ke kebun anggur. Kalau para pemburu berdansa kapan saja, maka semua hari akan serupa, dan aku tidak dapat berlibur."

Demikianlah Pangeran Cilik menjinakkan rubah. Dan waktu menjelang kepergiannya:
"Ah," kata rubah... "Aku akan menangis."
"Itu salahmu," kata Pangeran Cilik. "Aku tidak bermaksud jahat, tapi kamu yang mau dijinakkan..."
"Benar," kata rubah.
"Tapi kamu akan menangis," kata Pangeran Cilik.
"Benar," kata rubah.
"Jadi kamu tidak mendapat untung apa-apa."
"Tentu beruntung," kata rubah, "karena warna gandum."
Lalu tambahnya,
"Pergilah melihat bunga-bunga mawar itu lagi. Kamu akan mengerti bahwa bungamu satu-satunya di dunia. Lalu kamu kembali kemari untuk pamit, dan aku akan menghadiahkan suatu rahasia kepadamu."
Pangeran Cilik pergi melihat bunga-bunga mawar.
"Kalian sama sekali tidak sama dengan mawarku, kalian belum apa-apa," katanya pada mereka. "Kalian belum dijinakkan siapa pun, dan kalian belum menjinakkan siapa pun. Kalian seperti rubahku dulu. Hanya seekor rubah yang serupa dengan seratus ribu rubah lain. Tapi sudah kujadikan temanku, maka dia satu-satunya di dunia."
Bunga-bunga mawar merasa malu.
"Kalian cantik tapi hampa," katanya lagi. "Orang tidak akan mau mati bagi kalian. Bunga mawarku, bagi orang sembarangan, tentu mirip dengan kalian. Tapi ia setangkai lebih penting dari kalian semua, karena dialah yang telah kusirami. Karena dialah yang kuletakkan di bawah sungkup. Karena dialah yang kulindungi dengan penyekat. Karena dialah yang kubunuh ulat-ulatnya (kecuali dua-tiga untuk kupu-kupu). Karena dialah yang kudengarkan keluhnya, bualannya, atau malah kadang-kadang kebisuannya. Karena dialah mawarku."
Lalu ia kembali ke rubah.
"Selamat tinggal," katanya.
"Selamat jalan," kata rubah. "Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata."
"Yang terpenting tidak tampak di mata," ulang Pangeran Cilik agar tidak lupa.
"Waktu yang kamu buang untuk mawarmu, itulah yang membuatnya begitu penting."
"Waktu yang aku buang untuk mawarku..." kata Pangeran Cilik agar tidak lupa.
"Manusia telah melupakan kenyataan ini," kata rubah. "Tetapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab atas mawarmu..."
"Aku bertanggung jawab atas mawarku," ulang Pangeran Cilik agar tidak lupa.
(halaman 81-88)

Kalau kamu mengingat saya saat melihat sesuatu yang berwarna hijau, atau melihat laba-laba, atau jus wortel atau awug, atau sneaker?  Itu berarti kamu sudah saya jinakkan. Hihi. Beberapa orang pernah mengirim saya pesan seperti:
"Sin, aku lihat tarantula di Dunia Binatang di (stasiun tv)......., langsung inget kamu, haha." atau "Sin, kemarin aku beli awug enak, tiba-tiba inget kamu."

Kata-kata seperti itu terkadang membebani saya. Saya jadi merasa bertanggung jawab. Orang-orang yang telah saya jinakkan belum tentu telah menjinakkan saya. "Itu salahmu, saya tidak bermaksud jahat, tapi kamu yang mau dijinakkan..." LOL

Awalnya saya mengira novel ini tentang persahabatan, tapi sekarang saya baru sadar sebenarnya novel ini lebih cenderung tentang percintaan. Dalam biografi singkat di akhir novel ini diceritakan bahwa Le Petit Prince (Pangeran Cilik) ditulis dalam pengasingan pada masa perang oleh pria dewasa yang senang in action, yang dipaksa nonaktif, dan dibayangi situasi krisis di negara asalnya, membuat mereka yang akrab dengan kehidupan dan kematian Saint-ExupĂ©ry berpendapat Le Petit Prince (Pangeran Cilik)  adalah sepotong autobiografi―upaya untuk meredam kesulitan pernikahannya, atau untuk menangkis masa kini agar bisa terus mengenang dunia kanak-kanak, atau bahkan merupakan ucapan selamat tinggal atas kepergiannya yang misterius. (halaman 120)

Penulis memang seorang pilot pesawat tempur. Tapi dia juga mendapat banyak penghargaan di bidang sastra. Yang saya suka adalah ilustrasi-ilustrasi di dalam buku ini yang merupakan hasil gambaran Saint-Exupéry sendiri. Gambar-gambarnya sangat menarik karena seperti gambar anak-anak. Gambar yang masih polos, murni, dan jujur..

Akhir cerita novel ini adalah... Sad ending... Saya selalu menangis tiap kali membaca akhir dari novel ini.. Saya tidak mau menceritakan akhirnya di sini. Akhir yang menyedihkan, tapi sangat manis.. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan dari novel yang pernah disadur ke dalam 230 bahasa asing ini. Terutama sekarang, setelah saya menikah dan melahirkan anak. Saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah sekarang saya menjadi orang dewasa yang membosankan? Apakah sekarang saya bersikap seperti raja, orang sombong, pemabuk, pengusaha, penyulut lentera, atau ahli bumi?

Saya jadi memikirkan apa yang mungkin dipikirkan oleh Saint-Exupéry. Trauma masa kecil, kegagalan percintaan, konflik keluarga, dll. Mungkin karya ini adalah sebuah kesadaran dirinya, tapi sudah terlambat.. Mungkin ya.. Mungkin tidak..

Di buku ini juga ada pemaparan penerjemah Henri Chambert-Loir. Pantesaaaan. Saat baca buku ini lagi, kok terasa beda ya.. Ternyata buku ini diterjemahkan ulang. Yang jaman SMA saya baca diterjemahkan oleh Wing Kardjo (Hennywati,  Ratti Affandi, Tresnati, dan Lolita Dewi). Dalam review ini kan bercampur antara Pangeran Cilik dan Pangeran Kecil. Dulu saya sangat ingat terjemahannya menggunakan Pangeran Kecil, bukan Pangeran Cilik. Untuk yang pertama kali membaca terjemahan baru ini mungkin tidak masalah. Tapi saya yang dulu pernah membaca terjemahan hasil Wing Kardjo, jadi agak aneh saat membaca terjemahan baru ini. Apalagi dulu saya sempat menghapalkan naskah dramanya. Dulu setelah dramanya selesai, teman-teman di kelas jadi menggunakan Bahasa Indonesia yang sesuai EYD, sangat baku walaupun untuk percakapan sehari-hari. Kami tertawa-tawa geli saat bercakap-cakap dengan bahasa yang sangat baku. Itu menyenangkan. Menyenangkan karena rasanya lucu menggunakan bahasa baku untuk situasi dan kondisi yang tidak formal. Bahkan sampai kelas XII kami selalu tertawa saat bercakap-cakap karena bahasa baku dari Le Petit Prince sangat melekat di otak kami. Di terjemahan yang baru ini, bahasanya tidak terlalu baku. Untuk jadi buat, ingin jadi mau, melalui jadi lewat, dll. Tapi bagaimanapun juga esensi amanat cerita dapat tersampaikan.







Saturday, May 13, 2017

Dalam Dekapan Ukhuwah (Salim A. Fillah)

Ini buku Salim A. Fillah yang udah lama. Tapi saya baru beli saat ada bazzar di Landmark. Dulu pernah baca sekilas punya temen. Tapi sekilas. Sekarang baru bisa baca seluruhnya.

Seperti karya-karya Salim A. Fillah yang lainnya, saya selalu kagum dengan tiap untaian kata yang ditorehkan oleh penulis. Kalimat-kalimat yang indah menyejukkan hati yang membacanya, menusuk tajam, menampar keras. Emosi saya diaduk-aduk oleh kisah-kisah yang disajikan dengan penuh makna. Nalar saya dibuat berpikir di setiap perenungan yang mendalam. Tapi aplikasinya wallahu'alam, pastilah sangat berat.

Anatomi buku ini:
Judul: Dalam Dekapan Ukhuwah
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Tahun terbit: 2010
Jumlah halaman: 472
Dimensi: 14 cm X 20 cm
Harga: Rp 74.000

Saat membaca buku ini saya bertekad untuk bertemu teman-teman yang sudah lama tidak saya temui beberapa

Wednesday, May 3, 2017

Aku Punya Bayi (Ummu Syifa Jauza)

Pekan kemarin saya abstain ga nulis. Bulan ini bisa ga ya mereview lima buku.. Sebenarnya saya belum selesai baca buku pekan kemarin. Jadi saya akan mereview buku yang sudah selesai saya baca saja.

Buku ini saya beli saat sedang hamil berdasarkan rekomendasi teman saya Eika Vio.

Waktu itu saya sedang bimbingan skripsi di kampus. Eika juga lagi ada acara di kampusnya yang dekat dengan kampus saya. Jadi kami janjian di Cibiru untuk melakukan transaksi.

Judul: Aku Punya Bayi
Penulis: Ummu Syifa Jauza
Penerbit: Pro-U Media
Tahun terbit: 2009
Jumlah halaman: 183
Dimensi: 13,7 cm X 19,5 cm
Harga: Rp 24.000

Di awal buku ini langsung ada glosarium sebanyak 4 halaman berisi istilah-istilah asing yang akan ditemui dalam isi buku ini.

Sunday, April 23, 2017

Bintang Kedelapan (Ina Inong & Masagung Darojatun)

Sudah lama saya ingin membeli buku Halo Balita. Terlepas dari kontroversi penerbitnya, saya pikir isinya aman. Dulu saya pernah membaca buku-buku yang sepaket di sekolah alam tempat saya pernah mengajar.

Inginnya sih beli yang sepaket, sama e-pennya juga. Tapi belum memungkinkan saat melihat harganya. Jadi ketika ada teman yang jual retail, beli deh. Saya beli dua, yang satu judulnya Jam Marah-Marah yang mengajarkan tentang kemandirian. Yang satu lagi ini, Bintang Kedelapan tentang kasih sayang.

Saya pilih judul ini karena saya suka hal-hal tentang astronomi, dan saya paling suka angka 8. Motif utamanya sih agar Hawnan ga ngacak-ngacak buku-buku saya kalau sudah punya buku sendiri.

Judul: Bintang Kedelapan
Penulis: Ina Inong
Ilustrator: Masagung Darojatun
Penerbit: Pelangi Mizan

Tuesday, April 18, 2017

GIVEAWAY: The Devil's Whisper (Miyuki Miyabe)

Buku ini juga saya beli di Landmark. Akhirnya selesai juga baca novel yang satu ini. Pekan kemarin banyak gangguan sehingga postingan saya terlambat, biasanya hari sabtu kan.. Gadget yang ngehang terus lah, mati listrik tiap malem lah, signal lenyap lah. DLL (Dan Lupa Lagi). Alibi. Hehe

Saya tidak kecewa telah membaca novel ini. Tidak heran kalau Miyuki Miyabe disebut sebagai penulis novel misteri terlaris di Jepang.

Membaca novel ini jadi ingat karya-karya Dan Brown. Alurnya yang maju-mundur benar-benar mencengangkan. Miyabe juga dapat mendeskripsikan hal-hal dengan baik. Saya seperti melihat dengan nyata suasana kota Tokyo di musim dingin bulan November  yang menjadi latar utama pada novel ini.

Belum lagi tokoh-tokoh yang kuat dengan karakternya masing-masing. Dan tentu saja banyak kejutan-kejutan tidak terduga pada setiap alurnya. Itu yang paling saya suka dari novel-novel bergenre mistery thriller.

Anatomi buku ini:
Judul: The Devil's Whisper
Judul asli: Majutsu Wa Sasayaku

Friday, April 7, 2017

UFO & NAZI Sebuah Konspirasi? (Koen Setyawan)

Ini juga buku yang saya beli di Pesta Buku Landmark. Untuk yang sudah kenal saya kayaknya ga aneh kalau saya beli buku ini. Untuk yang masih heran kenapa saya beli buku seperti ini, alasan singkatnya adalah "Karena saya suka." Udah gitu aja. :v 

Anatomi buku ini:
Judul: UFO & NAZI Sebuah Konspirasi
Penulis: Koen Setyawan
Penerbit: EsaMedia
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 145
Dimensi: 13,6 cm X 20,5 cm
Harga: Rp 43.000

Untuk para penggemar teori konspirasi buku ini menarik sekali. Mungkin masih ada yang belum bisa menerima keberadaan UFO, tapi penjelasan di buku ini membuat semua laporan penampakan UFO terasa masuk akal. 

Di halaman 5 dijelaskan mengenai istilah UFO yang sangat terkenal pada tahun 1950-an, terutama ketika ketegangan meningkat saat perang dingin antara Rusia (Uni Soviet) dan Amerika Serikat. Kepanjangan dari UFO udah pada tau

Friday, March 31, 2017

Coloring Book For Adult Beautiful Nature Garden, Flower, Plant, Animal, & Ocean Edition (Erlangga Bagus Sulistyo)


Selain membaca, hobi saya menggambar dan mewarnai. Waktu itu nemu buku ini di mini market deket rumah (yaelah, beli buku di mini market lagi, wkwkwk).

Warna hijau dari covernya sangat menarik perhatian saya. Secara, warna favorit saya hijau. Ada gunting lucu warna hijau, beli. Ada pulpen lucu warna hijau, beli. Ya gitu, jadinya belanja impulsif kalau nemu yang warna hijau. Tapi liat-liat isi dompet juga. Kalau nemu yang warna hijau tapi tidak terjangkau oleh isi dompet ya cuman bisa ngiler doang, ga dibeli. Hehe.

Sebelum nemu buku ini saya memang sudah googling tentang terapi mewarnai untuk relaksasi. Banyak yang menyediakan coloring pages for adult untuk didownload secara gratis. Tapi ya gitu, harus diprint sendiri. Untuk saya yang sekarang tinggal di tempat yang jauh "kemana-mana", ga ada printer, ngegambar sendiri sering males, dan alasan-alasan lain yang dibuat-buat pokonya, jadilah keinginan untuk mewarnai tidak terealisasikan.

Jadi waktu di Bandung, nemu buku ini di mini market, langsung deh pulang dulu. Pulang dulu karena

Friday, March 24, 2017

Change Your Handwriting Change Your Life (Valencia Penny, Dip CSG)


Tidak perlu dijelaskan lagi kan tentang ketertarikan saya terhadap grafologi. Buku ini sepaket dengan pelatihan grafologi di Hotel Promenade Bandung pada tanggal 12 Maret kemarin. Tapi saya ga ikut pelatihannya. Hiks.

Jadi waktu itu tanggal 26 Februari kebetulan saya lagi ke Bandung dalam rangka menyehatkan kondisi saya yang saat itu sedang sakit.

Sebetulnya lima hari saya sudah membaik dan tinggal recover sedikit lagi. Tapi karena ternyata teman saya ada yang menikah tanggal 11 Maret jadi saya berniat menunda kepulangan saya ke Bogor.

Lalu saya menemukan iklan seminar grafologi tanggal 12 dengan harga yang menurut saya lumayan terjangkau karena dapat bonus buku yang ditulis langsung oleh pembicarannya.

Pembicara dan penulis buku ini saya telusuri dan memang merupakan pakar di bidangnya. Saya benar-benar tertarik tentang alasan beliau mempelajari grafologi secara serius sampai mengambil studi grafologi di Cambridge.

Beliau adalah ibu dari dua orang anak yang mulai menginjak remaja. Atas dasar untuk melindungi

Tuesday, March 14, 2017

GIVEAWAY: Hercule Poirot dan Pesta Pembunuhan (Agatha Christie)

Ini adalah salah satu buku yang saya beli di Landmark Convention Hall Bandung pada event Pesta Buku. Saya ke sana tanggal 3 Maret kemarin.

Niatnya mau beli kado buat teman yang mau nikah (alibi). Tapi tentu saja ada niat terselubung untuk memborong buku-buku yang lain (ini salah satunya). Kapan lagi coba saya ada di Bandung pas kebetulan ada discount besar-besaran. Hahah.

Setelah selesai membeli buku untuk teman saya yang akan menikah (sekarang sudah menikah) saya cuci mata ke setiap gerai yang ada di sana. Waktu melihat novel-novel di salah satu gerai, mata saya langsung tertuju pada buku ini.

Novel selalu menjadi favorit saya dari dulu. Tapi saya hanya menyukai novel yang bergenre thriller atau mystery. Beberapa teman mungkin heran saya yang suka baca novel belum pernah baca Ayat-Ayat Cinta atau novel-novel sejenis itu. Bukannya tidak suka, but that's not my area. Wkwkwk. Setiap orang punya selera yang berbeda-beda kan.

Penulis favorit saya Sir Arthur Conan Doyle. Tapi bukan berarti saya tidak membaca karya Agatha Christie. Ya dibandingkan Conan Doyle, Agatha Cristie lebih memasukkan emosi pada novelnya. Mungkin karena dia wanita.

Tuesday, March 7, 2017

Percakapan dan Tata Bahasa Jepang (Herpinus Simanjuntak)

Ini buku ketiga lanjutan dari cerita review dua pekan yang lalu. Masih tentang buku pelajaran Bahasa Jepang.
Judul: Percakapan dan Tata Bahasa Jepang
Penulis: Herpinus Simanjuntak
Penerbit: Kesaint Blanc
Tahun terbit: 2008
Jumlah halaman: 99
Dimensi: 13 cm X 20 cm
Harga: Rp 20.000

Buku ini menjelaskan secara sederhana dan sistematis dasar-dasar tata bahasa Jepang berupa uraian singkat dan contoh-contoh kalimat sederhana. Disertai pula dengan ungkapan sehari-hari dan latihan-latihan penunjang.

Menurut saya kelebihan buku ini ada pada renshuu (latihan) yang lebih banyak, sehingga pembelajar bisa mengeksplorasi setiap pembelajaran dengan maksimal.

Saya tertarik membeli buku ini karena terdapat tabel perubahan kata kerja yang lengkap. Bentuk infinitif, bentuk

Monday, February 27, 2017

Nihongo No Tekisuto (Muchlis V. Pora)

Lanjutan review pekan kemarin. Kan ada tiga buku tuh ceritanya, ini juga termasuk dari buku yang ditraktir sama ibu dan bibi di palasari.

Judul: Nihongo No Tekisuto
Penulis: Muchlis V. Pora
Penerbit: Kesaint Blanc
Tahun terbit: 2006
Jumlah halaman: 111
Dimensi: 13 cm X 20 cm
Harga: Rp 20.000

Buku ini memuat bunpoo (tata bahasa), ungkapan sehari-hari, beberapa kaiwa (percakapan), latihan soal, serta daftar goi (kosakata).

Untuk buku yang memiliki dimensi cukup kecil dan sedikit halaman, saya cukup menyukai isinya. Terutama ungkapan sehari-hari, goi dan kaiwanya.

Ungkapan sehari-hari yang membuat saya lebih enjoy seperti nonton anime. Ya, ungkapannya tidak formal,

Tuesday, February 21, 2017

The Secret of Signature (Listiani Aslim, MBA., CBA., CMHA.)

Saya sudah tertarik dengan grafologi dari SMP semenjak baca novel Sherlock dan ada analisis tentang tulisan tangan di kasus The Adventure of the Raigate Squire dan The Adventure of the Norwood Builder. Saya penasaran benarkah tulisan tangan anak ada kecenderungan dengan tulisan tangan orang tuanya? Benarkah tulisan tangan bisa menunjukkan kepribadian seseorang atau kondisi lingkungan orang saat menulisnya? 

Ketertarikan saya bertambah saat guru sastra saya di SMA menganalisis hal-hal detail tentang saya melalui tulisan tangan saya. Saya malu juga saat beliau mengungkapkan analisisnya di depan kelas. Teman-teman sekelas waktu itu banyak yang melongo tidak percaya. Saat beliau ke luar kelas dan teman-teman bertanya penuh penasaran pada saya, dengan tegas saya menolak kebenaran analisis itu padahal dalam hati mengakui sebagian besar kebenarannya.

Saat kuliah seorang pembicara yang sering saya undang untuk mengisi pelatihan di kegiatan organisasi juga mempelajari dan menjadi pakar grafologi yang dikhususkan pada tanda tangan makin membuat saya penasaran. Apakah ilmu grafologi ini benar-benar bisa diterapkan? Sejauh mana pengaruh grafologi pada kehidupan manusia? 

Jadi saat ke Palasari dan ada yang berniat mentraktir saya buku, saya pilih buku ini yang kebetulan judulnya tertangkap mata saya. Waktu itu saya dan ibu jalan-jalan (lupa ke mana) dengan bibi dan sepupu. Pulangnya bibi mampir ke palasari mencari buku latihan UN untuk anaknya. Saat itu saya sedih harus ke toko buku tapi saldo di dompet saya sedang tidak mendukung. Ibu saya sepertinya menangkap ratapan kesedihan saya. Tiba-tiba ibu

Monday, February 13, 2017

Poconggg Juga Pocong (@Poconggg)

Buku ini sebenarnya aneh. Ya aneh juga saya mau beli buku aneh gini. Sejarahnya dulu pas waktu kuliah saya mampir di salah satu mini market deket kampus buat beli roti karena pagi itu ga sempet sarapan. Dan saya ga bisa engga, wajib harus kudu sarapan. Kalau kelewat sarapan biasanya langsung tepar, jadi lebih baik telat aktivitas daripada telat sarapan karena aktivitas saya akan berantakan kalau sarapan lewat. Tapi waktu itu saking buru-burunya takut macet dan ga boleh telat ke kampus, jadi saya ga sarapan di rumah.

Setelah ngambil roti dan hendak ke kasir, saya melirik rak buku sejenak. Lho, kok di mini market ada rak buku? Karena masih ada antrian di kasir, jadi saya sempetin liat-liat isi rak buku. Dan nemu buku ini. Waktu itu saya mengernyit saat baca judulnya, terus baca cover belakangnya.

Enggak tau kenapa tiba-tiba teringat teman sekelas saya di SMA. Dia punya phobia sama yang namanya "Pocong". Ya mungkin rakyat Indonesia yang pernah nonton film horror pasti punya kesan menakutkan tersendiri terhadap salah satu tokoh hantu lokal Indonesia yang satu ini. Padahal kita umat muslim pasti didandanin kayak gini kan kalau ntar meninggal. -_-"Tapi temen saya ini yang nama panggilannya Gwen dan bercita-cita ingin jadi artis kalau tidak ada aral melintang, tingkat ketakutannya sangat berlebihan. Dia akan langsung jerit-jerit dan nangis kalau ada yang mengucapkan kata "Pocong" atau menunjukkan gambar pocong di dekatnya. Jadi apa hubungannya saya beli ini sama Gwen? Ya, niatnya sih pengen nyuruh dia baca buku ini biar dia ga terlalu phobia. Kenapa?

Tuesday, February 7, 2017

Asas-Asas Katakana (Anne Matsumoto Stewart)


Buku ini sangat bermanfaat bagi saya dan orang-orang yang ingin menguasai katakana dengan mudah. Menurut saya katakana memang lebih mudah daripada kanji. Tapi lebih sulit dibandingkan hiragana. Itu karena katakana yang fungsinya untuk menuliskan kosakata asing mempunyai lebih banyak karakter dan kombinasi huruf daripada hiragana.

Waktu itu saya menemukan buku ini di rak buku bibi saya. Bibi saya guru Biologi, tapi temannya meminjamkan buku ini. Saya heran juga bibi saya belajar tentang B. Jepang. Lalu saya pinjam dan latihan menulis sesuai buku ini. Benar-benar terasa mudah.

Anatomi buku ini:
Judul: Asas-Asas Katakana
Judul asli: All About Katakana
Penulis: Anne Matsumoto Stewart
Penerjemah: Nasir Ramli
Penerbit: Kesaint Blanc Oriental
Penerbit asal: Kodansha International
Tahun terbit: 1996
Jumlah halaman: 196

Monday, January 30, 2017

Wonderful Couple (Cahyadi Takariawan)

Ini buku yang udah lama juga saya beli. Waktu itu belinya sepaket sama Wonderful Family, Wonderful Husband, dan Wonderful Wife. Jadi ada potongan harga tambahan. :D

Sekarang Pak Cah udah nulis buku baru juga judulnya Wonderful Marriage. Jadi kalau sekarang sepaketnya ada 5 buku. Saya beli di Sehati Book Store punya temen saya Eika Vio dan suaminya Kang H.D. Gumilang. Waktu itu belinya via WA. Bukunya langsung diantar jadi bebas ongkir juga deh. Hehehe.

Anatomi buku ini:
Judul: Wonderful Couple (Menjadi Pasangan Paling Bahagia)
Penulis: Cahyadi Takariawan
Penerbit: Era Adicitra Intermedia
Tahun Terbit: 2015
Jumlah halaman: 354

Monday, January 23, 2017

Proyek Pemelajaran yang Diperkaya (James Bellanca)

Saya akan mereview salah satu buku yang ada di rak buku saya. Ini buku lama, tapi saya baca kembali karena belum beli buku lagi. Hehe. Ini adalah buku yang saya butuhkan saat menyusun skripsi saya di tahun 2013 dan baru beres tahun 2014. Judul skripsi yang saya ambil saat itu adalah "Pengaruh Model Project Based Learning terhadap Keterampilan Proses Sains pada Konsep Daur Air di Kelas V Sekolah Dasar.

Waktu itu saya sulit sekali menemukan buku tentang Project Based Learning yang berbahasa Indonesia. Kebanyakan buku tentang model-model pembelajaran yang didalamnya hanya ada sedikit informasi mengenai PoBL. Saya diminta untuk mencari buku yang didalamnya khusus mengenai PoBL oleh dosen pembimbing. Tapi ternyata sulit menemukannya.

Di perpustakaan kampus tidak ada, di Bapusipda juga tidak ada. Saya banyak menemukan e-booknya yang berbahasa Inggris. Dosen pembimbing juga memberikan banyak e-book yang relevan dalam bahasa Inggris. Tapi saya butuh tambahan buku yang berbahasa Indonesia di sumber pustaka. Masa sih ga ada?

Kalau Problem Based Learning sih banyak. Tapi masa Project Based Learning ga ada sama sekali? Akhirnya saya cari ke palasari. Itu pilihan terakhir saya karena ga bisa dapat yang gratisan. Dulu saya mencari berjam-jam di salah satu toko buku palasari yang terkenal sangat lengkap, banyak diskonnya, dan buku yang kita beli langsung diberi sampul plastik tebal tanpa biaya tambahan.

Monday, January 16, 2017

Lapis-Lapis Keberkahan (Salim A. Fillah)

Waktu liburan di Bandung kemarin, saya sengaja ke toko buku Mufti di seberang Surapati Core. Niatnya beli Buku Salim A. Fillah, Barakallah Bahagianya Merayakan Cinta untuk kado pernikahan saudara. Tapi eh tapi, saya jadi "kabita" beli buku buat sendiri juga. Jadilah saya beli Buku ini, Lapis-Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah juga. Harganya 100K, tapi saya dikasih diskon 20%. Hehe.

Saat pertama baca prolognya saya langsung nangis disuguhi untaian kalimat Salim A. Fillah yang nyastra banget nyeritain kisah Rasulullah yang ditanya oleh Aisyah tentang masa terberatnya. Jawaban sang guru peradaban pokonya bikin baper banget lah. Ya Allah, baru prolog aja buku ini udah buat saya nangis.

Ada juga kisah mitologi Sisyphus tentang perbedaan sudut pandang makna kebahagiaan. Dilanjutkan dengan kisah Halimah yang menjadi ibu persusuan sang nabi. Bagaimana keberkahan muncul bertubi-tubi saat Muhammad diambil olehnya. Dan kisah-kisah lainnya yang
mengupas makna keberkahan berdasarkan Al-Qur'an dan hadits.

Ada juga kajian huruf berdasarkan ilmu bahasa arabnya seperti makna turunan kata dalam bahasa arab. Saya pribadi yang ga ngerti bahasa arab cuman bisa bergumam "ooooh..". Jadi tau beberapa kosa kata bahasa arab. Ya intinya buku ini menyadarkan bahwa keberkahan bukan hanya terdapat pada kebahagiaan atau keberlimpahan saja, tapi dalam kekurangan dan kesedihan pun bisa jadi ada keberkahan. Buku ini cocok untuk dibaca siapapun yang ingin lebih memaknai hidupnya sebagai manusia.