Saturday, May 13, 2017

Dalam Dekapan Ukhuwah (Salim A. Fillah)

Ini buku Salim A. Fillah yang udah lama. Tapi saya baru beli saat ada bazzar di Landmark. Dulu pernah baca sekilas punya temen. Tapi sekilas. Sekarang baru bisa baca seluruhnya.

Seperti karya-karya Salim A. Fillah yang lainnya, saya selalu kagum dengan tiap untaian kata yang ditorehkan oleh penulis. Kalimat-kalimat yang indah menyejukkan hati yang membacanya, menusuk tajam, menampar keras. Emosi saya diaduk-aduk oleh kisah-kisah yang disajikan dengan penuh makna. Nalar saya dibuat berpikir di setiap perenungan yang mendalam. Tapi aplikasinya wallahu'alam, pastilah sangat berat.

Anatomi buku ini:
Judul: Dalam Dekapan Ukhuwah
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Tahun terbit: 2010
Jumlah halaman: 472
Dimensi: 14 cm X 20 cm
Harga: Rp 74.000

Saat membaca buku ini saya bertekad untuk bertemu teman-teman yang sudah lama tidak saya temui beberapa
bulan ke belakang. Sesungguhnya saya menyadari bahwa kondisi iman saya sedang terjun menurun. Amalan-amalan yaumiyah saya entah kemana hilangnya. Seolah saya hanya mampu untuk melaksanakan yang wajib saja. Kemungkinan besar itulah yang menyebabkan saya tidak menghadiri lingkaran selama berbulan-bulan. Karena frekuensi keimanan saya sedang lemah-lemahnya.

Tapi saya memaksakan hadir kembali saat mulai tenggelam dalam buku ini. Buku ini memotivasi saya untuk tetap bersama mereka sahabat-sahabat yang bisa menguatkan saya, mengingatkan saya kepada Allah. Dan begitulah adanya. Walaupun hanya bertemu atau sekedar mengobrol ringan bersama mereka, semangat saya kembali lagi. Sungguh, semangat ruhiyah yang kuat itu menular. Saya benar-benar bersyukur bisa bertemu mereka lagi. Saya benar-benar bersyukur bisa membaca buku ini.

Beberapa kutipan yang saya suka dari buku ini (sebenarnya saya suka semua kata-kata dalam buku ini, tapi masa iya saya tulis semua isi bukunya di sini):

Alangkah syahdu menjadi kepompong, berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi bila tiba waktu untuk jadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari, melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia.

Alangkah damai menjadi bebijian, bersembunyi di kegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjaman, dalam-dalam. Tapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar, tak ada pilihan kecuali menyeruak menampilkan diri, bercecabang menggapai langit, membagikan buah manis di tiap musim pada segenap penghuni bumi. (halaman 7)

Saya langsung teringat teman-teman saya yang langsung turun ke lapangan untuk menebar manfaat walaupun mereka pasti punya kesibukan masing-masing. Tapi mereka tidak menjadikan kesibukan pribadinya sebagai alasan untuk terjun ke masyarakat. Nah saya gimana? Saya merasa ditampar, merasa hanya benih yang tidak pernah tumbuh.

Pada dasarnya tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya. (halaman 11)

Kutipan itu mengiringi kisah Narcissus. Saya sekarang jadi tau dari mana kata "Narsis" berasal.

Bercerminlah, tapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang. Menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak terkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya. (halaman 14)

Saya langsung tersindir. Walaupun jarang lisan saya berucap, tapi saya harus mengakui seringkali melintas di pikiran saya "Kok dia kayak gitu sih. Kok dia kayak gini sih." Yah semacam itu lah. Walaupun hanya terlintas di pikiran, seharusnya saya lebih banyak berpikir "Kok saya bisa melihat kekurangan dan kesalahan orang lain sejelas itu ya.. Berarti saya harus memperbaiki diri dan lebih fokus agar bisa melihat bahwa kekurangan dan kesalahan saya lebih banyak dari orang lain. "

Kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian. Hanya saja.. Ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya. Sementara yang lain menghuni kamar berjendela.  -Kahlil Gibran- (halaman 16)

Baca ini pas saya sedang merasa sendiri. Kesindir lagi, mungkin saya yang memilih untuk merasakan kegelapan. Bisa saja kan kalau saya mau untuk "membuat dan membuka jendela" agar cahaya dan udara segar bisa masuk.

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut
Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah sekalian orang gusar
-Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas- (halaman 23)

Ini mengingatkan saya untuk tetap menjaga lisan agar tidak ada kata-kata kasar atau kata-kata menyakitkan lainnya yang mungkin membuat orang tidak nyaman. Tapi terkadang masih sulit untuk mengendalikan bahasa tubuh. Mungkin secara tidak sadar ada masih bahasa tubuh saya yang menyinggung perasaan orang lain..

Persaudaraan iman jauh lebih kuat, mengalahkan persaudaraan nasab. Dan bahkan persaudaraan nasab seolah tiada, hampa, tak bernilai, jika tiada aqidah yang mengikat hati mereka pada satu keyakinan yang sama. (halaman 29)

Ini membuat saya bersyukur. Ya, saya bersyukur keluarga saya memiliki aqidah yang sama. Kisah Mush'ab ibn 'Umair dan Abu 'Aziz ibn 'Umair pasca perang Badar membuat saya menangis.

Saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh.
Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan.
Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai.
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita.
Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil.
Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja.
Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping. (halaman 31)

Nah ini asli nyindir saya banget. Iman saya yang compang-camping.. Ini yang membuat saya bertekad untuk membersamai mereka lagi. Tapi untuk itu saya harus merenovasi iman saya. Menambal amalan-amalan sunnah saya yang sudah berlubang-lubang. Itu satu-satunya cara agar saya bisa kembali nyaman melingkar bersama mereka. Saya harus menyamakan kembali frekuensi dengan mereka.

Andai si biji hanya menumbuhkan akarnya
Tanpa kehendak untuk tampil dengan batang
Menggapai langit dengan ranting dan cabang
Jadilah dia bangkai
Yang layaknya memang terkubur dalam-dalam (halaman 58)

Ini pengingat saya untuk menebar kebaikan pada masyarakat. Saya merasa belum bisa bersosialisasi dengan baik. Saya merasa belum bisa memberikan apa-apa untuk mereka.. Saya merasa seperti bangkai yang memang layak terkubur dalam-dalam. :(

Berdirimu di waktu malam, sujudmu yang dalam
Mengokohkan hatimu melebihi gunung membiru
Lalu kau terima beban untuk mencintai semesta
Membagi senyum ketika kau terluka
Memberi minum ketika kau dahaga
Menghibur jiwa-jiwa ketika kau berduka (halaman 68)

Ya, saya harus bisa menghidupkan kembali malam-malam saya dengan sujud yang dalam. Sekarang ini memang jadi terasa sulit. Tapi mudah-mudahan bisa kembali merasakan ketenangan berdua-duaan dengan Sang Penguasa Alam Semesta agar hati saya bisa kokoh dan selalu tersenyum.

Semua orang yang ada dalam hidup kita
Masing-masingnya, bahkan yang paling menyakiti kita
Diminta untuk ada di sana
Agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka (halaman 83)

Ya, semua orang yang pernah hadir dalam kehidupan saya adalah berharga. Mereka membentuk saya menjadi seperti sekarang ini. Kalau mereka tidak ada, saya pun tidak akan ada. Mereka yang memberi kebahagiaan, kesedihan, dan emosi-emosi lainnya.. Keluarga, teman-teman, guru-guru, murid-murid, musuh, bahkan orang-orang yang melintas di jalan yang saya tidak kenal.. Mereka adalah tempat saya belajar. Belajar mengenali diri sendiri.

"Jika Anda membenci seseorang, " demikian ditulis oleh penyair besar Jerman Herman Hesse, "Anda sebenarnya membenci sesuatu dalam dirinya yang merupakan bagian dari diri Anda. Apa yang bukan merupakan bagian dari diri Anda sendiri sama sekali takkan mengganggu Anda. "

Maka saat kita berkaca, menemukan aib pada kawan perjalanan itu sungguh sama artinya dengan menemukan aib kita. Dalam dekapan ukhuwah, setiap saudara adalah tempat kita bercermin untuk melihat bayang-bayang kita. Seperti sabda Sang Nabi, "Mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain. " Dalam hening kita mematut diri di depannya, lalu kita sempatkan untuk bertanya, "Adakah retak-retak di sana? "

Seringkali memang ada retak menghiasi bayangan kita dalam kaca. Dalam dekapan ukhuwah, kita diajarkan bahwa retak itu bukan terletak pada sang kaca. Retak itu justru mungkin terdapat pada sekujur diri kita yang sedang berdiri di depannya. Lalu kita pun merapikan diri lagi, menata jiwa, merekatkan retakan-retakan itu hingga sang bayangan turut menjadi utuh.

Makna bercermin tak berhenti di situ. Dalam dekapan ukhuwah, kita juga tahu, menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak terkenan di hati dalam gambaran itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.

Bahkan jikapun sang cermin buram, barangkali noda itu disebabkan hembusan nafas kita yang terlalu banyak mengandung asam arang dosa.

Dalam dekapan ukhuwah, kita menginsyafi bahwa diri kita adalah orang yang paling memungkinkan untuk diubah agar segala hubungan menjadi indah. Kita sadar bahwa diri kitalah yang ada dalam genggaman untuk diperbaiki dan dibenahi. Kita mafhum, bahwa jiwa kitalah yang harus dijelitakan agar segala bayang-bayang yang menghuni para cermin menjadi memesona. Dalam dekapan ukhuwah, biarkan sesama peyakin sejati sekedar memantulkan kembali keelokan akhlak yang kita hadirkan.
(halaman 90-91)

Makjleb banget tuh.

Jika satu-satunya alat yang kau miliki adalah palu
Kau akan cenderung melihat segala hal sebagai paku
-Abraham H. Maslow- (halaman 116)

"Katakan yang benar, " begitu Rasulullah bersabda dalam riwayat Al-Baihaqi dari Abu Dzar Al-Ghiffari, "Meskipun pahit. " Beberapa ulama fiqh memasukkan hadits ini dalam pembahasan Kitaabut Tijarah, kitab perdagangan. Khususnya bab tentang para pedagang. Konteksnya adalah, agar para pedagang berlaku jujur dan terbuka terkait keadaan barang dagangannya.

Kita mendapat pelajaran berharga dari sabda Sang Nabi dalam riwayat Imam Al-Baihaqi ini. Jika para pedagang mengatakan yang benar meski pahit, dalam kasus mereka, bagi siapakah kepahitan yang dimaksud oleh hadits ini? Benar. Kepahitan itu bagi yang mengucapkannya. Katakan yang benar, meski dengan demikian kita yang mengucapkannya merasa sakit, menanggung rugi, dan bahkan ditimpa bangkrut. Kepahitan itu sama sekali bukan bagi yang mendengarnya. Sebab andai begitu, sabda beliau Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam mungkin akan berbunyi, "Dengarkanlah yang benar, meskipun pahit." (halaman 118-119)

Saya sering mendengar hadits itu. Tapi saya baru tahu konteksnya. Intinya saya harus lebih pandai menjaga lisan lagi.

Jika sebuah penghinaan tak lebih mengerikan
Dibanding apa yang Allah tutupi dari kesejatian kita
Maka bukankah ia adalah sebait sanjungan? (halaman 201)

Nah ini. Kadang saya merasa sakit hati dengan kata-kata orang lain. Tapi setelah dipikir-pikir, bener juga ya. Caci maki orang terhadap saya sesungguhnya adalah pujian. Karena aib saya bahkan lebih besar daripada caci maki mereka. Namun Allah menyembunyikannya dari pandangan mereka sehingga mereka hanya mengetahui sedikit saja.

Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
Memaksakan kasut besar untuk tapak mungil akan merepotkan
Kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi (halaman 254)

Suka banget kutipan yang ini. Kisah Umar yang tidak memaksa Utsman untuk membantunya mencari unta zakat yang lepas di tengah di angin ganas gurun pasir padahal Utsman sangat ingin membantu. Tapi Umar melarangnya karena Umar sangat mengenal Utsman.

Umar memang bukan Utsman, dan demikian juga sebaliknya. Mereka berbeda dan masing-masingnya menjadi unik dengan karakter khas yang dimiliki. Seorang jagoan yang biasa bergulat di Pasar Ukazh, yang tumbuh di tengah klan Bani Makhzum nan keras dan Bani Adi nan jantan kini telah menjadi pemimpin orang-orang mukmin. Maka sifat-sifat itu―keras, tegas, jantan, bertanggungjawab, dan ringan turun gelanggang―dibawa Umar untuk menjadi buah bibir kepemimpinannya hingga hari ini.

Utsman, lelaki pemalu, datang dari keluarga Bani Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman. Umar tahu itu. Maka tak dimintanya Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Itu bukan kebiasaan bagi Utsman. Kedermawananlah yang menjadi jiwanya. Andai jadi dia menyuruh seorang sahayanya mengejarkan unta zakat itu, sang budak pasti dibebaskannya karena Allah dan dibekalinya bertimbun dinar jika berhasil membawa sang unta pulang.
(halaman 255-256)

Ada juga kisah Rasulullah yang bersikap berbeda pada Sa'd ibn Abi Waqqash dengan kepada Abu Bakar. Rasulullah tidak keberatan ketika Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya.

"Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu? " tanya Sang Nabi. Abu Bakar biasanya menjawab, "Kutinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya."
Dan Rasulullah akan mengangguk. Beliau tak keberatan.
Tetapi kepada Sa'd, kalimat beliau berbunyi, "Sesungguhnya engkau tinggalkan keluargamu dalam keadaan kaya dan mampu adalah lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta." Apa perbedaan di antara mereka berdua?
(halaman 257)

Kalau mau tahu analisisnya, baca saja buku ini deh ya, kepanjangan. Hehe.

Dalam dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi. Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya. (halaman 259)

Terutamanya untuk diri saya pribadi. Jangan sampai saya membandingkan anak saya dengan anak lain, suami saya dengan laki-laki lain, orang tua saya dengan orang tua lain, atau membandingkan diri saya sendiri dengan ibu-ibu lain. Setiap orang berbeda. Mudah-mudahan saya bisa selalu mengingatkan diri dengan hal ini agar saya senantiasa bersyukur.

Nasehati aku di kala kita hanya berdua
Jangan meluruskanku di tengah ramai
Sebab nasehat di depan banyak manusia
Terasa bagai hinaan yang membuat hatiku luka
-Asy-Syafi'i, Diwan- (halaman 276)

Adab memberi nasehat

Pertama, sebagaimana sabda Sang Nabi dalam riwayat Imam Al-Bukhari, nasehat adalah hak dari sesama Muslim ketika mereka memintanya. Maka nasehat yang terbaik adalah yang diberikan kepada mereka yang meminta. Saudara kita dalam dekapan ukhuwah, yang berani meminta nasehat dimungkinkan adalah mereka yang telah siap untuk menerima masukan dan koreksi. Memberi nasehat tanpa diminta, apalagi dengan nada merasa lebih tahu, justru akan menjauhkan seseorang dari kebenaran.

Kedua, memperhatikan waktu, situasi, dan kondisi. Bacalah wajah seseorang dan semoga kita bisa membedakan apakah yang dibutuhkannya saat ini nasehat ataukah ajakan untuk makan sebab rasa lapar. Selamilah perasaannya dan ketahuilah kata-kata yang paling dirindukannya, bukan hal-hal menyakitkan yang tak ingin dikenangnya. Perhatikanlah jiwanya, lalu ketahuilah bahwa yang dia butuhkan adalah penghiburan, bukan ditunjukkan luput dan khilaf yang selama ini telah menyiksanya.

Yang ketiga, tahanlah diri kita dari terlalu sering memberi nasehat. "Adalah Rasulullah, " kata 'Abdullah ibn Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, "Tidak memberi nasehat kepada kami dengan sering-sering atau tiap hari. Beliau hanya sesekali memberi nasehat, sebab khawatir bahwa kami akan bosan. " Sesuatu menjadi berharga sebab ia langka. Nasehat yang terlalu banyak hanya membebani persahabatan dan menyesaki persaudaraan. Lapangkanlah dada saudara kita dengan sedikit nasehat saja, maka pohon-pohon kebaikan akan tumbuh dengan rimbunnya.

Keempat, sampaikanlah nasehat secara ihsan. "Bagaimana memberi nasehat secara ihsan?", demikian 'Abdullah ibn 'Abbas pernah ditanya. "Hendaknya engkau lakukan, " ujar beliau, "Dalam keadaan tersembunyi berdua-duaan saja." (halaman 282)

Masih tentang menjaga lisan.

Tak mudah untuk mengatakan hal yang benar di waktu yang tepat
Namun agaknya yang lebih sulit adalah,
Tidak menyampaikan hal yang salah
Ketika tiba saat yang paling menggoda untuk mengatakannya (halaman 296)

Lagi dan lagi. Terutama untuk saya yang ibu-ibu. Jangan sampai saya tergoda untuk mengucapkan kata-kata yang seharusnya tak dikatakan.

Semua kecurigaan dan tuduhan kita pada sesama saudara, bisa jadi tersebab kita merasa bahwa diri kita akan melakukan hal-hal yang buruk andai Allah menguji kita dengan cobaan seberat yang Allah timpakan pada mereka. Jika hati kita berisi kebaikan, pastilah kita akan mengatakan bahwa tak mungkin mereka bertindak demikian. (halaman 300)

Nah ini untuk berprasangka baik. Dulu saya tidak pernah berpikir apa-apa saat membaca Al-Qur'an atau Al-Matsurat di angkutan umum, bus, atau tempat umum lainnya. Dulu niat saya sepertinya murni karena untuk memanfaatkan waktu "menunggu" agar tidak sia-sia. Tapi sekarang saat saya akan membaca, tiba-tiba sering mengurungkan amalan-amalan di tempat umum karena khawatir orang yang melihat saya akan berpikir saya riya, ingin amalannya dilihat orang. Nah lho. Bukankah ini berarti saya berpikiran buruk pada orang-orang? Mungkin saja saya juga menganggap orang lain riya saat mereka menampakkan amal mereka. Itulah terkadang kita berprasangka buruk pada orang lain sebagaimana bila kita ada di posisi mereka. Semoga saya bisa senantiasa berkhusnuzhan..

Dalam dekapan ukhuwah kita merasakan kehangatan sahabat.
"Dia tahu kelemahan kita, " kata William Arthur Ward, "tetapi menunjukkan kekuatan kita;
Dia merasakan ketakutan kita, tetapi membangkitkan keyakinan kita;
Dia melihat kekhawatiran kita, tetapi membebaskan jiwa kita;
Dia mengenal ketidakmampuan kita, tetapi memberi kita kesempatan. " (halaman 333)

Saya bersyukur punya beberapa sahabat yang seperti itu. Hiks. Suka tiba-tiba berkaca-kaca gini kalau inget mereka. Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mengenal mereka. Jika saya mengingat mereka, saya mengingat Allah. Jika saya mengingat Allah, saya mengingat mereka. Karena melalui mereka saya bisa mengenal Allah dan Rasulnya lebih dekat.

Tak pernah sama sekali, ada kekata dan perilaku orang yang bisa menjadi penentu kemuliaan dan kehinaan kita
Dan tak seorang pun bisa menyakiti, tanpa kita mengizininya
Maka bercahayalah dalam gelora untuk meraih semua pahala (halaman 334)

Ini bisa menjadi motivasi yang baik saat saya merasa tersakiti oleh ucapan orang lain. Atau saat saya melambung oleh pujian orang lain. Itu bukan penentu kemuliaan. Allah lebih tahu daripada mereka. Saya punya pilihan untuk merasa tersakiti atau tidak. Walaupun pada kenyataannya sulit untuk mengendalikan yang namanya perasaan diri sendiri apalagi bagi seorang wanita yang memang lebih dominan menggunakan perasaan daripada logika.

Sesungguhnya, lubang jarum takkan terlalu sempit bagi dua orang yang saling mencintai
Adapun bumi, takkan cukup luas bagi dua orang yang saling membenci
-Al-Khalil ibn Ahmad- (halaman 397)

Kerasa banget bedanya kalau bertemu dengan orang yang kita suka dan orang yang tidak kita suka. Bertemu dengan orang yang kita suka membuat hati kita lapang, nyaman, tentram, damai. Tapi kalau bertemu dengan orang yang tidak kita suka, hati terasa sempit. Tempat kita berada terasa sesak. Jangankan bertemu, melihat wajah di foto profilnya saja bikin enek. Jadi refleksi untuk diri sendiri juga. Apakah orang lain merasa tentram di dekat saya? Apakah orang lain merasa sesak dan sempit hati saat melihat saya. Selama ini, untuk menenangkan hati dan pikiran agar tetap tentram biasanya saya "singkirkan" saja orang yang tidak saya suka. Maksudnya ya tidak usah saya lihat wajahnya, remove dari friendlist, dan fokus saja pada orang-orang yang saya suka yang bisa membuat hati saya nyaman dan tentram. Saya bisa mengendalikan lisan saya, tapi bahasa tubuh saya tidak bisa berbohong. Jadi dari pada saya terganggu, daripada orang lain tersakiti oleh ketidaksukaan saya, jadi saat ini yang mampu saya lakukan adalah "bye".

"Perjalanan bersama orang lain, " demikian John C.  Maxwell mencatat dalam Winning with People, "Pasti lebih lambat daripada perjalanan sendirian. " (halaman 426)

Berbeda saat saya dulu masih sendiri dengan sekarang saat saya selalu dibuntuti batita kemana-mana. Tapi kalau bersama dengan yang kita sayangi, walaupun jadi lebih lambat dan merepotkan, hari-hari jadi lebih menyenangkan.

Jadikanlah tiga hal sebagai sikapmu terhadap orang-orang mukmin:
Jika tak bisa memberi manfaat, maka jangan membahayakannya;
Jika tak bisa membahagiakan, maka jangan membuatnya sedih;
Jika tak bisa memuji, maka jangan mencacinya
-Yahya ibn Mu'adz- (halaman 451)

2 comments:

  1. Saya sering lihat buku ini dipameran2, tapi tidak pernah tau bagaimana isinya. Masyaa Allah bagus sekali. terimakasih mbak atas reviewnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Pokoknya saya merekomendasikan karya-karya Salim A. Fillah. Tulisannya sangat lembut, tapi nusuk banget. Jleb gituh. Pengen buku terbarunya Sunnah Sedirham Surga. Tapi ntar nunggu ada pameran buku di Bandung lagi aja pas ada diskon. 😂

      Delete