Tuesday, August 15, 2017

Say No To Married (Nurma Ratna Sari)

I'm baaaaaaaack.
Ok, sudah lama saya hiatus. Karena berbagai alasan yang saya buat-buat. Ya begitulah. Harus adaptasi lagi setelah melewati liburan panjang. Untuk memulai kembali hal yang telah lama tidak dilakukan ternyata cukup sulit ya. Jadi alasannya ga berbelit-belit deh. Lagi males nulis. Udah gitu aja.

Kali ini saya memaksakan untuk mulai menulis lagi. Beberapa buku yang sudah ataupun belum saya baca masih tertinggal di Bandung. Jadi saya akan mereview buku lama dulu ya. Buku yang saya dapatkan di Bulan Agustus tahun 2013.

Ini adalah hadiah dari salah satu teman. Anehnya adalah dia memberikan hadiah ini bukan pada saat saya ulang tahun. Tapi saat dia ulang tahun. Haha, aneh ya, yang ulang tahun malah ngasih hadiah.

Jadi waktu itu saya bawa cake kecil pakai lilin gitu ke rumahnya. Surprise ceritanya. Tapi saya ga bawa kado. Heran lah malah saya yang di kasih kado.

Pas di rumah, saya buka bungkusannya. Tambah bingunglah saya dengan buku yang dia berikan. Dia bilang agar saya sedikit memikirkan tentang pernikahan, karena saya terlalu cuek kali ya. 

Teman-teman di kampus kayaknya udah pada tau kalau saya menganggap hubungan laki-laki dan perempuan adalah hal yang tidak penting. Baik itu pacaran atau pernikahan atau apapun itu.

Banyak hal yang "lebih penting" ada dalam otak saya kayak kesibukan-kesibukan yang tiada henti baik itu pekerjaan, organisasi, skripsi, SKRIPSIIII!!! SKRIPSIIIIIII!!!! Ya sebenarnya bukan hanya itu sih yang ada di otak saya saat zaman-zaman itu.

Banyak hal-hal remeh temeh seperti pengen yoyo baru, pengen cube yang beda-beda dimensi, pengen tarantula, pengen ikut kursus ini itu, pengen bikin craft yang lucu-lucu. Tapi ga ada tuh di otak saya pengen nikah. 

Pernah disuruh nulis sama murabbi rencana umur menikah saat pembahasan tentang munakahat. Saya inget waktu itu nulis umur 25 (rencananya umur 24 mau mendarat dulu di planet Mars). Tapi yah, pokoknya dulu menurut saya pernikahan adalah tempat ditutupnya pintu gerbang kebebasan saya meraih keinginan-keinginan yang sekian banyaknya. Dulu saya menganggap: sendiri juga bahagia. Bisa melakukan banyak hal.

Yang bikin saya tambah heran waktu pemberian buku ini hanya sekitar seminggu sejak saya dikasih proposal nikah sama orang yang sekarang jadi suami saya. Did she already know about that?

Yaaaa, kalau pemikiran kamu sama kayak saya atau pemikiran lainnya yang membuat kamu mengundur-undur rencana menikah mungkin tertarik buat baca buku ini. Buat yang ingin menikah ataupun yang sudah menikah juga bagus buat dibaca. 

Judul: Say No to Married
Penulis: Nurma Ratna Sari
Penerbit: Pustaka Rama
Tahun terbit: 2011
Jumlah halaman: 218
Dimensi: 12 cm X 18,8 cm
Harga: Rp 30.000

Judulnya kontradiksi dengan isi bukunya lho. Jadi jangan kaget kalau kamu baca isinya ternyata malah ngomporin kamu buat nikah.

Penulis memberikan latar belakang mengenai perubahan jaman yang ikut merubah pemikiran tentang pernikahan terutama dari sudut pandang wanita karena penulisnya wanita ya. Tapi laki-laki juga bisa kesindir lho baca buku ini.

Seiring perubahan tersebut usia pernikahan bagi wanita bergeser. Walaupun sekarang nikah muda lagi tren, tapi saya sependapat dengan penulis bahwa masih banyak wanita yang berpikir untuk tetap melajang dan tetap tenang sampai usia kepala tiga. Bahkan mungkin berniat untuk tetap sendiri sampai akhir hayat. Ya kalau sudah nyaman dengan kehidupan yang dijalani walaupun sendiri, why not?

Nih ya saya tulisin point-point alasan-alasan melajang dalam buku ini.
1. Kerja, kerja, dan kerja
2. Belum menemukan orang yang tepat
3. Terlalu banyak memilih
4. Belum siapnya faktor ekonomi
5. Idealisme tinggi
6. Terikat dengan studi
7. Trauma
8. Menderita penyakit tertentu.

Penjelasannya baca aja langsung di bukunya ya. Hihi.

"In the opinion of the world,  marriage ends all, as it does in a comedy. The truth is precisely the opposite: it begins all." ~Anne Sophie Swetchine (halaman 51)

Nah, kondisi sendiri setidaknya dapat memberi waktu bagi orang-orang lajang untuk berintrospeksi diri, seperti dalam halaman 54-57 saya kasih tau pointnya aja ya:

1. Saya terlalu agresif
2. Saya terlalu pemalu
3.Saya terlalu fokus pada kekurangan
4. Saya terlalu pemilih
5. Saya selalu menyalahkan keadaan yang tidak mendukung
6. Saya tidak benar-benar ingin berkomitmen
7. Saya selalu terbayang pikiran masa lalu

Alasan melajang dan introspeksinya nyambung ya. Dulu waktu saya lagi baca buku ini alasan saya lebih ke idealisme yang tinggi. Ya jadinya nyaman aja walau ga punya pasangan dan ga ngerasa sendiri ko. Saya merasa banyak yang memperhatikan saya. Ibu, ayah, adik, keluarga, guru-guru, teman-teman. Jadi ya saya ga ngerasa butuh tambahan perhatian lagi. Makanya saya berterima kasih banget lah punya mereka dalam hidup saya. Karena mereka saya bisa enjoy hidup dalam "kesendirian" saat itu. 

Kegiatan yang selalu ada setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik juga membutuhkan perhatian saya. Jadi ya saya ga bisa ngasih perhatian kepada seseorang yang minta perhatian saya di luar kegiatan-kegiatan saya.

Kesendirian melahirkan produktivitas bagi saya. Dan kebebasan untuk fokus karena saya tidak perlu membagi pikiran dengan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
* Apakah si dia sudah makan?
* Si dia sedang apa?
* Kenapa si dia belum menghubungi saya?
* Hari ini di mana bisa ketemuan?
* Dan masih banyak lagi yang lainnya
(halaman 60)

Well, I'm freeeeee
I can do anything I want
I can go wherever I want
Ga juga sih. Dulu tetep aja saya harus melakukan usaha untuk beresin skripsi dan harus pergi bimbingan ke kampus. Haha. -_-"

Ya tapi kan selain itu bisa melakukan dan belajar hal-hal yang saya suka.
Di buku ini dibahas juga tentang orang-orang lajang dan pengendalian seks. Menyeramkan lah bacanya. Apalagi tentang HTI/HTS/TTM. Ada wawancara juga dan parahnya laki-laki lebih suka Hubungan Tanpa Ikatan/Status ini karena bisa melampiaskan setelah itu bisa meninggalkan. Komitmen adalah hal yang ribet bagi mereka orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dari sini pembahasan bukunya mulai akan melenceng dari judul. Harusnya judulnya Say Yes to Married.

Di Bab 3 pembaca disuguhi pertanyaan:
Apa arti pernikahan menurut Anda?
Pernikahan bagi saya:
...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
(halaman 76)

Sampai ada lima baris lho titik-titiknya. Kayaknya isinya harus panjang tuh.
"Perkawinan adalah sebuah perjuangan yang tidak selalu menyenangkan, namun justru dalam perjuangan itu nantinya ditemukan kebahagiaan." (Anonim)
(halaman 75)

Itu kata Anonim ya ga tau siapa, namanya juga Anonim, pokonya bukan jawaban saya. Kalau menurut kamu apa?

Manfaat pernikahan:
* Menghindari seks bebas
* Menikah itu menyempurnakan ibadah
* Untuk menambah dan memperpanjang keturunan atau silsilah
* Mencari teman hidup
* Untuk menunjukkan kasih sayang dan memperhatikan seseorang
* Menghindari omongan miring orang lain
* Saling melengkapi
* Menikah adalah jalan pembuka pintu rezeki
(halaman 83-94)

Ya pokoknya isi buku ini memutar balikan setiap alasan yang kita punya untuk menunda pernikahan. Semua alasan yang saya buat-buat juga di counter sama buku ini.

Sebenarnya setelah nikah kita masih bisa melakukan banyak hal yang kita suka ko. Saya juga ngerasain sih, sebelum nikah memang lebih bebas ke sana ke mari. Tapi setelah nikah dan punya anak energi kita terkuras untuk pekerjaan rumah tangga dan ngurus anak, jadi walaupun sebenarnya ada niat dan waktu untuk ke sana ke mari paling hanya sesekali untuk refreshing saja. Kalau tiap hari ke sana ke mari kerasa lah pasti capenya. Jadi ya otomatis kalau ada waktu luang sekarang lebih sering milih leyeh-leyeh aja di rumah sambil baca buku. Traveling atau kuliner sebulan sekali cukup lah ya kalau buat saya. (padahal may pengennya seminggu sekali, hiaaaa wkwkwk..) Ga tau kalau buat emak-emak yang lain. Tiap orang beda-beda kan.

Terus kalau kita terus beralasan belum siap, kapan siapnya? Ya ini juga yang dulu dikatakan teman saya saat konsultasi kesiapan saya untuk berkomitmen. Sebanyak apapun teori pernikahan yang kita dapatkan dan kita tahu, tetap saja harus praktek. Belajar itu kan sepanjang hayat, dan kerasa sekarang. Dalam pernikahan kita harus terus belajar setiap hari. Banyak hal yang harus dipelajari. Dan seringnya teori itu sepertinya mudah, tapi praktiknya sangaaaaat berat. Terutama mengendalikan ego masing-masing.

Pernah nanya ke suami, kenapa bisa memutuskan untuk siap menikah di usianya yang ke 24. Dia cuman jawab dengan santai, "Mau sekarang atau nanti sama saja. Mending sekarang aja. Biar ntar kalau punya cucu keliatan seperti bapaknya bukan kakeknya." Kurang lebih gitu lah.

Jaman dulu manusia usia belasan sudah pada dinikahin tuh. Sekarang usia segitu disibukkan dengan bangku sekolah. Usia dua puluhan disibukkan dengan kuliah. Terus sibuk kerja. Terus sibuk ini itu. Lupa deh sama usia. Dan tetap berpikir I'm fine alone. Pas kumpulan keluarga bete karena diberondong pertanyaan "Kapan nikah."

Pertanyaan "Kapan?" memang seringnya menyebalkan. Kalau saya sih memang ga ngalamin kebetean dari pertanyaan "Kapan nikah?" Tapi saya dulu serasa pengen terjun ke jurang karena sering ditanyain "Kapan lulus?" Hahahahah. Beneran den pengen ngejitak orang yang nanya kapan lulus ke saya. Tapi berkat keterlambatan kelulusan saya, jadi terhindar dari pertanyaan kapan nikah. Ya iya lah. Kalaupun ada yang nanya, saya tinggal jawab, "Skripsi juga belum." Kenyataannya ga ada yang nanya.

Makanya pas saya nikah sebelum skripsi saya kelar pada shocked. Terutama orang-orang yang kenal deket dengan saya dan tau banget saya kayak gimana. "Sin, kamu masih waras kan?" Paling saya termenung dan memikirkan perjalanan saya ke Planet Mars yang pasti akan tertunda. Skripsi ga dipikirin. -_-"

Ya elah, suami waras mana yang bakalan ngizinin istrinya ke luar atmosfer bumi? Tapi hikmahnya setelah nikah saya bisa lulus kuliah.

Kalau terlalu pemilih sebenarnya nggak juga ya. Pada intinya semua manusia itu sama. Semua manusia menyebalkan. Teman-teman saya suka balik nanya kalau saya mengeluarkan pernyataan itu. "Sin, emang kamu bukan manusia?" Lalu saya akan tatap orang yang bertanya itu dengan tajam. "Sayangnya iya, saya manusia. Kalau mengikuti premisnya berarti saya juga menyebalkan." Efek terlalu banyak baca thriller jadi gini.

Tapi mungkin karena sering baca thriller saya jadi ngerasa bahagia-bahagia aja kali ya. Ya kan kisah di thriller itu penuh tekanan, alur yang menegangkan, kadang juga sad ending. Ada yang pernah mengatakan, jangan terlalu banyak nonton drama cinta korea, nanti ngebayanginnya pernikahan tuh yang romantis-romantisnya aja. Padahal mah... Mungkin bisa juga diubah sedikit, jangan terlalu banyak baca romance, nanti terlalu mengharapkan kisah cinta yang indah-indah. Hihi. Becanda, buat pecinta genre romance teruskanlah, tiap orang punya alasan tersendiri untuk hobi yang disenanginya.

Well, tapi saya juga pernah baca romance. Kisah cinta Muhammad dan Khodijah yang bikin jadi baper. Ga baik juga sih jadi ngebanding-bandingin suami sama Muhammad. Ya saya juga ngaca lah, saya kan bukan Khodijah. Tapi asli, baca kisah cinta orang lain tuh bisa jadi bikin bertanya-tanya. Ko dia sifatnya ga gini sih. Ko dia ga gitu sih. Harus banyak ngerem pertanyaan seperti itu. Jadi saya lebih suka baca thriller, ya membuat saya lebih banyak bersyukur. Kisah saya lebih indah daripada cerita thriller. Kisah saya tidak serumit di thriller. Kisah sederhana yang tokoh utamanya saya sendiri tidak semenyeramkan dan  tidak setragis di thriller.

Kembali pada buku ini, ada hal menarik tentang hubungan pernikahan (yang bahagia) dan kesehatan. Beberapa manfaatnya:
1. Terhindar risiko hipertensi
2. Terhindar penyakit diabetes
3. Tidak merokok dan minum minuman beralkohol
4. Terhindar penyakit jantung
5. Terhindar penyakit stroke
6. Kesehatan mental terpelihara
7. Usia yang panjang

Tapi itu bagi pernikahan yang bahagia ya. Jadi logis juga sebenarnya, kalau kita merasa bahagia dengan pernikahan otomatis kita akan menjaga kesehatan diri kita agar bisa menjaga pasangan dan anak kita.

Walaupun dimensi buku ini terbilang kecil dan tidak terlalu tebal, tapi menurut saya cukup lengkap membahas seluk beluk pernikahan. Sampai dibahas mengenai permasalahan-permasalahan pernikahan seperti kurang kepercayaan, masalah seks, kurang komunikasi, mengatur keuangan, pembagian peran dan tugas dalam rumah tangga, mertua dan ipar, tidak merawat diri, tak ingin memiliki anak, ketidakmampuan untuk memiliki keturunan, adanya affair (orang ketiga).

Jadi buku ini menurut saya sangat seimbang. Membuat pembacanya berpikir, penulis sebenarnya mau ngomporin buat nikah atau nakut-nakutin yang mau nikah sih? Tapi sangat rasional. Bagaimanapun pernikahan itu penting untuk dilakukan, tapi bukan main-main, banyak yang harus dipertimbangkan.

Menikah itu di dalamnya tidak hanya berisi kebahagiaan, akan banyak emosi bercampur aduk di setiap perjalanannya. Tapi hal itu bukanlah sesuatu yang patut dijadikan alasan untuk menunda pernikahan atau memutuskan tidak menikah kan.

"Memilih menikah adalah mengabdikan diri ke lubang masalah, memilih tidak menikah adalah pengecut karena tidak mau berhadapan dengan masalah." (Ayu Utami, 2003)
(halaman 123)

Ya saya memang lebih suka menghindari masalah. Bukankah ada pepatah yang mengatakan orang pandai berusaha menyelesaikan masalah, orang bijak berusaha tidak terperangkap dalam masalah. Saya ga suka cari masalah. Pengennya hidup adem ayem sendirian, baca buku sambil menyeruput teh hangat di kursi yang nyaman menghadap kearah pemandangan alam yang indah di pedesaan. Ya, bayangan masa tua yang sederhana.

Jadi tentu saja saya tau yang namanya menjalin hubungan dengan orang lain adalah suatu tindakan terjun ke dalam lubang masalah. Apalagi hubungan yang melibatkan soal "hati". Tidak perlu mengalami untuk merasakannya. Saya adalah pendengar dari banyak orang-orang yang curhat tentang hubungan mereka. Ada yang sampai nangis sesenggukan nyeritain saat dia putus, ada yang begini begitu.

Dari dulu jaman sekolah dijadikan tempat curhat dan saya sangat mengerti mereka curhat untuk didengarkan bukan untuk dikomentari atau diberi masukan. Saya pernah ngomentarin salah satu teman yang curhat tentang putus sama pacarnya, "Bagus dong, kamu sekarang bisa lebih fokus belajar." Eh dia malah balas ngomentarin saya. Katanya saya ga dewasa. Nah lho. Dari dulu menurut saya pacaran adalah suatu hal yang kekanak-kanakan. Kalau udah ngerasa dewasa dan siap, ya nikah aja. Jadi kalau ada yang curhat saya dengerin aja deh, ga banyak komen. Tapi pada kebanyakan hal saya memang merasa kurang dewasa menyikapinya, hehe.
Bersosialisasi dengan manusia memang merepotkan. Peace. ✌

Kutipan yang paling saya suka ada di halaman 145 tentang sebuah nasihat dari seorang filsuf terkenal, Socrates.
"Suatu hari, Socrates menasihati muridnya yang sedang gundah sekaligus takut bila kelak ia menikah akan gagal dan sengsara. Socrates berkata pada muridnya,
'Dalam kondisi apapun, engkau tetap harus menikah. Jika engkau mendapatkan istri yang baik, engkau akan berbahagia. Namun, jika engkau menikah dan mendapatkan istri yang menjengkelkan, engkau akan menjadi orang yang bijaksana. Singkatnya, keduanya menguntungkanmu.'"

Bagaimanapun juga ga sembarangan milih calon ya. Tanya-tanya ke temennya bisa. Kalau ga mau repot nanya,  analisis sendiri tulisan tangannya dengan grafologi . Kita bisa tau kekurangan dan kelebihan, kekuatan dan kelemahan, kecenderungan berbohong, pola pikir, sampai tingkat libidonya. Tiap orang pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tinggal apakah kita bisa menerima dan saling memperbaiki kekurangan masing-masing atau tidak.

Ibadahnya juga dilihat. Saya sih dulu ga terlalu banyak kriteria (mungkin karena ga terlalu mikirin nikah kali ya). Tapi dulu saat baca proposal suami dan memastikan shalat wajibnya ga bolong-bolong itu sudah cukup. Yang penting buat saya sih yang wajib-wajibnya dilaksanakan. 

Pernah juga ditanya sama suami setelah tiga tahun menikah, "Dulu saya nulis pendapatan di proposal berapa sih?" Terus saya jawab, "Rp .........". Terus dia tiba-tiba heran, "Kok kamu dulu mau sih sama saya dengan pendapatan segitu?" Saya cuman kerang kerung kenapa dia nanya gitu, ga dijawab karena emang ga usah dijawab.

Cuman ngejawab dalam hati, "Yang ngasih rizki buat saya itu Allah, mau menikah dengan siapapun saya akan tetap hidup." Tapi cuman dalam hati ya jawabnya, kalau diungkapkan secara verbal pasti jadi terkesan sarkasme.

Buat saya rizki itu akan selalu datang kalau berusaha untuk dicari. Jadi berapapun penghasilannya, ga masalah. Tapi terbukti kan sekarang penghasilannya bertambah berkali-kali lipat walaupun saya ga ikut nyari uang. Saya percaya kalau setiap makhluk di bumi ini bahkan hewan melata sekalipun sudah dijamin rizkinya oleh Allah. Jadi saya ga khawatir. Uang bisa dicari kalau berusaha.

Yang paling penting adalah waktu. Ya bagi saya waktu kebersamaan adalah rizki yang paling besar. Mungkin itu salah satu faktor kenapa saya menerimanya. Karena profesinya memungkinkan kami berinteraksi secara langsung setiap hari. Tidak pulang terlalu larut, tidak sering-sering dinas ke luar. Ya jadi bisa sering komunikasi langsung. Walaupun sebenarnya kalau tiap hari ketemu bisa tambah sering konflik atau bisa bosan, tapi esensinya pernikahan adalah bersama-sama kan? Suka duka. Kalau ga sering ketemu memang jadi meminimalisir pertengkaran, cekcok, perdebatan, dll. Tapi kalau begitu, untuk apa nikah?

Justru dari kebersamaan itulah kita jadi belajar banyak hal. Saya juga pernah ldr 2 bulan saat masa nifas. Dari situ saya juga belajar, iya sih jadi lebih akur. Ya iya lah, kalau jarang ketemu apa yang mau diperdebatkan? Udah jadi seperti hidup masing-masing. Udah jadi ngerasa kayak single lagi. Hihi. Enak juga sih, tapi lho esensi pernikahannya di mana? Udah aja ga usah nikah kalau mau hidup masing-masing. Lebih simple.

"Sebuah perkawinan yang sukses membutuhkan jatuh cinta berkali-kali dan selalu dengan orang yang sama." (Germaine Greer)
(halaman 199)

Ini merupakan tantangan yang cukup berat lho. Terdengar mudah, tapi yakin bisa mencintai seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan batasnya. Karena bukan kawin kontrak, berarti kita harus siap untuk berkomitmen mencintai pasangan kita sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Tapi menurut saya yang namanya perasaan itu kan dari hati. Hati itu mudah sekali terbolak-balik. Jadi cinta itu sangat fluktuatif. Hari ini bisa jadi kita mencintai pasangan kita. Besok bisa berubah jadi kebencian. Besoknya berubah lagi. Jadi tentu saja perasaan cinta itu tidak konsisten. Bagi saya ya. Ga tau kalau yang lain. Yang saya rasakan sih gitu. Itu kan bagian dari emosi.

Suami juga pernah nanya. "Sin, jawab ya. Selama 3 tahun menikah dengan saya apa yang kamu rasakan? A. Sangat senang B. Senang C. Sedih D. Sangat sedih"

Saya jawab apa coba? Yaps betul sekali. Saya ga jawab apa-apa. Karena tidak ada opsi "Semua benar." Saya pernah merasa sangat senang, senang, sedih, sangat sedih. Suasana hati saya kan berubah-ubah. Ga mungkin kan saya merasa senang selalu. Ga mungkin juga sedih melulu. Yang penting ada usaha untuk membahagiakan diri sendiri dan pasangan. Jadi bahagianya lebih banyak daripada sedihnya.

Daripada cinta, komitmen pada masing-masing lebih penting. Jadi kalau sudah berpegang pada komitmen, meskipun kita sedang berada pada kondisi "tidak mencintai pasangan" kita akan berusaha untuk jatuh cinta lagi pada orang yang sama. Banyak-banyak bersyukur dan mengingat kebaikan pasangan, insya Allah kita bisa jatuh cinta lagi. Dan itu bisa terjadi berkali-kali. Yang penting adalah "pada orang yang sama". Pada suami atau istri kita tentunya.

Jadi intinya, jangan takut untuk menikah bagi yang jomblo, lajang, ataupun single parent. Yang namanya hidup pasti ada suka dukanya. Sendiri ada suka dukanya. Menikah juga ada suka dukanya. Nikmati saja dimana kita berada saat ini. Yang sendiri menikmati kesibukan produktifnya sambil menjemput jodohnya. Pasti dateng ko insya Allah. Yang sudah menikah menikmati peran dan tanggung jawabnya. Yang lagi LDRan semoga segera bersama kembali.

Bersyukur bisa baca lagi buku ini. Jadi mengingatkan saya untuk belajar lagi, terutama masalah komunikasi. Saya agak sulit mengungkapkan emosi secara verbal. Sudah disiasati dengan buku komunikasi sih, jadi sebagai pintu darurat saat saya lagi malas komunikasi sama suami. Tinggal nulis, suami baca. Tapi belum berjalan dengan baik. Paling bukunya cuman ditulisin menu masakan yang suami mau dalam seminggu perharinya apa saja. Jadi saya ga bingung mau belanja apa ke warung. Hehe.

Buku ini bagus dibaca oleh mereka yang belum ataupun yang sudah menikah. Yang belum menikah diajak untuk berpikir kalau menikah itu penting. Tapi harus mempersiapkan mental dengan berbagai pertimbangannya. 

Yang sudah menikah diajak untuk lebih bersyukur dengan pasangannya. Keburukan pasangan pasti ada. Setiap orang pasti punya kekurangan kan. Tapi kalau kita fokus pada kelebihannya pasti bisa merasa bahagia.