Monday, February 17, 2020

Cerita Sebelum Bercerai (Fahd Pahdepie)

Saya waktu itu liat promo buku ini dengan caption yang menarik perhatian:

Perceraian memang merupakan tema yang jarang kita bicarakan, meski sebenarnya sangat penting. Saya yakin hampir semua ikatan pernikahan pernah melahirkan wacana perceraian, apapun alasan dan latar belakangnya. Kalau boleh menggeneralisir, semua orang yang menikah pasti pernah berpikir untuk bercerai, kan? (halaman vi)

Saat itu saya tidak sedang berpikir untuk bercerai, tapi penasaran dengan generalisasi itu. Karena saya memang pernah berpikir tentang perceraian. Suami dulu juga pernah cerita kalau dibenaknya pernah terlintas untuk bercerai. Nah saya mau tahu apakah semua pasangan yang sudah menikah benar-benar pernah ada pikiran untuk bercerai? Jadilah saya ikut pre ordernya.

Anatomi buku
Judul : Cerita Sebelum Bercerai
Penulis : Fahd Pahdepie
Penerbit : Republika

Monday, February 3, 2020

Couple's Recipe (Lydia Susanto)

Ini buku lama tapi baru saya review. Waktu itu lagi ngajak anak main di Ubertos.  Eh ada Gramedia corner dong. Akhirnya saya menelusuri tiap bagiannya  dan  nemu buku ini. Buku yang menarik dan unik. Bukan buat dibaca sebenarnya. Lebih cenderung ke buku aktivitas. Banyak aktivitas menarik yang bisa kita lakukan bersama pasangan dengan buku ini.

Anatomi buku:
Judul: Couple's Recipe
Penulis: Lydia Susanto
Penerbit: PT Elex Media Komputindo (dicetak oleh Gramedia)
Tahun terbit: 2018 (cetakan kedua)
Jumlah halaman: 66 lembar (jadi berapa halaman tuh)
Dimensi: 15,5 cm x 23,7 cm
Harga normal: Rp 114.800

Buku ini benar-benar menyenangkan dan mengasah kreativitas kita. Btw, dalemnya pake bahasa Inggris meski yang nulis orang Indonesia. Di awal-awal halaman ada dua lingkaran kosong berisi dua kepala tanpa wajah dan rambut. Kita gambarin pake muka kita terus tulis nama kita dan pasangan dibawahnya. Lalu ada preparation, tentang cara menggunakan buku ini. Ada enam aturan dalam penggunaan buku ini. Saya kutip yang ini ya.

Saturday, January 18, 2020

GIVEAWAY: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir (Salim A. Fillah)

Udah lama gak baca novel thriller. Eh ini fiksi sejarah deng. Tapi buat saya ini thriller, soalnya bikin deg-degan, banyak pembunuhan di dalemnya, dan berdarah-darah. Wkwkwk. Genre favorit saya banget. Dan gak nyangka seorang Salim A. Fillah nulis novel beginian. Tetiba inget Taiko dan Musashi. Tapi karena ini menyangkut pada sejarah bangsa dan agama saya sendiri, jadi lebih jleb kali ya ke saya. Nyampe nangis dong waktu baca bagian berdarah-darah saat eksekusi Pangeran Ngabehi dan kedua anaknya. Kan kalau baca Taiko atau Musashi saya biasa aja malah asa seneng ya kalau ada bagian siksa-siksaan, gorok-gorokan, dan semacamnya. Psycho. Hahah.

Di awal novel, pas baca covernya agak bingung. Pangeran Diponegoro gituh, pasti tau lah ya. Nah Janissary... Apaan tuh. Rasa penasaran muncul dari kata itu. Sesuatu yang asing. Pas mau buka google, eh kuota saat itu abis dong. Wkwkwk. Ya udah lanjut baca aja.

Karena saya termasuk pembaca yang sistematis, eh ketemu juga di lipatan dalam cover. Istanbul, bahasa Turki berarti kan. Tapi belum paham artinya apa. Baca juga "Senarai Syukur" penulis, siapa tau dijelaskan disana. Ga nemu juga. Tapi ada hal baru, tentang pelafalan vokal A dan O dijelaskan disini. Karena saya bukan orang Jawa, jadi baru tau pengucapan asli Jawa itu A tapi jadi O karena Sultan Agung Hanyokrokusumo menyukai vokal fathah pada huruf Arab kha', ra', shadd, dhadd, tha, zha', ghain, qaf. Harusnya Dipanegara jadi Diponegoro, Praga jadi Progo, Bagawanta jadi Bogowonto, dll. Menarik sekali, jadi pengen belajar bahasa Jawa. Btw, saya juga orang Jawa deng, Jawa Barat. 😆

Saturday, November 2, 2019

GIVEAWAY: Goodbye, Things Hidup Minimalis Ala Orang Jepang (Fumio Sasaki)

Anatomi:
Judul: Goodbye, Things - Hidup Minimalis Ala Orang Jepang
Judul asli: Bokutachini, Mou Mono wa Hitsuyou Nai
Penulis: Fumio Sasaki
Penerjemah: Annisa Cinantya Putri
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 242
Dimensi: 20 cm x 13,5 cm
Harga: Rp 62.400

Alhamdulillah... Akhirnya selesai juga baca buku ini. Saya ucapkan terima kasih sebelumnya kepada para coach saya di kelas berbenah sadis dan kelas anti menunda yang membantu saya menyelesaikan membaca buku ini.

Awalnya saya enggan buat nerusin baca padahal udah setengahnya dong. Waktu itu alasannya karena takut. Iya takut. Takut terpengaruh lebih jauh oleh buku ini. Karena bagi saya buku ini keren banget, tapi saat itu saya belum siap menerima pemikiran minimalisme ekstrem maximum drive (lebay mode on hahaha).