Sunday, November 25, 2018

The Life Changing Magic of Tidying (Marie Kondo)

Akhirnya.. Beli lagi domain. Udah hampir setahun hiatus dan domainnya expired.

Jadi ceritanya waktu itu saya baca artikel tentang obesistuff. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang senang belanja barang tiap hari. Beli baju paling banter setahun sekali pas hari raya. Beli sepatu juga kalau yang lama sudah rusak saja. Kalau beli sepatu pasti saya beli sneaker  dengan leher panjang. Tapi saya tidak membeli banyak-banyak. Hanya satu. Saya tidak pakai sepatu lain selain sneaker. Dulu waktu kuliah pernah punya pentopel satu karena harus dipake saat upacara. Jadi saat baca artikel-artikel tentang obesistuff saya dengan PeDenya lega, "Ah tenang saya ga kena penyakit  obesistuff."

Setelah baca buku ini saya akhirnya sadar ternyata obesistuff bukan hanya tentang sering belanja banyak aja. Tapi menimbun barang-barang terlalu lama juga termasuk penyakit yang berbahaya.

Barang-barang yang dimaksud adalah barang-barang yang tidak membangkitkan kegembiraan. Saat kita dikelilingi hanya oleh barang-barang yang membangkitkan kegembiraan, tentu logikanya suasana hati kita juga hanya akan diliputi kebahagiaan.


Anatomi buku ini:
Judul:  The Life-Changing Magic Of Tidying Up
Judul asli: Jinsei Ga Tokimeku Katazuke No Maho
Penulis: Marie Kondo
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Bentang
Tahun terbit: 2017
Jumlah halaman: 206
Dimensi: 13 cm X 20 cm
Harga: Rp 54.000

Buku ini mengajarkan saya tentang ilmu ikhlas.. Ya, ikhlas melepaskan barang-barang yang sudah menjalankan peranannya dengan baik di masa lalu. Dan menerima keadaan saya sekarang.

"Mengikhlaskan justru lebih penting daripada menambah." (halaman 169)

Buku ini mengajarkan saya rasa syukur terhadap anugrah yang Allah berikan kepada saya di masa ini. Tempat saya bernaung, pakaian yang melindungi tubuh, buku-buku yang selalu ingin saya baca, dan barang-barang lain yang menunjang kehidupan sementara saya di dunia ini.

"Agar bisa sepenuh hati mensyukuri hal-hal yang paling penting bagi Anda, pertama-tama Anda harus membuang barang-barang yang sudah tidak bermanfaat." (hal 54)

Buku ini mengajarkan saya untuk mengungkapkan terima kasih pada masa lalu dan melepaskannya. Mengungkapkan terima kasih pada masa kini dan merawatnya. Percaya masa depan saya yang akan datang bisa lebih baik.

"Keengganan kita untuk membuang barang tertentu sejatinya hanya berakar pada dua penyebab: keterikatan pada masa lalu atau kecemasan akan masa depan." (halaman 174)

"Ucapkan selamat tinggal dengan khidmat untuk merelakan kepergian benda itu." (halaman 186)

Bukankah luar biasa. Berbenah yang kedengarannya biasa saja ternyata bisa mengandung makna mendalam. Mentafakuri kekurangan diri. Bahagia dengan kesederhanaan.

Saya teringat dengan kisah rasulullah dan para sahabat. Setelah dipikir-pikir lagi, bukankah mereka hanya memiliki jumlah baju yang sangat sedikit TAPI mereka bisa hidup bahagia. Bukankah di rumah mereka hanya ada sangat sedikit barang-barang untuk keperluan sehari-hari TAPI mereka bisa menjadi orang-orang yang paling memaknai kehidupan. Bukankah mereka sebenarnya kaya raya dan bisa punya banyak dirham TAPI mereka memilih hidup yang kian sederhana.

Tapi kalimat TAPI diatas seharusnya diganti menjadi SEHINGGA.

Setelah dipikir-pikir lagi, bukankah mereka hanya memiliki jumlah baju yang sangat sedikit SEHINGGA mereka bisa hidup bahagia. Bukankah di rumah mereka hanya ada sangat sedikit barang-barang untuk keperluan sehari-hari SEHINGGA mereka bisa menjadi orang-orang yang paling memaknai kehidupan. Bukankah mereka sebenarnya kaya raya dan bisa punya banyak dirham SEHINGGA mereka memilih hidup yang kian sederhana.

Buku ini mengingatkan saya pada mereka yang hidup zuhud untuk memperoleh kebahagiaan. Tidak menimbun.  Menyimpan dan merawat barang-barang yang paling membangkitkan kebahagiaan. Barang-barang yang jumlahnya sedikit.

Saya jadi lebih memaknai dan mensyukuri barang-barang yang ada di rumah. Jadi lebih banyak menggunakan majas personifikasi, jadi sering ngomong sama barang-barang seolah-olah mereka hidup.

"Kehidupan menjadi jauh lebih enteng begitu kita tahu bahwa situasi masih bisa berjalan mulus sekalipun kita kekurangan sesuatu." (halaman 180)

Nah di dalam buku ini dijabarkan dengan detail oleh Konmari sensei bagaimana cara memulai berbenah, waktu yang tepat untuk berbenah, urutan kategori barang yang akan dibereskan, cara memilih benda yang akan disimpan dan dibuang, cara membuang, cara menyimpan, dan banyak hal lagi tentang mental berbenah. Pokoknya lengkap sampai hal-hal terkecil tentang berbenah ada di buku ini.

Saya jadi menikmati saat melipat baju setelah membaca buku ini. Padahal dulu malas sekali melipat baju yang baru diangkat dari jemuran.

"Dengan melipat baju, kita bisa mengirit tempat. Akan tetapi, bukan hanya itu satu-satunya manfaat melipat. Keuntungan utamanya adalah kita harus menangani tiap lembar pakaian. Selagi menelusurkan tangan ke atas kain, kita sekaligus menuangkan energi kita ke sana. Dalam bahasa Jepang, menyembuhkan disebut te-ate, yang arti harfiahnya adalah 'menempelkan tangan'. Istilah itu berakar dari praktik pengobatan pramodern, yakni menempelkan tangan ke bagian tubuh yang cedera karena dianggap dapat mempercepat penyembuhan. Kita tahu bahwa sentuhan lembut dari orangtua, entah itu menggandeng tangan, mengelus rambut, atau memeluk bisa menenangkan anak-anak. Sama seperti itu, pijatan pelan, tetapi mantap dari tangan manusia lebih ampuh untuk mengendurkan otot-otot kaku ketimbang pukulan bertubi-tubi dari mesin pijat. Energi yang mengalir dari tangan manusia ke kulit kita seolah dapat menyembuhkan jiwa dan raga.

Pakaian juga sama. Ketika kita memegangi pakaian dan melipatnya dengan rapi, saya meyakini bahwa kita sekaligus mengalirkan energi yang akan berdampak positif terhadap pakaian. Apabila pakaian dilipat rapi, kainnya menjadi kencang dan tidak kusut sehingga lebih kuat dan terlihat menarik. Pakaian yang semula dilipat rapi memiliki daya tahan dan kemilau yang serta merta kelihatan, mudah sekali dibedakan dari pakaian yang dijejalkan asal saja ke dalam laci. Melipat lebih dari sekedar tindakan untuk meringkaskan pakaian supaya mudah disimpan. Melipat adalah ungkapan kepedulian, ekspresi kasih sayang dan penghargaan kita terhadap pakaian yang telah menyokong hidup kita. Oleh sebab itu, kita mesti melipat dengan sepenuh hati sambil berterima kasih pada pakaian yang telah melindungi raga kita. (halaman 65)

Saya tertarik dengan buku ini karena metode Konmari ini sudah terkenal bisa membuat rumah rapi dan tidak acak-acakan lagi. Yang terpenting metode ini bisa membuat kita tidak perlu berbenah setiap hari. Hanya satu kali. Selanjutnya adalah mempertahankan kerapihan itu sendiri.

"Kita tidak bisa mengubah kebiasaan jika cara pikir kita belum berubah" (halaman 7)

"Berbenah adalah sarana, bukan tujuan." (halaman 14)

Kalau berbenah tiap hari, energi kita habis cuman buat ngurusin rumah aja kan. Tapi tentu saja Ada banyak passion lain yang ingin dilakukan. Kita bisa melakukan banyak hal lain dengan rumah dalam keadaan tetap rapi tanpa beres-beres tiap hari. Bukankah itu menyenangkan.

"Berbenah adalah kegiatan istimewa. Jangan melakukannya setiap hari." (halaman 21)

Seneng banget sama kutipan ini. Tidak perlu berbenah tiap hari tapi rumah selalu rapi. Menakjubkan. Percayalah itu bukan hal yang mustahil. Saya sudah membuktikannya.

Cocok sekali dengan saya yang pemalas. Karena saya ingin rumah rapi tapi tidak mau beres-beres setiap hari. Ada yang seperti saya? Haha.

Jadi untuk para suami, please kalau ga bisa bantuin istrinya beres-beres tolong jangan berkomentar yang menyebalkan seperti "Rumah kayak ga ada orangnya" atau pertanyaan retorika seperti "Memangnya betah ya tinggal di rumah kayak kapal pecah gini?". Please, itu sama sekali tidak membantu. Kalau memang sangat sibuk di dunia nyata ataupun maya sampai gak sempet bantuin istrinya beres-beres setidaknya berikan semangat padanya dan belikan buku ini. Hahaha.

Begitupun dengan ibu yang kesal dengan anaknya yang selalu acak-acakan. Mungkin bisa diajarkan metode ini.

"Hasrat untuk menegur orang lain karena tidak rapi biasanya merupakan pertanda bahwa Anda melalaikan kerapian ruang pribadi Anda sendiri." (halaman 46)

Jadi sebetulnya kalau kita sering mengomeli orang lain karena tidak rapi, sebenarnya kita sendiri yang belum rapi. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini baca saja bukunya ya. Hehe.

Untuk waktu berbenah menggunakan metode ini memang cukup membuat saya tercengang di awal.

"Berdasarkan pengalaman saya dengan klien perseorangan, 'secepat-cepatnya' berarti sekitar setengah tahun. Mungkin kesannya lama, tetapi enam bulan saja dari seumur hidup Anda tidaklah lama. Begitu proses tersebut rampung dan Anda mencicipi sendiri seperti apa rasanya kerapian yang sempurna, Anda akan terbebas selamanya dari asumsi keliru bahwa Anda tidak piawai berbebah." (halaman 27)

Saat sampai disini, reaksi saya:
"Whaaaat?! Enam bulan?! Lama amat."

Tapi setelah saya mempraktekkan.. Barulah saya memahaminya. Rumah kontrakan saya saat ini memang belum rampung rapi sepenuhnya. Harus saya akui, berbenah dengan metode ini membutuhkan pemikiran dan tenaga yang cukup ekstra. Walaupun seolah sangat sederhana, hanya menentukan tempat dimana barang-barang akan disimpan.. Hanya itu..

Tapi kenyataannya tidak semudah itu.. Terutama saat memutuskan membuang. Saya pribadi merasa mudah menentukan mana barang yang membuat saya bahagia dan mana yang tidak.

Tapiiii.. Saya kan sekarang sudah tidak hidup sendiri lagi. Sekarang ada juga barang-barang suami dan anak saya. Dulu sebelum menikah ada ibu, ayah, dan adik saya. Tapi saya bebas melakukan apa saja dengan kamar saya dan barang-barang di dalamnya.

Sekarang tanggung jawab saya kan bukan hanya kamar saya saja (lebih tepat istilahnya kamar kami) tapi seluruh ruangan di tempat tinggal kami. Dari mulai ruang tamu/keluarga, kamar, dapur, serta kamar mandi. Dan saya melakukan kesalahan fatal yaitu saya melakukan berbenah semenjak membaca halaman pertama. Seharusnya saya berbenah setelah menyelesaikan buku ini sehingga tidak melewatkan hal terpenting.

"Jangan perkenankan keluarga anda melihat" (halaman 39)

Dalam bahasan point tersebut Konmari sensei menceritakan salah satu kliennya yang gagal menyingkirkan barang-barang yang sudah tidak diperlukan. Kedatangan ibu klien yang tiba-tiba dan melihat gunungan sampah di dekat pintu.. Akhirnya barang-barang klien diambil oleh ibunya..

"Jangan perkenankan keluarga Anda melihat apapun yang ada di sini. Kalau bisa, keluarkan sendiri kantong-kantong berisi sampah ini. Tidak ada perlunya memberi tahu keluarga mengenai apa-apa saja yang Anda buang atau sumbangkan."

"Orangtua adakalanya sangat waswas melihat barang-barang yang dibuang anaknya. Banyaknya tumpukan barang yang akan dibuang menjadikan para orangtua tertekan, takut kalau-kalau si anak tidak sanggup bertahan hidup dengan barang-barangnya yang masih tersisa." (halaman 40)

Kami tinggal terpisah dengan orangtua. Tapi saya sempat menjadi gila dan perang dingin dengan suami karena memberitahu suami saya akan membuang bagian sepeda Hawnan yang sudah dipreteli. Saya belum sempat membaca halaman ini saat itu.

Sudah lama sepeda bayi Hawnan kami bongkar. Kami lepas penutup atasnya, tempat sandaran kakinya, keranjang belakangnya, dan pengaman perutnya sehingga Hawnan bisa menggunakan sepeda itu seperti anak-anak seusianya. Dia bukan bayi lagi. Ya hemat lah, ga usah beli sepeda lagi.

Tapi bagian-bagian yang kami lepas juga sudah lama teronggok begitu saja di pojok lantai kamar. Berdebu, dan lantai dibawahnya jadi tidak terpel.

Suami saya langsung melarang saya membuangnya dengan alasan bisa dipasangkan lagi untuk adiknya Hawnan kelak. Iya sih hemat. Tapi kan itu masih bertahun-tahun yang akan datang. Dan selama bertahun-tahun itu sparepartnya harus teronggok tidak bermanfaat dan memenuhi ruangan. Saya sudah coba untuk mendaur ulangnya jadi sesuatu yang berguna. Tapi bentuknya yang seperti itu malah mengganggu pemandangan. Selama satu bulan saya merasa tertekan dengan benda-benda itu sampai akhirnya saya menangis-nangis sendiri, kemudian tertawa-tawa sendiri. Menangis lagi tertawa lagi.

Suami saya ketakutan melihat saya yang seperti itu. Katanya dia baru pertama kali melihat saya yang seperti itu. Dia menyarankan saya untuk diruqyah atau ke psikolog. Ya ampun, apa saya sudah jadi gila? Dia mengambil sparepart itu dari atas lantai dan memindahkannya ke atas tutup keranjang yang dalamnya sudah penuh terisi barang. Tapi saya malah menangis lagi, dan tertawa lagi melihat tumpukan barang-barang itu.

Kami bertengkar hanya gara-gara sparepart sepeda bayi coba? Menggelikan. Tapi setelah dua bulan berlalu saya buang juga, dan dia sama sekali tidak menyadari keberadaannya. -_-"


Bagaimanapun saya bersyukur bisa membujuknya untuk mengurangi bajunya. Awalnya dia menolak dan bilang semua bajunya masih dipakai. Tapi saya tau ada beberapa yang sudah tidak dipakai. Yang terpenting lemarinya muat, karena selama ini lemarinya sudah tidak bisa menampung baju-bajunya sampai banyak baju yang disimpan di luar lemari. Walaupun setelah dipisahkan ke tas untuk disumbangkan dia masih berubah pikiran dan mengambil kembali beberapa bajunya dari tas itu, saya bersyukur sudah ada yang berkurang. 

Lalu dia juga sudah berhenti menyimpan anak-anak ayamnya di atas kloset. Oh, benar-benar melegakan setelah berbulan-bulan akhirnya kamar mandi kembali wangi. Hehe. 

Kami banyak berkompromi saat saya melakukan metode ini. Dan saya sudah tidak terlalu stress karena bisa mencoba metode ini dengan cukup lancar. 

"Salah satu keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan." (halaman 171)

Ya, saya jadi percaya diri mengemukakan pendapat saya kepada suami. Biasanya dia keukeuh, kalau keputusan ada di tangannya karena dia kepala keluarga. Tapi sekarang saya lebih percaya diri untuk bisa mengubah keputusannya yang membuat saya terganggu dan tidak nyaman. 

Ya saya tidak melarang dia untuk memelihara ayam. Saya juga tidak suka dilarang-larang memelihara tarantula. Tapi setidaknya ayamnya tidak ditaruh di dalam rumah. Dia menyetujui menyimpan anak ayam dengan induknya di kandang di luar rumah. Kalau tarantula sih sebesar-besarnya ukuranya tidak terlalu memakan tempat. Dan yang terpenting: tidak bau. Hihihi. 

Buku ini juga membuat saya lebih sehat dan santai. 

"Ketika kita mengurangi barang yang kita miliki dan men'detoks' rumah, raga kita seolah turut terdetoksifikasi." (halaman 186)

"Saya tahu mengklaim bahwa berat badan turun atau kulit lebih mulus sesudah berbenah terkesan seperti iklan palsu, tetapi saya tidak bohong. Saya telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa penampilan mereka berubah ketika kamar sudah dirapikan. Badan mereka lebih ramping, kulit mereka lebih cerah, dan mata mereka lebih berbinar-binar." (halaman 187)

Saya juga merasakannya. Mungkin karena berbenah menguras pikiran dan tenaga, lebih banyak kalori yang saya keluarkan. Pinggang saya jadi terasa lebih ramping, leher saya juga terbentuk kembali.

Setelahnya saya jadi merasa punya lebih banyak waktu. Karena melihat rumah yang rapi, saya merasa bisa melakukan hal-hal yang lebih santai. Saya bisa maskeran dan luluran di rumah. Biasanya ga kepikiran karena saat melihat rumah berantakan rasanya banyak yang harus dikerjakan. 

Saya bisa leluasa bermain bersama anak tanpa harus khawatir akan berantakan lagi. Karena setiap mainannya sudah punya tempat tinggal untuk kembali. Dia sudah bisa mengembalikan mainannya ke tempatnya semula. 

Saya jadi merasa bahagia tinggal di dalam rumah. Jadi tidak terlalu sering minta jalan-jalan ke luar. Walaupun mungkin bagi orang lain ukuran rumah kontrakan 3 X 7 meter sempit, tapi bagi saya sekarang terasa sangat luas.

Nah, dulu sebelum nikah saya tuh benar-benar orang yang berantakan. Kamar udah kayak kapal pecah tiap hari. Kasur dipenuhi buku-buku yang berserakan. Dan saya jadi lebih berasa tidur di atas buku daripada di atas kasur. Apalagi kalau pulang les privat jam 9 malem. Jaket, kaos kaki, kerudung, ransel, bahkan helm masih nempel langsung merem di kasur. Paginya otomatis bangun badan kayak ringsek digiles setum.

Pakai manset sebelah-sebelah. Sebelah item, sebelah putih. Kaos kaki juga kadang sebelah ijo sebelah lagi cream. Berdalih pake style harajuku, padahal emang ga tau sebelah lagi ilang dimana. Hahah.

Tapi dulu ga terlalu peduli dengan kondisi kamar yang berantakan. Karena tiap hari bahkan hari minggu saya banyak kegiatan di luar. Dari pagi sampai malam. Rumah hanya tempat singgah untuk tidur.

Setelah nikah dan menghabiskan waktu yang sangat banyak di dalam rumah, barulah terasa efek rumah berantakan dengan tingkat emosi yang tidak terkendali. Apalagi setelah punya anak. Sempat menghibur diri sendiri dengan pernyataan "Wajar rumah berantakan kalau ada anak kecil." Sekarang tidak perlu lagi pernyataan hiburan seperti itu. 

Nah ada lagi yang menarik dari buku ini untuk kamu yang susah move on. Hihi. Iya kamu, da saya mah ga punya mantan. Tapi para abegeh suka nanya ke saya. "Teh, gimana ya caranya biar aku bisa ngelupain si dia?" Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis itu.

Buku ini juga bisa membantu untuk yang gagal move on dari mantan lho. Bwahahaha. Iya seriusan, berbenah membuat kita sadar akan pentingnya masa kini. Jadi sepertinya akan sangat menbantu untuk kamu.  Ini terutama saat kita menyortir "komono" atau kenang-kenangan. 

"Jika Anda menyimpannya karena tidak bisa melupakan mantan pacar, mending barang itu dibuang atau disumbangkan. Kalau Anda bersikukuh menyimpannya, bisa-bisa Anda melewatkan kesempatan untuk menjalin hubungan baru. Yang harus kita hargai baik-baik bukanlah kenangan, melainkan diri kita yang sekarang. Pelajaran inilah yang mesti kita petik saat menyortir kenang-kenangan. Tempat yang kita tinggali saat ini adalah untuk diri kita yang sekarang, bukan diri kita yang ada pada masa lalu." (halaman 111)

Bagi saya pribadi kenangan akan suatu peristiwa yang membuat bahagia ataupun sedih akan tetap diingat walaupun tidak ada barang-barang kenangan yang mengingatkan peristiwa itu. Jadi barang-barang kenangan menurut saya tidak terlalu penting. Selama otak saya masih bekerja dengan baik saya akan mengingatnya (kalau diminta untuk diingat). 

Tapi memang kalau saya melihat suatu benda atau tempat yang mengingatkan pada suatu peristiwa ataupun orang, kenangan itu akan berkelebat begitu saja. Jadi kalau mau melupakan sesuatu yang sedih kenapa harus menyimpan barang-barang yang mengingatkan? Tanpa barang-barang tersebut pun akan tetap teringat kan, tapi setidaknya tidak terlalu sering seperti kalau kita menyimpannya. Lebih baik mengingat hal-hal yang penting saja. Kenangan itu hanya untuk dijadikan pelajaran, bukan untuk mengalihkan perhatian kita dari masa kini dan masa depan. 

Nah saya pribadi lebih berat saat memasuki tahapan berbenah buku. Rasanya sakit banget saat membayangkan harus menyingkirkan buku-buku di rak. Sebetulnya dari dulu saya sangat jarang beli buku dan memilih untuk pinjam di perpustakaan. Modul kuliah juga saya lebih sering pinjem ke temen. Hehe. 

Tapi setelah menikah dan ikut suami ke luar kota. Saya jadi sering beli buku. Kalau pulang kampung pasti nyempetin ke toko buku. Karena di sini jauh ke mana-mana jadi lebih sering beli online. 

Bagaimanapun juga harus saya akui tidak semua buku yang disimpan saya baca ulang. Hanya beberapa saja yang memang saya buka kembali. Betapa malang nasib buku-buku yang tidak dibaca lagi. 

No comments:

Post a Comment