Saturday, November 2, 2019

GIVEAWAY: Goodbye, Things Hidup Minimalis Ala Orang Jepang (Fumio Sasaki)

Anatomi:
Judul: Goodbye, Things - Hidup Minimalis Ala Orang Jepang
Judul asli: Bokutachini, Mou Mono wa Hitsuyou Nai
Penulis: Fumio Sasaki
Penerjemah: Annisa Cinantya Putri
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2019
Jumlah halaman: 242
Dimensi: 20 cm x 13,5 cm
Harga: Rp 62.400

Alhamdulillah... Akhirnya selesai juga baca buku ini. Saya ucapkan terima kasih sebelumnya kepada para coach saya di kelas berbenah sadis dan kelas anti menunda yang membantu saya menyelesaikan membaca buku ini.

Awalnya saya enggan buat nerusin baca padahal udah setengahnya dong. Waktu itu alasannya karena takut. Iya takut. Takut terpengaruh lebih jauh oleh buku ini. Karena bagi saya buku ini keren banget, tapi saat itu saya belum siap menerima pemikiran minimalisme ekstrem maximum drive (lebay mode on hahaha).

Ya, waktu itu saya menganggap konsep minimalis Fumio Sasaki ini kebangetan. Lebih-lebih dari Konmari Sensei. Walaupun jujur, pemikiran Fumio Sasaki ini sangat logis dan brainwashnya kena banget. Makanya saya takut lanjutin baca. Baru baca dikit aja saya udah mau buang buku2 saya sama raknya coba. Aslinya. Saya bakalan buang buku2 saya kalau udah pindah ke Bandung. Di Bandung kan saya bisa ke Dispusipda dan baca atau pinjam buku sesuka saya. Ga usah nyimpen buku banyak-banyak di rumah. Dispusipda bisa jadi tempat penyimpanan buku-buku pribadi saya. (sok iye banget ya, emang Dispusipda punya nenek moyang saya gituh?) 🤣

Tapi saat ikut kelas berbenah sadis, saya mulai lanjutin baca. Dan saat ikut kelas anti penundaan, saya tamatin juga akhirnya. Sayang kan udah dibeli masa ga dibaca.
Motif saya membeli buku ini karena saya mulai tertarik dengan dunia berbenah setelah baca dan menerapkan bukunya Konmari Sensei. Dan iya, ternyata ini tuh lebih sadis dari metode Konmari.

Saya mengira penulis buku ini lebih kejam dari Konmari Sensei mungkin karena Fumio Sasaki seorang laki-laki dan masih lajang. Lalu kalau Konmari Sensei kan perempuan dan sudah berkeluarga. Dua faktor itu sepertinya yang membuat buku ini lebih rasional, logis, dan sadis daripada buku tentang Konmari. Wkwkwk.

Tapiiiiii. Setelah baca sampai akhir, pandangan saya berubah. Fumio Sasaki ini ternyata sensitif sekali hatinya. Hal itu bisa terlihat dari Bab 4 tentang 12 hal yang berubah sejak dia berpisah dari barang-barang kepemilikan. Walaupun sangat logis, perasaannya juga bermain dalam konsep minimalisme ini. Dia menggambarkan secara detail dirinya yang dulu sebelum menerapkan minimalisme dan sesudahnya. Sampai pada perasaan-perasaanya dia keluarkan dalam tulisan. Kayak baca curhatan aja baca buku ini tuh.

Sekarang perubahan apa yang terjadi pada saya setelah baca buku ini? Walaupun sudah hatam bukunya Marie Kondo yang pertama, dan ikut kelas berbenah sadis, ternyata saya mengalami kembali beberapa perubahan terutama mindset. Konmari lebih ke praktek yang detail ya. Nah kalau Fumio Sasaki lebih banyak "teorinya". Saya lebih memaknai hidup dengan sangat sedikit barang.

Saya tertarik dengan konsep ketidaknyamanan yang justru malah membuat kita bahagia. Saat digambarkan bagaimana penulis mengganti handuk-handuk tebalnya dengan tenugui (handuk tangan tipis ala Jepang), saya berpikir tentang betapa malasnya saya mencuci handuk dan jemur handuk. Mungkin karena handuk yang tebal itu berat, butuh banyak air untuk membilas busanya, dan butuh waktu yang lama untuk kering. (Saya tidak pernah mengeringkan handuk dengan mesin pengering semenjak baca tentang hilangnya daya serap handuk saat dikeringkan pakai mesin).

Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti handuk saya dengaaaan..
"SAMPING"

Itu adalah kain batik yang suka dipake gendong bayi sama ortu2 jaman dulu. Saya punya beberapa kain itu untuk alas setrika. Pas nyoba pakai kok ngerasa nyaman dan ga tau kenapa ada perasaan "keren" juga. Serasa kayak putri-putri keraton gituh. Huahahah. Indonesia banget lagi pake batik tiap hari.

Selain itu,  perubahan lain yang saya alami setelah baca buku ini adalah: Saya kasihin mukena saya satu-satunya dan mengganti dengan gamis putih. Mukena itu sebenarnya udah lumayan lama, warna hitam polka putih. Jenis bahannya mukena Bali. Enak, adem, dan ga keliatan kotor karena warna dasarnya hitam.

Tapi setelah dipikir-pikir saya ko ngerasa ga adil. Ga adil sama Allah. Pas keluar rumah mau pergi ke sekolah misalnya, dandan rapiiiih. Pakai gamis yang bersih dan udah disetrika, bros menghiasi khimar nyantol di bahu. Pakai manset, kaos kaki, ciput, dll.

Nah giliran urusan sama Allah saya pakai mukena praktis langsung slurp, ga ada indah-indahnya. Ko saya ngerasa bersalah berpenampilan begitu saat menghadap Tuhan saya. Harusnya kan spesial gitu, lebih spesial dibandingkan dengan saat ketemu manusia.

Jadilah saya tiap shalat pakai gamis putih, khimar segiempat putih, manset, kaos kaki, celana panjang daleman gamis. Semua serba putih biar keliatan bersih. Saya siapkan juga bros khusus untuk shalat. Harus yang lebih spesial dari yang biasa saya pakai keluar rumah.

Dan ternyata saya baru nyadar kalau saya cuman pakai dua bros selama ini. Pas praktek buku konmari saya sudah sortir bros-bros saya dan dikasihin ke siswi-siswi SMP. Ternyata saya masih harus menyingkirkan bros-bros saya. Hanya dua yang saya simpan. Bros untuk keluar rumah dan bros untuk shalat.

Awalnya merasa ribet saat harus shalat pakai gamis dan khimar segiempat. Harus pakai lepas minimal lima kali sehari. Butuh waktu yang lebih lama dibandingkan pakai mukena. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga. Sudah sekitar sebulan lebih saya merubah pemakaian mukena ini. Paling lama juga lima menit. Dan saya mulai merasa nyaman.

Perubahan juga terjadi pada kebiasaan belanja awal bulan. Ga ada lagi belanja awal bulan. Hiks. Saya sekarang ga pernah nyetok lagi. Kalau udah habis, baru beli. Minimarket dan warung deket ini, tinggal jalan.

Lalu tentu saja mindset tentang rumah kecil. Sebenarnya setelah praktik konmari saya sudah lebih menyukai rumah yang kecil dibandingkan rumah yang besar. Tapi di buku ini dibahas dengan rinci tentang keuntungan menempati rumah ukuran kecil. Saya sudah 5 tahun tinggal di kontrakan berukuran 3x7. Dan saya suka. Suami pernah sih nawarin pindah ke kontrakan yang ukurannya lebih besar. Tapi saya sudah nyaman di sini. Pemaparan Fumio Sasaki tentang rumah yang kecil membuat kita lebih nyaman bisa menjelaskan kenapa saya suka. 

Rencananya kita memang akan pindah ke kampung halaman kalau sudah memenuhi kriteria syarat waktu pengajuan mutasi. Sebenarnya saya tidak peduli mau tinggal di mana. Di planet mars juga hayuk. Wkwkwk. Yang penting saya bisa bebas menyimpan atau membuang barang yang saya mau. Saya tau saya bisa merasa nyaman tinggal dimana saja asalkan diberi kebebasan untuk hal itu. Nah permasalahan muncul saat mertua nawarin tinggal di rumah yang "lebih besar". Saya tetep pengen tinggal di rumah yang lebih kecil tapi ada kolamnya, ada kebunnya juga. Iya, itu rumah yang kami tinggali saat awal-awal nikah dan ngerasa nyaman banget tinggal di situ. Kami lalu pindah ke luar kota, dan ternyata mertua beli rumah lagi yang lebih besar tapi bangunan aja ga ada lahan buat nanam-nanam. Pan jadi kayak menantu ga tau diri saya tuh, ditawarin yang gede lebih milih yang kecil. Padahal sama-sama deket rumah mertua kedua rumah itu. Tapi pindah ke Bandungnya aja belum, jadi saya masih santai. Heheh. (Maaf jadi curhat) 🤣

Pernah ada perdebatan dengan suami tentang ukuran tempat tinggal. Saya sih tetep milih yang ukurannya lebih kecil. Kalau memang nanti punya anak lagi dan butuh kamar untuk anak ya tinggal bangun ruangan baru aja. Jadi saya mending ukuran tanahnya yang besar, halaman luas, tapi bangunannya tetap minimalis. Kebayang kan rumah-rumah penduduk desa pada jaman dahulu. Imut-imut rumahnya tapi halamannya luaaaaas banget. Ada sawahnya, kebun sayur, dll. Wkwkwk. Ternyata saya matre juga.

Buku ini cuman 5 Bab. Tapi tiap Babnya padat. Pada 2 Bab pertama kita diajak menyelami pikiran kita sendiri. Mengapa minimalisme? Mengapa kita mengumpulkan begitu banyak barang? Di sini sudah mulai pengen muntah, kita akan merasa sebal dengan diri kita sendiri.

Di Bab 3 Ada 55 kiat berpisah dari barang dan 15 kiat tambahan untuk tahap selanjutnya dalam perjalanan menuju minimalisme. Pasti bakal ada keraguan, bisa ga ya kita menerapkan kiat-kiat ini. Dan iya bisa, pasti bisa. Pertanyaan sebenarnya adalah mau ga ya kita menerapkan kiat-kiat ini. Itu sih. Intinya mental.

Pada Bab 4 ada 12 hal yang berubah sejak penulis berpisah dari barang-barang kepemilikan. Kita dibikin mupeng dan jadi semangat buat buang barang. Wkwkwk.

Yang terakhir "merasa" bahagia alih-alih "menjadi" bahagia. Sangat menohok sekali. Sangat, sekali. Pleonasme. Pokoknya jleb banget lah pas Bab terakhir ini. Spoiler dikit ya. Kutipan favorit saya dari buku ini:

"Seseorang yang saat ini tidak bahagia tidak bisa membuat rencana untuk merasa bahagia esok hari, lusa, atau setahun dari sekarang, karena ketika saat itu tiba, momen itu tak ada bedanya dengan masa 'sekarang', saat ia merasa tidak bahagia. Dengan kata lain, kita tidak membutuhkan hal-hal tambahan untuk merasa bahagia saat ini juga. Kita bisa senantiasa merasa bahagia." (halaman 232-233)

Saya sampai pada renungan, bahwa minimalisme ini tidak hanya tentang menyingkirkan barang-barang saja. Tapi seluruh aspek kehidupan. Kita akan mulai berpikir tentang makanan yang masuk ke tubuh kita. Sehatkah makanan ini? Pentingkah kita masukkan makanan ini? Akhirnya kita juga akan mencapai makan secukupnya dan seperlunya saja. Tidak sekedar karena enak dan kenyang. Tapi sehat atau tidak. Penting atau tidak.

Saya juga jadi teringat salah satu istilah dalam Islam yaitu "bid'ah". Pentingkah kita melakukan amalan ini dan itu? Entah kenapa konsep minimalisme ini menurut saya lebih cenderung dekat dengan konsep islamisme.

Oh iya, jadi teringat perbedaan besar buku ini dengan buku konmari. Kalau di buku konmari itu kita diajak untuk personifikasi terhadap benda-benda. Nah dalam minimalisme ini Fumio Sasaki menekankan benda berbeda dengan manusia. Udah buang aja, cuma benda doang. Kita lebih fokus untuk mengurus orang daripada benda-benda. Untuk lebih memanusiakan manusia dan menyingkirkan benda-benda.

Selain itu pada minimalisme, Fumio Sasaki menyarankan untuk menyingkirkan benda yang kita sukai dan membuat kita bahagia. Kalau konmari kan agak lebih lunak. Kita masih suka, kita boleh keep. Nah minimalisme ini sadis kan..

Siap baca? Siapa yang mau dapat buku ini dari saya? Atau mau buku konmari? 
Yang mau ikut giveaway simak syarat di bawah ini ya.
1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia
2. Follow akun twitter @sinta_legian
3. Share postingan ini dengan hashtag GA #minimalisme dan mention ke akun twitter saya
4. Jawab pertanyaan di bawah ini pada komentar dengan menyertakan nama, akun twitter, domisili, link share dan jawabanmu

Apa hal yang membuatmu tertarik pada minimalisme? 


Untuk yang mau buku konmari, silahkan simak syaratnya:
1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia 
2. Follow akun twitter @sinta_legian 
3. Share postingan ini dengan hashtag GA #konmarimethode dan mention ke akun twitter saya
4. Jawab pertanyaan di bawah ini pada kolom komentar di link berikut:
https://www.resensibukuslw.com/2018/11/the-life-changing-magic-of-tidying.html?m=1 
dengan menyertakan nama, akun twitter, domisili, link share dan jawabanmu. Jadi bukan di sini ya buat buku konmari. 

Barang apa yang paling ingin kamu singkirkan dari rumahmu saat ini? 

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 3-10 November 2019 hingga pukul 24:00 WIB. Pengumuman pemenang akan saya beritahukan di blog ini dan akun twitter. Good luck.

Pengumuman giveaway



Selamat kepada Risa Nuraeni. Silahkan kirim alamat lengkapnya melalui twitter ya. ☺


12 comments:

  1. Barang yang ingin disingkirkan :
    Jadi aku Di rumah punya satu ruangan yang dijadiin gudang. Makin lama isinya makin penuh kubingung jadinya. Padahal kalau disortir kayanya kamarnya bisa difungsikan yg lain yg lebih bermanfaat.

    Thessa
    @mybooklyfe
    Jakarta

    https://twitter.com/mybooklyfe/status/1190843312506163200?s=19

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini buat buku konmari ya mbak?
      Bisa dipindahkan ke kolom komentar pada link ini https://www.resensibukuslw.com/2018/11/the-life-changing-magic-of-tidying.html?m=1

      Delete
  2. Apa hal yang membuatmu tertarik pada minimalisme?

    Saya tertarik dengan minimalisme sejak masih kecil, saya tidak suka keribetan, jadi sebisa mungkin barang apapun yang saya beli itu bermanfaat berkali-kali jadi saya tidak harus membeli dalam waktu dekat.
    Alasan kedua, minimalis itu bisa buat kita jadi fokus ke hal-hal yang lebih penting ketimbang mengurusi letak lemari baru, letak hiasan dinding, beli baju yang trend, dsb...
    Saya sendiri merasa lebih bisa menyortir apa yang penting dan gak terlalu penting. Saya bisa fokus ke hal2 atau barang2 yang setidaknya memiliki prospek menguntungkan kedepannya.

    Terimakasih ya udah ngadain GA ini, semoga rejeki saya dapat buku yang pasti bermanfaat bagi saya.

    Arista Dwi Lestari
    @Arista_LLL
    Kediri, Jawa Timur
    Link share :
    https://twitter.com/Arista_LLL/status/1190895332265062400?s=19

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berpartisipasi. Ditunggu saja ya nanti pengumumannya. ☺

      Delete
  3. Seperti salah satu cita-citaku, punya rumah minimalis dengan halaman yang luas lalu ada kebun sayur di sekeliling rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lebih damai kalau ada tanaman tuh. Dan lebih sehat kalau bisa tanam sayuran sendiri, dijamin organik kan.

      Delete
  4. Saya selalu tertarik dengan ide-ide antimainstream meski tak selalu terpengaruh dan mengikutinya. Pemikiran konmari unik sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, konmari dan minimalis bisa merubah setiap aspek kehidupan kita, bukan hanya metode berbenah semata. 😊

      Delete
  5. nama: Marfa U
    akun twitter: @_marfadoc
    domisili: Purwokerto
    link share: https://twitter.com/_marfadoc/status/1191919924551143424

    Wah ternyata begitu ya gambaran isi bukunya, aku sempat beberapa kali liat review bukunya cuma belum pernah baca hhe. Tertarik ke minimalisme karena aku juga sedang belajar sih, belum yang ekstrim banget. Minimalisme jadi lebih bersyukur memiliki banyak barang yang dipunya, dan juga kesehatan mental juga biar nggak boros, biar nggak kalap mata dan itu ngebantu banget buatku untuk terus merasa berkecukupan karena tiap gajian rasanya resah mau nimbun barang, duh beli barang ko banyak banget itu kaya mau buka toko aja hehe. Karena aku dari pengalaman sih kak, dulu kan aku berada di ekonomi biasa aja dan untuk punya sesuatu itu dapetnya lama, ketika freelancing dan dapet uang sendiri wah ngerasa sneneg dong akhirnya beli banyak yg aku suka namu lama kelamaan ternyata bikin gerah, akhirnya sekarng kembali ke nilai2 saat aku kecil dulu untuk bersyukur dan membiasakan menabung. hidup jadi lebih tenang dan bahagia. dan juga mengurangi rasa bersalah karena kalau punya banyak barang kan punya banyak sampah juga itu suka sedih sendiri hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berpartisipasi. Tunggu nanti pengumumannya ya.. ☺

      Delete
  6. aku adalah orang yang menyimpan hal-hal remeh dengan dalih "ah takut nanti butuh" atau "ah takut nanti kangen, ini penuh kenangan". alhasil buku dari zaman SD sampai sekarang kuliah masih ada di gudang. bukan cuma nyempitin tapi ngeribetin karena aku udah 5 kali pindah rumah dan barang itu selalu dibawa. padahal buku cetak udah beda kurikulum dan buku tulis ga berguna lagi kan. punya kerudung hampir satu tas besar ga aku pakai tapi aku simpan dengan alasan yang sama.

    sekitar dua tahun lalu, aku nyasar di video the art of letting go dimana joshua menceritakan bagaimana ia menyikapi barang peninggalan ibunya. perkataannya yang paling aku ingat sampai saat ini adalah "our memories are not inside our things. our memories are inside us". darisini aku mulai melirik dan sedikit-sedikit memulai hidup minimalis.

    apa yang aku suka dari minimalis?
    - mengajarkan aku untuk selalu ngerem: liat barang lucu selalu dipikir ulang dan bilang "enggak, enggak aku belum butuh kayanya". tas, sepatu aku batasin kalau udah punya tiga, cukup, ga perlu beli. kecuali buku bacaan aku belum bisa ngeremnya. huhu.
    - karena minimalis itu the art of letting go. darisini aku belajar mengikhlaskan semua barang yang kupunya. aku mulai memilah buku koleksi, kerudung, baju. ada yang aku jual dan aku sumbangin.

    btw,makasih buat sharingnya tentang minimalis ala mba sinta, aku pengen nyoba ganti handuk pake samping deh. ��

    nama: Risa Nuraeni
    akun twitter: [at]nurainirisaa
    domisili: jakarta selatan
    link share tulisan: https://twitter.com/nurainirisaa/status/1191595022186991617

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berpartisipasi. Tunggu saja pengumumannya ya.. ☺

      Delete