Pages

Saturday, January 18, 2020

GIVEAWAY: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir (Salim A. Fillah)

Udah lama gak baca novel thriller. Eh ini fiksi sejarah deng. Tapi buat saya ini thriller, soalnya bikin deg-degan, banyak pembunuhan di dalemnya, dan berdarah-darah. Wkwkwk. Genre favorit saya banget. Dan gak nyangka seorang Salim A. Fillah nulis novel beginian. Tetiba inget Taiko dan Musashi. Tapi karena ini menyangkut pada sejarah bangsa dan agama saya sendiri, jadi lebih jleb kali ya ke saya. Nyampe nangis dong waktu baca bagian berdarah-darah saat eksekusi Pangeran Ngabehi dan kedua anaknya. Kan kalau baca Taiko atau Musashi saya biasa aja malah asa seneng ya kalau ada bagian siksa-siksaan, gorok-gorokan, dan semacamnya. Psycho. Hahah.

Di awal novel, pas baca covernya agak bingung. Pangeran Diponegoro gituh, pasti tau lah ya. Nah Janissary... Apaan tuh. Rasa penasaran muncul dari kata itu. Sesuatu yang asing. Pas mau buka google, eh kuota saat itu abis dong. Wkwkwk. Ya udah lanjut baca aja.

Karena saya termasuk pembaca yang sistematis, eh ketemu juga di lipatan dalam cover. Istanbul, bahasa Turki berarti kan. Tapi belum paham artinya apa. Baca juga "Senarai Syukur" penulis, siapa tau dijelaskan disana. Ga nemu juga. Tapi ada hal baru, tentang pelafalan vokal A dan O dijelaskan disini. Karena saya bukan orang Jawa, jadi baru tau pengucapan asli Jawa itu A tapi jadi O karena Sultan Agung Hanyokrokusumo menyukai vokal fathah pada huruf Arab kha', ra', shadd, dhadd, tha, zha', ghain, qaf. Harusnya Dipanegara jadi Diponegoro, Praga jadi Progo, Bagawanta jadi Bogowonto, dll. Menarik sekali, jadi pengen belajar bahasa Jawa. Btw, saya juga orang Jawa deng, Jawa Barat. 😆

Lalu ada bagian khusus yang mencantumkan beberapa nama tokoh sejarah. Nama-nama, tempat, tahun, dll sebagai keterangan. Di bagian ini kayak baca buku sejarah waktu jaman sekolah dulu.

Nah di prolog mulai keluar bahasa indah sang penulis. Ini yang spesial menurut saya. Detail latar yang membuat pembaca menikmati waktu dan tempat yang tergambar dengan jelas. Alur maju mundurnya juga sangat baik. Pas flashback pasti ketahuan karena tiap chapter ada titimangsanya. Karakter setiap tokoh juga sangat kuat. Kalau dulu selama sekolah, baca buku sejarah tentang Pangeran Diponegoro terasa biasa saja. Tapi baca buku ini, karena emosi saya dimainkan sebegitu rupa oleh penulis dengan bahasanya, wow banget gitu kalau denger nama Pangeran Diponegoro. Pokoknya jadi timbul rasa kagum, bangga, dan mungkin fell in love kali ya sama beliau. Wah, bahaya. Hahah. Sebelum lanjut saya kasih tau anatomi buku ini dulu deh, keburu lupa.

Anatomi buku
Judul : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis : Salim A. Fillah
Penerbit : Pro-U Media
Tahun terbit : 2019
Jumlah halaman : 632
Dimensi : 23,2 cm x 15,7 cm
Harga normal : Rp. 140.000

Saya mau coba ceritakan sekilas tentang tokoh paling utama di buku ini. Pangeran Diponegoro. Beliau seorang keturunan sultan yang menolak tahta setiap kali ditawari. Banyak fansnya karena dekat dengan rakyat kecil. Hobinya zikir di bawah pohon kemuning sambil bersila di atas batu di tengah kolam. Lebih tertarik jadi pendakwah dan penata agama di Pulau Jawa daripada jadi sultan.  Sangat dicintai rakyat Yogyakarta karena keramahan, kepedulian, dan kewibawaannya. Penyatu antara priayi dan santri yang biasanya kurang akur. Gak suka liat darah, gak suka perang. Tapi karena ketenangannya terganggu padahal udah pindah dari keraton ke Puri Tegalrejo karena gak mau ikut-ikutan keluarga priayi yang sudah tercemari pengaruh Belanda.. Eh tapi Belanda usil juga nyampe nembakin Puri Tegalrejo, pokoknya cari gara-gara terus lah, mancing-mancing Sang Pangeran agar terusik dan merespon dengan buruk. Biar ada alasan buat menangkap beliau karena pengaruhnya yang meluas pada masyarakat. Ini tokoh favorit saya banget. Sosok seorang pemimpin sejati menurut saya, dan saya belajar banyak dari tokoh ini.

Kutipan favorit saya tentang beliau di buku ini ada di halaman 443 saat Sang Pangeran mengakui kesalahannya.

"Taukah kamu apa itu kekalahan?"

" Apakah seperti yang sedang saya alami sekarang, kanjeng Sultan?" tanya Raden Basah Nurkandam dengan muka tertekuk. "Dikhianati dan ditinggalkan oleh orang yang sangat saya hormati. Perih sekali rasanya."

"Kalau hitungannya seperti itu, berapa banyak kekalahan yang sudah aku alami, menurutmu?" Diponegoro tersenyum.

Nurkandam seakan baru menyadari, betapa banyak orang-orang hebat yang telah meninggalkan barisan Diponegoro. Ya, dia juga merasa sedih ketika Kyai Mojo ditangkap. Tapi bagaimana sedihnya Diponegoro? Dia juga merasa terpukul ketika sesepuh mereka Pangeran Mangkubumi akhirnya meletakkan senjata. Tapi bagaimana sedihnya Diponegoro? Dia pun merasa terguncang ketika Ali Basah Sentot Prawirodirjo menyebrang ke pihak musuh. Tapi bagaimana sedihnya Diponegoro?Dia juga tak terima ketika Ali Basah Kertopengalasan berubah menjadi perantara musuh untuk berdamai. Tapi bagaimana sedihnya Diponegoro? Belum lagi menghitung gugurnya Kyai Kwaron, Ali Basah Abdul Kamil, Pangeran Ngabehi, Raden Mas Joyokusumo dan Adikusumo. Tiba-tiba Nurkandam merasa begitu lemah dan kekanak-kanakan. " Maafkan kecengengan saya, Kanjeng Sultan. Apa yang saya rasakan tentu saja tidak ada seujung kuku dari yang Paduka alami."

" Oh, tidak, tidak. Aku tidak memintamu membanding-bandingkan penderitaanmu dengan penderitaanku. Aku hanya ingin kau merenungkan, apa sebenarnya makna kekalahan."

"Mohon Kanjeng Sultan memberikan pencerahan kepada Nurkandam yang dha'if ini..."

"Kekalahan itu ketika kita ditinggalkan Gusti Allah meskipun kita menang perang ataupun punya banyak kawan serta pengikut. Sebaliknya, yang disebut kemenangan adalah tetap bersama Gusti Allah meskipun kita tinggal sendirian, atau bahkan binasa dalam perjuangan."

"Masya Allah."

"Dengan pemahaman yang demikian, seorang pejuang akan menjalani lakunya benar-benar sebagai titahnya Gusti. Dia akan bersama kebenaran apa pun yang terjadi. Di tidak akan mengejar kemenangan dengan kecurangan. Karena kemenangan yang demikian memang mengalahkan musuh, tapi membuatnya ditinggalkan Tuhan. Dan itu justru menjadi kekalahan hakiki."

"Berarti yang terpenting kita tidak mendurhakai Gusti Allah di dalam perjuangan ini, begitu, Kanjeng?"

"Betul. Kemaksiatan memang sumber kekalahan, bukan? Seperti pernah disampaikan Kyai Mojo tentang wasiat Sayyidina Umar kepada Sa'd ibn Abi Waqqash yang akan menghadapi bala tentara Persia."

" Iya. Saya hapal riwayat tentang ucapan beliau itu, kanjeng Sultan. Kala itu beliau mengatakan, 'Wahai Sa'd, janganlah tertipu dengan kedudukanmu sebagai paman Rasulullah dari pihak ibu. Sungguh aku tidak mengkhawatirkan besarnya jumlah lawan yang akan kalian hadapi. Tapi yang kutakutkan adalah apabila kalian bermaksiat kepada Allah."

"Aku sudah mengalaminya, Nurkandam. Entah sejarah akan menulis apa tentang aku. Terserahlah. Kamu ingat Pertempuran Gawok? Kita kalah karena pada........"

Masih panjang itu, tapi masa saya ngetikkin 3 halaman. Cape. Wkwkwk. Baca aja lah sendiri. Pokoknya saya salut banget beliau mengakui kesalahannya, tidak menyalahkan orang lain. Tidak pula menyalahkan yang telah berkhianat. Tidak menyalahkan pihak musuh juga.

Saya jadi refleksi. Karena saya juga adalah pemimpin bagi anak saya. Saat dia tidak taat pada perintah, saat dia mulai tantrum, saat dia bikin kessseeeeel.. Jadi istighfar. Karena mungkin itu karena dosa-dosa saya sebagai orang tuanya. Bahkan saat dia sakit, saya jadi mikir apa kesalahan saya ya. Karena dia kan balita belum baligh. Pasti ada dosa saya yang membuat Allah menimpakan sakit kepadanya. 😭

Selain itu bagian favorit yang ingin saya kutip adalah tuntutan Pangeran Diponegoro, ada di halaman 128-129.

"Yang Mulia Sultan Jawa, begitu Kertopengalasan menyebut atasannya... Cuih!" De Stuers kelihatan berang. Tapi dia tak punya pilihan selain melanjutkan membaca. "Beliau tidak akan membatalkan cita-citanya untuk memulihkan kemuliaan agama Islam di seluruh Jawa. Jika beliau tak berhasil memenuhi maksud itu, pasti beliau lebih memilih binasa dan sirna dari muka bumi ini."

"Mati sajalah orang gila!" teriak Cochius sambil melempar piring logamnya ke meja, menghasilkan dentang krompyang yang bertahan beberapa detik.

"Orang-orang Belanda oleh beliau akan diberi lima pilihan. Pertama, jika mereka tetap ingin tinggal di Jawa dan menjadi serdadu sewaan orang Jawa, maka mereka akan diizinkan menyandang pangkat dan mendapatkan gaji. Namun, mereka harus berjanji untuk menjadi 'pedang Allah', yakni selalu membantu Yang Mulia Sultan untuk memerangi orang kafir dan kafir murtad yang berbuat zhalim. Kedua, jika mereka betah di Jawa dan hendak bergiat dalam usaha dan niaga, maka mereka akan diberi tempat di Pesisir Utara yang dikhususkan untuk itu. Ketiga, jika mereka mau kembali ke Nederland, maka orang Jawa dan orang Belanda akan tetap menjadi sahabat satu sama lain. Keempat, jika orang Belanda membutuhkan hasil bumi orang Jawa mereka wajib membayar dengan harga yang pantas. Dan jika menyewa lahan, mereka juga harus membayar dengan jumlah yang semestinya. Dan kelima...."

"Apa yang kelima? Kenapa berhenti segala?"

" Ya bagian itu adalah khayalan Diponegoro yang paling naif."

"Lanjutkan, Mayor!"

"Jika mereka mau masuk Islam, tentulah semua perselisihan akan tuntas, masalah berakhir, dan kedudukan mereka di sisi Yang Mulia Sultan adalah saudaranya dalam iman; bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain dan bagaikan satu tubuh yang bila satu bagiannya sakit, maka yang lain turut merasakan."

"Diponegoro membayangkan bahwa seusai perang dia bisa mengembalikan keadaan Jawa yang berdaulat penuh seperti masa sebelum Gubernur Jenderal Daendels," sela De Kock sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Dia seolah hendak mengatakan, kita harus menjadi dua kanak-kanak yang sempat berselisih dan tak saling bertegur sapa, tapi kini telah berbaikan kembali, lalu hidup berdampingan tanpa saling memerintah ataupun diperintah."

"Bodoh sekali!" mimik wajah Cochius tampak merupakan perpaduan dari heran sekaligus jengkel luar biasa.

"Dan dia mau menjadi penata agama seluruh Jawa? Bagaimana dengan sunan dan sultan?" tanya De Stuers.

"Dia pasti akan meminta agar wilayah kekuasaannya diambilkan dari Yogyakarta maupun Surakarta. Dalam suratnya, Kertopengalasan mengisyaratkan bagaimana Diponegoro akan memerintah dengan menjadikan kepatuhan terhadap agama sebagai ukuran terpenting kelayakan para nayaka dan tumenggung. Seperti di Remo Jatinegoro yang ada dalam jangkauannya, bupatinya rajin shalat lima waktu dan taat beragama, maka keadaan menjadi tentram. Kalau di daerah lain terdapat bupati yang tidak mau shalat dan banyak bermaksiat, Diponegoro pasti akan memeranginya."

Ketawa saya tiap baca bagian orang-orang Belanda dibikin pusing sama Pangeran Diponegoro. Dilema mereka tuh kalau dibunuh, takut sama reaksi rakyat yang sangat mencintai Sang Pangeran. Mau ngikutin tuntutannya, takut mereka jadi gila.

Saya juga tertarik dengan dua tokoh asing dari Turki yang membantu Sang Pangeran, Nurkandam dan Katib. Beneran ada gak sih orang-orang ini, penasaran. Tapi kalau ada catatan Basah Katib yang beneran, berarti tokoh ini juga asli ada ya. Sempat galau saat ada indikasi pengkhianatan dari salah satunya. Penuh dengan konspirasi penyelesaian masalahnya. Keren ini pas mereka berakting untuk mengungkap penghianat sesungguhnya.

Setelah baca buku ini nyampe tamat, walaupun gak nemu definisi Janissary, saya bisa simpulkan bahwa mereka adalah sejenis tentara khusus di Turki. Dan peran mereka membuat cerita ini sangat menarik. Penasaran apa motif mereka bantuin Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda? Baca sendiri. Wkwkwk.

Salah satu alur yang menarik juga adalah kisah cinta segi 5, hahah. Kan Sofi suka sama Nurkandam, Nurkandam suka sama Fatma, Fatma suka sama Katib, Katib suka sama Yasmin, lalalalalala. Selamat berpusing ria dengan kisah mereka. Eh cinta segi 6 deng. Kan ada A Jie juga yang suka sama Katib walau pasti bertepuk sebelah tangan. Kaget lah ada gay di buku ini. Spoiler alert mode on. 😆

Tapi yang paling saya suka adalah deskripsi peperangan yang sering ditemui di buku ini gak bikin bosen. Seru banget lah buat saya kalau ada adegan perang atau duel di suatu chapter. Ini hampir di setiap chapter ada. Kebayang banget, apalagi saat ada bau mesiu yang bercampur dengan anyir darah. Udah mah pas baca buku ini saya lagi haid. Benar-benar terasa suasana perangnya.

Terakhir, saya sebenarnya juga merasa simpati terhadap salah satu Belanda yang digambarkan sebagai seorang yang tidak setuju dengan kekerasan pada orang-orang negeri jajahan. Dia adalah Cleerens, Kolonel Jan Baptiste. Tapi karena tuntutan atasan, ya gitu deh. Idealismenya harus hancur dengan kebohongan yang dilakukannya terhadap Sang Pangeran. Sedih deh baca akhir buku ini.

Tapi agak terhibur dengan catatan kaki dihalaman 586.

Perang Diponegoro (1825-1830) sering disebut oleh sebagian sejarawan sebagai pemantik bola salju Kemerdekaan Indonesia. Urutannya sebagai berikut : Perang Diponegoro menyebabkan kebangkrutan Pemerintah Kolonial dan Kerajaan Belanda, hal ini memicu dilaksanakannya Cultuur-Stelsel (Tanam Paksa) oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch untuk memulihkan keuangan Belanda. Tanam Paksa memakmurkan Belanda menjadi negara terkaya di Eropa, muncul kemudian kaum oposisi yang menyerukan penyelidikan keadaan rakyat tanah jajahan. Dari situ muncul kebijakan Politik Etis ditandai dengan didirikannya sekolah-sekolah, rumah sakit, dan lainnya di Nusantara. Meskipun hanya kaum ningrat yang menikmati pendidikan, tapi hal ini cukup untuk memantik Kesadaran Nasional. Kesadaran Nasional melahirkan Kebangkitan Nasional. Kebangkitan Nasional menumbuhkan Pergerakan Kemerdekaan, melalui Sumpah Pemuda, sampai berpuncak pada Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945.

Tetiba jadi inget Van Den Bosch. Ada hal menarik di halaman 84 -85.

Di dalam keretanya, Van Den Bosch memijit-mijit kening karena kepalanya kembali diserbu pusing. Dia ingat bahwa Mangkubumi yang akhirnya menjadi Sultan pertama Yogyakarta itu, yang menjadi salah satu pembangkrut VOC hingga Serikat Dagang terbesar di dunia itu diputuskan pailit dan gulung tikar pada 31 Desember 1799 adalah kakek buyut dari Pangeran Diponegoro yang harus dia akhiri segera perlawanannya jika tak ingin Kerajaan Belanda mengalami nasib serupa VOC.

Dihantam sampai limbung oleh tulip dari Turki Utsmani, ditikam sampai sekarat oleh Pangeran dari Mataram. Kini dengan waswas dia mendengar selentingan bahwa Pangeran Diponegoro dari Dinasti pecahan Mataram di Yogyakarta itu juga dikelilingi beberapa sisa pasukan Janissary dari Turki Utsmani, atau jangan-jangan malah dipersenjatai dan juga didanai. Dalam bentangan angan antara Istanbul dan Yogyakarta, Van Den Bosch tau bahwa musuh sejati kepentingan Eropa serupa saja dimana-mana. Ialah Islam dan ajaran jihadnya.

Jangan salah, disini bisa timbul pemahaman kalau Islamophobia itu sebenarnya hanya untuk mereka yang punya "kepentingan" seperti penjajah lho. Karena ada juga bahasan saat Nurkandam dan Katib berusaha menyelamatkan Gregorius V Angelopoulos, Patriarkh seorang pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks yang hendak dihukum mati. Beliau walaupun seorang pemimpin gereja, tidak memandang Islam sebagai musuh karena tidak punya "kepentingan" seperti penjajah.

Btw di novel ini juga disinggung beberapa kebudayaan Jawa yang mungkin dianggap oleh sebagian Muslim sebagai syirik, bid'ah, dll. Penulis menuliskan filosofi indah tentang kebudayaan itu sebagai salah satu jalan dakwah Islam. Saya pribadi jadi benar-benar kagum terhadap budaya Jawa seperti keris. Rasulullah pun punya banyak koleksi pedang yang bahkan diberi nama. Begitupun keris. Kalau sebagai wasilah syirik memang betul, bukan hanya keris, banyak hal juga bisa. Di halaman 508-519 dijelaskan panjang lebar tentang makna filosofis berbagai budaya Jawa itu.

Tapi di novel ini juga dibahas tentang Wahabi yang sering dinyinyir. Intinya penulis keren lah mencoba mempersatukan kedua kubu yang sering guntreng ini. Padahal sama-sama Islam. Satu kutipan terakhir yang ingin saya bagi di sini ada di halaman 519.

"Leres, Kanjeng Sultan. Perbedaan dalam hal cabang tidak boleh menafikan kesatuan pada akar dan batang. Perbedaan yang masih dapat dihitung tidak boleh mengalahkan persamaan yang tidak terbilang. Kita sedang sama-sama membangun sebuah istana peradaban untuk ummat Islam. Akan jadi lucu kalau yang sedang menggali pondasi mengolok-olok yang membuat jendela. Akan jadi aneh kalau yang menyiapkan gentengnya mencaci maki yang menyusun batu-bata. Akan jadi rusak kalau yang memasang ubin lantainya merendahkan yang menautkan rangka-rangkanya."

Dan akhirnya saya pengen ke Jogja. Dari dulu saya diajakin kesana tidak berminat. Setelah baca buku ini, saya jadi pengen ke Jogja. Pokoknya pengen ke Jogjaaaaaaaa. Titik. Pengen ke Jogja, pengen ke Jogja, pengen ke Jogja, pengen ke Jogja, pengen ke Jogja, pengen ke Jogja, pengen ke Jogja, pengen ke Jogja. Beneran titik sekarang mah.

Siap baca? Siapa yang mau dapat buku ini dari saya?  
Yang mau ikut giveaway simak syarat di bawah ini ya.
1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia
2. Follow akun twitter @sinta_legian
3. Share postingan ini dengan hashtag GA #semuabacasangpangeran plus #sangpangerandanjanissaryterakhir dan mention ke akun twitter saya
4. Jawab pertanyaan di bawah ini pada komentar dengan menyertakan nama, akun twitter, domisili, link share dan jawabanmu

Apa makna nasionalisme dan kemerdekaan buat kamu? (Bulan Januari rasa Agustus ya..) 😆

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 19-27 Januari 2020 hingga pukul 24:00 WIB. Pengumuman pemenang akan saya beritahukan di blog ini dan akun twitter. Good luck.

Pengumuman Giveaway:





Selamat kepada Puji Wahyu Widayati. Silahkan kirim alamat lengkapnya melalui twitter ya. 😊


63 comments:

  1. Domisili: Sukoharjo, Jawa Tengah
    Akun Twitter : @alabiiq
    Link Twitter : Lihat labiq, MA. (@alabiiq): https://twitter.com/alabiiq?s=09
    .
    .
    Bismillah.
    Nasionalisme, kata yang biasa kita dengar kalo berhubungan dengan pelajaran kewarganegaraan. Artinya apasih? Kurang lebih Nasionalisme memiliki arti tentang kecintaan warga negara kepada negara nya. Semua warga negara harus memiliki sikap nasionalisme terhadap negara atau bangsanya. Ini adalah tonggak majunya sebuah kedaulatan negara apabila setiap warga memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Dan rasa nasionalisme yang tinggi harus dibangun sejak dini. Tidak bisa secara tiba-tiba muncul dalam diri apabila tidak dibina sejak belia.
    Kemerdekaan. Merdeka adalah bebas dari segala macam tekanan dan tindasan dari pihak luar. Kalo dihubung hubungkan, nasionalisme dan kemerdekaan ini sangat saling berhubungan. Tidak ada kemerdekaan yang diraih tanpa rasa nasionalisme yang tanpa pamrih. Semua berdasar pada hati yang letih ketika ditindas dan tertatih. Maka muncullah rasa nasionalisme yang tinggi dan setia.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berpartisipasi. Ditunggu saja ya nanti pengumumannya. ☺

      Delete
  2. Ustad Salim adalah salah satu penulis favoritku. Pilihan diksinya, penuturannya, itu beda banget dengan penulis2 lainnya. Sungguh romantis.

    Tapi buku ini aku belum baca. Jadi pengen cariiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bacaaaaaa.. Cariiii... Seru ini novelnya. Dan memang pilihan diksi penulisnya khas banget.

      Delete
  3. Racun ini.... ini semacam thriller film yang bikin penasaran untuk untuk nonton. Kalau yang ini bikin penasaran untuk punya dan membaca bukunya. Lumayan tebal juga ya, 600 halaman lebih. Novel sejarah yang dikemas dengan bagus, bisa jadi sarana belajar juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Tapi setebal apapun kalau ceritanya seru bakalan tamat dalam waktu cepat. Udah bilang ke diri sendiri, satu chapter lagi aja, udah gitu bobo. Eh tapi nagih tiap chapternya, ujung2nya baca terus nyampe begadang. Wkwkwk.

      Delete
  4. Salim A Fillah pertama saya baca bukunya itu ang berjudul Agar Bidadari Cemburu Padamu, tahun 2003 kalau tak salah.

    Ternyata nulis novel juga ya. Hehe, baru tau.

    Buku ini bisa dicari di toko-toko buku kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau tidak salah ini novel pertama beliau. Biasanya saya juga baca buku2 beliau yang non-fiksi. Makanya gak nyangka banget pas ada buku ini. Kemungkinan besar sudah ada di toko-toko buku mbak. Saya belum ngecek sih. Di perantauan sini gak ada toko buku, jadi saya beli online. Hehe.

      Delete
    2. Oh, iya. Memang sekarang sangat mudah mencari benda yang kita inginkankan ya mbak, dengan cara online tentu saja.

      Nanti saya cari ah...
      Saya suka novel sejarah. Semacam suatu muatan yang berat, tapi dikemas dengan cara lebih mudah dicerna dan menghibur.

      Delete
    3. Iya,karena di sini gak ada toko buku mau gak mau beli online deh. Kalau pas lagi di Bandung saya suka langsung ke toko buku. 🤭

      Delete
  5. Waduh, saya suka banget sama novel sejarah gini. Saya baru tau kalau ustad Salim juga nulis novel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, suka banget saya juga. Serasa nyata meski dibilang "fiksi". Ini novel perdana beliau kalau gak salah..

      Delete
  6. Nama: Susi Ernawati
    Akun twitter @susierna
    Domisili: Jepara
    url share: https://twitter.com/Susierna/status/1218832208028286979?s=20

    Novel sejarah yang sangat menarik (sekali), benar-benar membuat ingin segera ikut membacanya. Btw, saya mau koreksi dikit. Pada tahun perang Pangeran Diponegoro, di daerah-daerah lain juga berkobar perlawanan sengit. Ada Perang Padri Imam Bonjol, perang di Aceh... Ketiganya adalah perang besar yang dicatat sejarah secara umum. Di daerah lain masih banyak perlawanan-perlawanan kecil tapi seperti batu tajam yang menembus pertahanan Belanda.

    Oh ya, belum jawab pertanyaan tentang makna nasionalisme dan kemerdekaan.

    Buat saya yang lahir pada era merdeka, dengan banyak kesempatan terbuka, maka makna nasionalisme dan kemerdekaan saya adalah berperan aktif dalam memerdekakan pikiran orang-orang di lingkungan terdekat (dekat fisik, dekat hati, atau dekat di dunia digital. Salah satunya dengan menjadi blogger yang tidak akan pernah membagikan kabar yang akan meresahkan masyarakat, seberapa baiknya pun kita meyakini kebenarannya. Untuk masyarakat sekitar, dengan memberi contoh tentang kehidupan sehari-hari yang lebih literate, memperhatikan lingkungan, bergotong royong, saling menjaga tetangga (dari malapetaka seperti bahaya dan pencurian), dsb.
    Jadi versi terbaik saya, itu sudah menunjukkan nasionalisme, dan mewarnai kemerdekaan.
    Begitu.....


    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. Di novel ini juga dibahas. Para pejuang di Jawa meminta orang Sumatera mengobarkan kembali perang terhadap Belanda. Saat itu di Aceh sudah gencatan senjata. Agak miris saat ada oknum di sana yang menolak permintaan para pejuang dari Jawa untuk membatalkan gencatan senjata. Seru deh aslinya.

      Btw, terima kasih sudah berpartisipasi. Ditunggu saja ya nanti pengumumannya. ☺

      Delete
  7. Nama: Hapudin
    Akun twitter: @adindilla
    Domisili: Cirebon
    Link share: https://twitter.com/adindilla/status/1218855921016659968

    Nasionalisme buat saya adalah mencintai negeri sendiri dengan memberikan sumbangsih peran untuk negara agar tetap utuh, damai, harmonis, dan sehat. Saya tidak membicarakan semacam peperangan begitu, melainkan peran kecil saja sudah membuktikan kita cinta pada tanah air. Misalnya, membuang sampah ke tempatnya, tidak menggunakan air dengan mubadzir, tidak membuang makanan, bersikap ramah kepada siapa pun, menghargai perbedaan dalam banyak hal, dan masih banyak hal lainnya, yang kerap dianggap sepele padahal sama punya efek terhadap tanah air. Jangan sampai kita punya pikiran untuk berjiwa nasionalisme harus menunggu jadi politikus dulu, jadi tentara dulu, jadi menteri dulu, keburu basi.

    Sedangkan kalau membicarakan kemerdekaan, selama kita bisa bernafas tanpa harus bayar, selama kita bisa jalan di jalan gede tanpa harus bayar, bahkan selama kita masih bisa membaca buku apapun tanpa dituduh hal-hal buruk, itu sudah bagian dari kemerdekaan. Sekarang ini kita hanya perlu menikmati kemerdekaan yang ada dengan berbagai kegiatan positif. Tapi satu yang sangat penting, kita harus mengetahui sejarah besar para pahlawan dalam memerdekakan negara Indonesia, sebagai wujud syukur karena kita bisa menikmati banyak ketenangan pada masa sekarang.

    Kita bisa ambil peran untuk nasionalis dan menyebarkan kemerdekaan dengan hal -hal yang paling dekat dengan kita, dengan melakukan apa yang kita senangi selama tidak merugikan pihak manapun, dan bisa juga dengan memperbaiki diri dengan mengintip karakter-karakter pahlawan pada masa lalu.

    Bukan begitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berpartisipasi. Setiap orang pasti punya makna yang berbeda tentang suatu hal. Dan gak ada yang salah. Ditunggu saja ya nanti pengumumannya. ☺

      Delete
    2. Mbak ini link terbaru ya: https://twitter.com/adindilla/status/1220322269777387520?s=19

      Delete
  8. Baru tau, gara gara Sultan Agung, suku Jawa baca huruf A jadi O

    Dan banyak orang Jawa memberi nama anaknya dengan huruf O

    Menarik bukunya, nampaknya harus masuk list Buku yang diburu nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, banyak kebudayaan Jawa di dalam buku ini. Banyak juga kalimat2 berbahasa Jawa. Untung ada translatenya di bawah halaman. Selain bahasa Jawa banyak juga bahasa Belanda di buku ini. Saya jadi belajar bahasa2 baru. ☺️

      Delete
  9. Wah menarik ya, novel sejarah ya ini..
    Baca ini jadi lebih mudah belajar kerajaan mataram dan pamgeran diponegoro ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dulu waktu jaman sekolah baca buku sejarah tujuannya kan ngapalin buat ulangan atau ujian. Ini gak usah dihapalin, hapal sendiri nama2, tempat2, dan kejadian penting dalam suatu peristiwa. Efek emosi kita kebawa pas baca,jadi ga usah cape2 dihapal. 😄

      Delete
  10. Sepertinya bagus ya bukunya, belum pernah baca buku yg berlatar sejarah, takut ngantuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini gak bikin ngantuk mba. Malah bikin begadang. Hahah.

      Delete
  11. Dulu waktu SMA pernah baca novel Diponegoro yang diterbitin Diva Press dan itu seru bingitzz. Waktu tahu Ustadz Salim (katanya sejarawan partai tertentu sejahtera) bikin novelnya juga, seneng bangeeett dan pengen punyaa. Sebenernya gemes sih sama resensi Mbak Sinta karna bikin rasa pengen ngoleksi meronta-ronta. Tapi karna ada giveaway jadi mau bilang makasiihh jazakillah Mbaakk.

    Kalo ngomongin nasionalisme, di satu sisi ada yang bilang ini tuh fardhu ain, right or wrong is my country, NKRI harga mati, make America great again, dkk. Di sisi lain, ada yang bilang kalo ini tuh negatif dan memecah belah, yang bener tuh patriotisme, membela semua yang benar, dan melawan negaranya sendiri kalau salah.

    Kita kan umat pertengahan yah, jadi kita tidak memandang nasionalisme dari sudut yang ekstrim. Kita mencintai negara kita, karena di sinilah kita bersujud. Karena inilah rizki yang diberikan pada kita. Dan cinta kita tidak buta, tapi melihat sejernih-jernihnya.

    Karena rasa cinta itulah, kita tidak rela negara kita limbung, bahkan ambruk. Karena rasa cinta pada negara itulah, kita tidak akan membiarkan negara ini diobrak-abrik baik oleh pihak dalam maupun luar. Karena rasa cinta itulah, kita yakin harapan itu masih dan akan selalu ada. Karena rasa cinta itulah, kita mengharap negara ini menjadi seperti sepotong surga di bumi. Berisi orang-orang baik. Penuh cinta dan kebahagiaan. Adil dan sejahtera.

    Dan karena cinta juga kita ingin negara kita merdeka. Seutuhnya.

    Merdeka berarti tidak menghamba pada uang dan kuasa. Merdeka berarti tidak tunduk pada ketakutan atas negara lain yang seolah lebih berdaya, juga tidak takluk pada pengusaha yang menyumpal keadilan dengan harta. Merdeka dari semua cita-cita ilusi, kekayaan yang membunuh bumi perlahan, dan kemakmuran yang hanya dinikmati segelintir orang namun menindas yang lain.

    Dan merdeka akan menjadi awal. Bersatu, berdaulat, dan adil-lah langkah berikutnya. Dan makmurlah ujung jalannya. Dan kita akan melangkah menuju ke sana, karena rasa nasionalisme kita, karena cinta kita pada negara.

    Demikian, dan karena kelihatannya selera kita serupa, saya juga suka genre pertikaian, kelihatannya bakal buka-buka website ini lagi buat cari rekomendasi buku.

    Arina D. Hanifa
    @arinadinahanifa
    Sleman DIY
    https://twitter.com/arinadinahanifa/status/1219541854280019968?s=20

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berpartisipasi. Ditunggu saja ya nanti pengumumannya. ☺

      Delete
  12. Bismillah mencoba ikutan peruntungan novel Ustadz Salim
    Nama : Muhammad Imam Farouq
    Domisili : Wonosobo Jawa Tengah
    Twitter : @faruq_13
    Link Share : https://twitter.com/faruq_13/status/1219788787015802881?s=19

    Jadi sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih kepada Mbak yang sudah mengadakan Giveaway ini, entah mengapa kebetulan sekali sejak satu Minggu yang lalu saya bersilaturahmi ke rumah guru saya dan beliau seperti biasa selalu membicarakan buku terbaru dan merekomendasikan bacaan ini itu sampai beliau memperlihatkan buku yang sedang dibaca yaitu novel karya ustadz Salim. Saat saya baca penulisnya saya langsung kaget, "Ini Ustad Salim yang nulis buku itu pak, yang dulu bukunya selalu dipinjamkan ke saya?" tanya saya, dan Pak Guru menjawab dengan anggukan. Ya...saya kira semua yang pernah membaca buku beliau pasti terpikat oleh bahasa yang digunakan beliau dalam menuliskan kalimat yang ada dalam bukunya. Dulu guru saya sering meminjamkan buku karya beliau yang pertama saya ingat yaitu "Nikmatnya Pacaran setelah Menikah" dan membuat saya jatuh hati dengan buku beliau, dan akhirnya malah saya yang tertarik meminjam buku karya beliau seperti "Agar Bidadari Cemburu Padamu", "Jalan Cinta Para Pejuang", "ingatlah untuk bercermin" dan "lapis-lapis keberkahan" itu beberapa judul yang saya ingat dan saya tidak tahu harus menuliskan seperti apa karena begitu suka dengan kalimat yang dituliskan beliau. Dan saat tahu kalau beliau menulis novel fiksi saya rada kaget, gimana indahnya kalimat yang ditulis, wong non fiksi saja sudah bagus apalagi fiksi. Dan setelah Guru saya menjelaskan panjang lebar yayaya seperti biasa selalu menarik kalau berbicara tentang buku dengan pak Guru saya apalagi beliau benar-benar racun kalau urusan karya Ustad Salim. Mbaknya duhhh racun bener dah semakin membuat penasaran dan pengen baca sendiri.

    Jadi menjawab pertanyaan Apa Arti Nasionalisme dan Merdeka menurut saya.

    Bagi saya Nasionalisme adalah saat saya tidak merasa malu ketika berbicara dengan menggunakan bahasa daerah, Nasionalisme adalah saat dimana saya sadar bahwa saya hidup dan tumbuh dari tanah air yang saya pijak dan saya harus memberikan sesuatu yang berguna untuk membalas kebaikan tanah air yang sudah memberikan saya berkah selama ini. Nasionalisme adalah saat saya bangga melestarikan tari Lengger yang sudah tidak diminati generasi muda, dan saya menerima diejek oleh teman-teman saya demi melestarikan kebudayaan yang bahkan saya sendiri tidak tahu anak cucu saya nantinya bisa melihat atau bahkan melestarikannya. Nasionalisme adalah dimana saat mendengar segala sesuatu yang membanggakan tentang I.N.D.O.N.E.S.I.A. hati kita tergetar dan bangga bahwa kita adalah satu bagian dari urat nadi tanah air tercinta ini. Nasionalisme adalah rasa dimana rasa bangga terhadap bangsa ini sudah mendarah daging dan terpenjara di dalam hati kita.

    Sedangkan Merdeka bagi saya adalah saat saya bisa bekerja menghidupi keluarga saya tanpa adanya ketakutan akan apa yang saya lakukan, saya merdeka bisa menjadi petani, saya merdeka bisa merasakan hasil jerih payah saya dalam bertani, saya merasa merdeka saat saya bisa menggunakan hak saya.

    Merdeka bagi saya adalah saat saya bisa melakukan sesuatu yang saya sukai tanpa adanya intimidasi dari pihak manapun, saya bisa meminjamkan buku kepada orang lain tanpa dituding itu buku sesat karena tidak sesuai dengan ajaran yang ada disekitar saya, merdeka bagi saya adalah saat saya bisa mendiskusikan buku yang saya baca kepada orang lain tanpa adanya ancaman bahwa itu menyesatkan.

    Merdeka adalah rasa dimana kita merasa aman dengan segala sesuatu yang kita lakukan dengan hati kita yakin bahwa kita melakukan kebenaran dari yang kita lakukan. Merdeka adalah dimana Hak kita secara pribadi dan masyarakat bisa digunakan dan orang lain tidak bisa menggugat hak yang sudah melekat pada diri kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, gaya bahasa beliau bikin yang baca seperti terbang melayang-layang. Hihihi.

      Btw, terima kasih sudah berpartisipasi. Ditunggu saja ya nanti pengumumannya. ☺

      Delete
    2. siap kak, memantau terus tiap hari komentar yang masuk, selalu klik blog kakak terus tiap hari ini hehehe

      Delete
    3. Nanti aja pas udah deadline tgl 27 atau tgl 28. Saya umumkan sekitar tgl segitu.

      Delete
  13. Terimakasih untuk resensi yang semakin membuat saya semakin penasaran kak, dan maaf kemaren salah Hastag jadi saya ulangi lagi, dan saya komentar sesuai link share yang baru, barangkali nanti di cek... terimakasih kak... semoga doa saya diijabah untuk mendapatkan kesempatan membaca novel ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ok, saya hapus aja komentar sebelumnya ya, biar ga double. 🙂

      Delete
    2. iya kak yang kemaren dihapus saja, ganti yang baru, cuma beda link Share saja kok

      Delete
  14. Buku ini menarik banget tapi beraaattt.
    Appreciated banget sama penulis dan tentunya yang bikin resensi ini karena asli keren banget.
    Sebab, genre seperti ini beneran nulisnya butuh riset dan banyak referensi.

    Kapan ya terakhir kali membaca buku seperti ini? Sudah lupa banget....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi lebih berat baca buku sejarah jaman sekolah mbak. Wkwkwk. Justru bahasan berat begini dibikin novel jadi ringan dibacanya. Dan pesan atau amanat dalam pelajaran sejarah jadi tersampaikan. Memupuk jiwa nasionalisme banget nih. Hehe.

      Delete
    2. Bener sih lebih berat buku Sejarah jam sekolah..tapi beneean Mbak..aku aku baca begini yang jujur mulai memupuk interest Sejarah agar ga malu kelak kalau ditanya anak masih terasa berat jadi ada bagian-bagian yang emang secara sengaja bacanya aku aku ulang.

      Kesalutan saya itu dulu sama Mbak Susi yang demen nulis Sejarah juga Mbak ngoEvi bahkan
      porin kami juga.

      Karena lingkaran teman dekat demen sejarah, pelan2 saya pupuk juga interest terhadap Sejarah.

      Delete
    3. Kalau ditanya anak ada gak tau tinggal googling saya mah. Hihihi. Tapi bagus ya kalau kita interest sama sejarah. Pembelajaran paling penting dari sejarah adalah agar hari ini kita bisa lebih baik dari kemarin, agar besok bisa lebih baik dari hari ini, dan tidak mengulangi kesalahan2 yang sudah berlalu.

      Delete
  15. Wahhhh, ga punya twitter haha
    Keren mbak, pengen baca juga bukunya hehe

    ReplyDelete
  16. Waaahhh, enggak suka baca yang berdarah-darah Mbaaa.
    Nonton aja nggak berani, apalagi baca, soalnya saya sering lebih meresapi baca novel ketimbang nonton.
    Ih kebayang-bayang entar :D

    Bagaimana kalau saya ikutan ke Jogja aja? Ayo kita ke Jogja, jogjah...jogjahhhh hahahaha.
    Saya bantu share ya, banyak nih yang mau ikutan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh itu Jogjanya pake H. 😅
      Iya silahkan dishare, terima kasih Mba. 😁

      Delete
  17. Whaaa, kalo Salim A Fillah yg nulis pastinya cethaaarr ya Mba
    Aku suka sastrawi gaya beliau

    ReplyDelete
  18. harus twitter ya mba utk dpetin nya? :( saya ga main twitter nih hu

    ReplyDelete
  19. Menarik yaaa pelafalan vokal A dan O dalam bahasa jawa ternyata asalnya dari sana. Kayaknya buku ini kalo difilmkan keren ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sepertinya bagus. Tergantung casting juga. Kalau yang mainnya bagus, dan gak ada yang dipotong2 ceritanya, bagus baguuus. Wkwkwk.

      Delete
  20. Ayo ke Jogja, Mbak. Rugi belom pernah ke sana haha #ratjun
    Selalu suka fiksi sejarah, sampai kadang bayangin itu nyata dan mereka-reka ada beneran enggak sih tokohnya.
    Dulu suka baca fiksi sejarah Islami di Majalah Ummi
    Kalau Ustad Salim A Fillah aku belum pernah baca bukunya, tapi tulisannya di media sudah beberapa kali baca.
    Dan novel ini sungguh bikin penasaran
    Dari judulnya saja bikin kepo, janissary.
    Apalagi kalau aku yang orang Jawa baca, pasti agak paham dengan istilah yang ada ya...Duh jadi wishlist buku nih keknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Aslinya dulu gak minat ke Jogja padahal suami ngajakin terus. Saya mikirnya destinasi wisata di Jawa Barat masih banyak yang belum dikunjungi (emak2 mikirin anggaran cari destinasi wisata terdekat, wkwkwk). Eh pas udah baca novel ini malah saya yang ngajak dia ke Jogja. Kalau orang Jawa baca
      novel ini gak usah baca translate bahasa Jawa di bawah tiap halaman. Banyak banget dialog yang pake bahasa Jawa.😆

      Delete
  21. Rame juga yang ikut GAnya. Keder duluan mau ikutan juga. Hehehehe. Aku salah seorang pecinta sejarah. Tapi gak suka baca buku, sukanya diceritain orang aja. Suka ke Museum atau tempat peninggalan sejarah juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, saya juga jadi ingin ke keraton, museum benteng, gua selarong, dan latar tempat lain di buku ini. Pengen napak tilas perjalanan Sang Pangeran gituh. Seru kayaknya. Hihihi.

      Delete
  22. Pantesan seorang Diponegoro gelarnya "Pangeran" ya soalnya enggak mau menerima kekuasaan sebagai sultan/ raja. AKu baru tahu juga hehe.
    Bikin novel kyk gini kebayang ya risetnya :D
    Ya memang zaman dulu Islam kan masuknya lewat semacam penggabungan sama budaya yang udah ada, makanya terkenal sangat ramah dan gak maksa org hars paham dengan cepat ya.
    Jd penasaran pengen baca sendiri bukunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya risetnya nyampe 2 tahun. Sampai2 penulis riset ke Turki juga sebagai salah satu latar tempat di novel ini.

      Delete
  23. Wahhhh dilihat dari ceritanya sangat menarik sekali yaa.. Banyak sejarah sejarah dan info info seru didalamnya.. Jadi pengen ikut Giveaway bukunyaa, kira kira pemenangnya dipilih berapa ya kak.. Kulihat diatas udah banyak banget yang ikut huhuhu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dipilih satu aja. Bukunya cuman ada satu ini tuh. 😂
      Tapi dikocok da, jadi setiap yang ikutan punya peluang. Kalau beruntung ya namanya yang keluar. Maktuub.. Hihihi.

      Delete
  24. Nama: puji Wahyu Widayati
    Akun Twitter: @widaaya
    Domisili: Riau
    Link share: https://twitter.com/widaaya/status/1221301952828465152?s=09

    Salam kenal mbak, menarik sekali resensinya. Kebetulan saya juga suka novel-novel sejarah. Menarik menurut saya seperti menelusuri lorong waktu.

    Nasionalisme menurut saya adalah rasa cinta terhadap bangsa dan negara. Karena kota warga negara Indonesia tentu saja kecintaan itu kita tujukan untuk negara Indonesia. Apapun yang terjadi dalam negara harus tetap kota bela. Jangan sampai asing menguasai negara kita bahkan dengan cara halus sekalipun. Salah satu hal mudah yang dapat dilakukan dalam mewujudkan nasionalisme adalah menggunakan produk dalam negeri, meski hape masih pakai produkan Sono wkwkwkwk. Tapi dengan mengurangi barang-barang impor ketergantungan kita terhadap negara lain juga akan berkurang.

    Sedangkan kemerdekaan adalah kebebasan dalam bertindak. Tindakan yang dilakukan selama tidak melanggar aturan agama dan hukum bisa dilakukan tanpa terikat dengan orang lain/bangsa lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berpartisipasi. Ditunggu saja ya nanti pengumumannya. ☺

      Delete
  25. nasionalisme adalah...
    ahaha jd serasa dah bulan agustus. saya telat bukanya nih, hiks gagal ikutan giveaway deh. padahal saya suka yg berbau sejarah seperti bacaan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti ikutan lagi aja kalau ada giveaway selanjutnya. 🤗

      Delete
  26. Selamat buat pemenang, tak kira pemilihannya berdasarkan jawaban, ternyata pakai kocokan, meskipun jawaban saya bukan yang terbaik tapi semoga kedepannya pemilihan pemenang berdasarkan jawaban, terimakasih sekali lagi kak atas resensinya, racun pokoknya...semakin membuat saya penasaran dan semoga suatu saat nanti bisa membaca novel karya Ustadz Salim...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, biasanya saya memang pilih pemenang giveaway berdasarkan nama pertama yang keluar dari kocokan. 🤭 Karena pertanyaan yang saya ajukan di tiap giveaway adalah pertanyaan subjektif bukan objektif, jadi pasti tiap jawaban benar karena setiap orang punya pemahaman masing2. Dan saya bingung kalau harus milih jawaban terbaik karena buat saya semua jawaban teman2 adalah jawaban terbaik. Hehe. Semangat ya, semoga bisa baca novel beliau, insya Allah pasti bisa. Nanti kalau ada giveaway selanjutnya, ikutan lagi aja, siapa tau beruntung. Dengan buku yang berbeda tentunya. 😁

      Delete
  27. yaaa aku penasaran banget bukunya kak
    giveawaynya udah tutup ya, hiks moga lain kali bisa ikutan. aamiin

    ReplyDelete